
Sadam membawa teman-temannya singgah kerumah. Di depan gerbang yang terbuka sendiri itu memperlihatkan rumah megah berciri khas adat bertebaran burung gagak di atasnya. Hawa dingin melebur menusuk kulit, Mereka menggidik, mata melotot sesekali menjerit terkejut menyaksikan penampakan aneh saat turun dari mobil.
“Hantu!” pekik Toyo.
“Mana ada hantu! Mungkin kau salah lihat” ucap Afif meneruskan langkah.
Kedatangan mereka di sambut hangat oleh para pekerja yang berbaris rapi di depan pintu. Ornamen bangunan berciri khas adat, kepala mereka berputar melihat isi di dalam rumah Sadam. Mereka di persilahkan masuk, di dalam ruangan ke empat temannya tidak henti berkeliling memandang berbagai macam kepala hewan yang menggantung di dinding.
“Mohon maaf, den Sadam di panggil nyonya besar” ucap si mbok.
Sadam mengangguk berjalan menaiki anak tangga. Dia sudah siap jika mendapat murka dari sang ibu. Dia menunduk tidak berani membalas tatapan Tolu, di ruangan rahasianya wanita itu menahan pukulan yang sudah membakar jiwanya. Ini adalah pertama kali anaknya tidak bisa di atur, Tolu menahan amarah hanya menarik telinga kiri Sadam hingga memerah.
“Aduh! sakit bu! Ampun!” ringisnya melirik sedikit wajah Tolu yang terlihat mengerikan.
“Saut ho nuaeng naung gabe anak na jugul?”
(Jadi kau sekarang sudah menjadi anak yang nakal?)
__ADS_1
“Maaphon Au ina”
(Maafkan aku bu)
Amarah yang sedikit mereda, sosok Tolu menasehati Sadam dan berharap tidak mengulangi kesalahannya lagi. Mereka menuruni tangga bersama-sama, Sadam menggandeng tangan Tolu kemudian dia memperkenalkan kepada teman-temannya. Masing-masing dari mereka menyebutkan nama dan berjabat tangan. Terasa tangan Tolu sangat dingin di tambah tatapan mata yang mengerikan membuat mereka menjadi takut melihatnya.
“Kalau begitu tante tinggal ke atas ya, silahkan di nikmati hidangan makan malamnya.”
“Terimakasih tante” jawab mereka serempak.
Menu hidangan yang tersaji semuanya serba daging, bahkan sayuran hijau setengah matang di campur daging setengah matang pula. Cangkir batu dan satu keranjang daun sirih menjadi pusat perhatian mereka. Lilin-lilin besar tersusun di tengah-tengahnya, para pekerja dengan sabar melayani hingga membantu menuangkan air di dalam gelas.
Mira ikut berdiri mengangkat piring-piring kotor di atas meja. Mereka yang terus memaksa sehingga para pekerja yang mendampingi acara makan malam mereka hanya bisa menerimanya di sela rasa sungkannya.
Di dapur yang luas itu cukup jauh dari ruang makan. Mira seperti sedang di amati oleh sosok yang berdiri di sampingnya. Dia semula berpikir bahwa tadi ada Ita sampai sosok itu benar-benar dekat menghembuskan tiupan dingin di lehernya. Gelas terjatuh ke lantai, suara pecahannya terdengar oleh Ita yang baru keluar dari kamar mandi.
“Hati-hati dong Mir.”
__ADS_1
“Aku tadi melihat ada sosok di sebelah kiri ku ini.”
“Hussh, jangan buat aku takut deh! Cepat kita bersihkan pecahan gelas ini.”
Ani yang tiba-tiba berdiri di belakang mereka membuat keduanya menjerit karena berpikir dia adalah hantu. Dia pun ikut menjerit sampai Sadam dan yang lainnya menghampiri mereka.
“Ada apa?” tanya Afif.
“Nggak ada apa-apa, tadi ada tikus!” ucap Mira.
“Ya benar, di sebelah sana” tunjuk Ita.
“Maaf den” Tina pergi mengambil sapu membantu membersihkan sisa pecahan kaca.
“Sudah tidak apa-apa bi.”
“Teman-teman, ayo kita ke ruangan tengah.”
__ADS_1
Sadam membawa mereka menuju ruangan yang biasa menjadi tempat perkumpulan keluarganya. Toyo melihat patung berbentuk ular mengeluarkan sinar merah di matanya.
“Sadam, patung ular itu seperti__” ucapnya memutuskan kalimat.