Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Kafir


__ADS_3

“Apakah kau masih sanggup menjalani ritual ini?” tanya si dukun.


Darahnya sudah di korbankan, dia tidak bisa berjalan mundur atau berbalik arah. Tekad kuat membunuh Tolu dan menyakiti semua orang di dekatnya setelah kematian neneknya. Tidak ada yang perlu di obati untuk penyajian ritual ghaib. Sekalipun luka dan rasa sakit bisa menjadi penyakit. Setelah membaca mantra terakhir, seekor lintah gemuk masuk ke dalam luka Norman. Dia menggeliat menggerogoti darah dari dalam.


“Arggh!” kembali Norman menjerit kesakitan.


Dari balik tubuhnya keluar sosok yang menyerupai dirinya terbang mencari Tolu.


Wanita dukun sakti itu membelalak mata merasakan serangan ghaib. Dia menyalakan dupa, memejamkan mata mengeluarkan suara erangan. Dia merasakan hawa sosok lain yang memiliki ilmu hampir setara dengannya. Di tambah pengorbanan yang di lakukan untuk menerbangkan sihir menyerangnya membuat dia sedikit kesakitan.


“Harum jiwa manusia yang akan di tumbalkan!” gumam Tolu memejamkan mata.


Dia melepaskan badan halus menemui sosok dukun yang menantangnya. Di dalam dimensi lain, peperangan dua ilmu hitam beradu membakar dahan dan ranting pohon di hutan. Norman yang masih telentang lemas tidak berdaya. Dia tidak tau bahwa dirinya di jadikan tumbal sebagai alat mediasi menyerang Tolu. Niat membunuh dan melukai Tolu beserta keluarga berakhir menjadi kematian perlahan pada dirinya sendiri.


“Mau apa kau? Aku tidak berniat melawan mu” ucap Tolu.


“Hahaha, jangan jadi sosok iblis yang munafik, aku tau kau sudah mengorbankan manusia demi ilmu yang kau miliki itu.


"Terimalah serangan ku!” ucapnya menggelegar.


Tolu tidak ingin menyakiti pria muda itu, dia hanya menepis semua serangannya. Hingga batas kesabarannya habis ketika kakinya terkena bakar api yang di lempar oleh si dukun. Dia membalikkan semua serangan secara bertubi-tubi, jari dan kuku setan mencekik leher mengangkat dengan satu tangan.

__ADS_1


“Sekalipun hanya badan halus ku yang menyerang mu maka, hanya satu sentuhan saja kau akan sekarat. Apakah kau akan tetap menyerang ku?” tanya Tolu memberikan peringatan.


Darah pria muda yang tidak bisa menstabilkan emosi itu membuat dia terbawa dalam kehancuran, ilmunya terbakar dan hancur. Wajah berubah menjadi tua dan buruk rupa, dia menjerit kesakitan menahan luka bakar pada kulitnya. Badan halus mereka kembali ke tubuh masing-masing, dukun itu mengeluarkan muntahan darah karena kehilangan tenaga dalam dan setengah ilmu yang telah hancur.


“Uhuk, uhuk” batuk dan darah tanpa henti.


Dia merangkak mengambil keris yang dia simpan pada sebuah kendi yang di balut dengan kain hitam. Mengeluarkan keris, melepaskan kekuatan akhir untuk menghabisi Tolu. Dia menancapkan keris di perut Norman. Sosok lain masuk ke dalam tubuhnya, salah satu tangannya yang puntung tersambung tangan setan yang bercabang dua. Norman menjadi manusia iblis berjalan menghilang menembus jerami menyerang Tolu.


Tepat di samping wanita itu ada Togar yang sedang meneguk segelas air, minuman berubah menjadi darah dan cacing. Menyadari ada sesuatu yang menggeliat pada tubuhnya, tolu mengeluarkan dari dalam mulutnya. Tolu mengepal tangan melihat suaminya menjadi sasaran empuk si dukun muda yang tidak mau habis mengajak berperang. Dia mengambil keputusan untuk melenyapkan pria itu dengan satu tarikan sihir mantra.


“Mati!” gumamnya mematahkan urat leher si pria dukun.


Jiwa Norman ikut melayang setelah si dukun tiada. Selesai menghabisi orang-orang penganggu. Tolu mengajak Togar merebahkan tubuh di atas sofa. Dia memercikkan air yang sudah di isi dengan mantra, sisa di gelas di minta untuk di minum sampai habis. Isi perut yang masih bergejolak itu kembali normal. Togar beranjak menggendong Tolu masuk ke dalam kamar. Pemandangan langka itu di saksikan oleh si mbok dan Mariam, mereka saling menatap berbalik arah sambil tersenyum.


“Aku hanya merasa ingin lebih dekat dengan mu. Sekujur tubuh ku terasa mati rasa, tetap disini dan jangan tinggalkan aku” kata togar.


Sebagian jiwa Tolu masih di kuasai setan, dia melepaskan para penjaga tubuhnya agar tidak sampai melakukan hal yang tidak di inginkan. Memastikan Togar sudah terlelap, Tolu perlahan keluar menutup pintu keluar ke halaman rumah bagian belakang. Dia menggali tanah, mengubur serpihan rambut Togar dan rambutnya yang sudah di ikat dengan menabur bunga di atasnya.


“Kali ini tidak akan ada lagi serangan sihir secara mendadak yang mengenai tubuh mu sebelum melewati ku atau terkena ku terlebih dahulu” gumam Tolu.


Segala cara dia lakukan untuk sosok peran pendamping yang dia cintai itu. Malam satu suro di manfaatkan sebaik-baiknya itu mengasah ilmu dan mencuci gaman. Cahaya ruangan persemedian yang berkedip remang membias pandangan redup. Banyak sosok asap dan jin bergentayangan, Tolu menyalakan sebatang lilin raksasa di setiap sudut ruangan.

__ADS_1


...----------------...


Di dalam kamar mandi, Ani mencoba mengambil air wudhu kembali. Panas rasa air pancuran yang mengenai tubuhnya. Dia melawan rasa membakar, melanjutkan mengambil air wudhu hingga tuntas. Dia mengenakan mukenah, membentang sadajah berdiri menghadap kiblat. Sampai pada gerakan duduk di antara dua sujud, Ani mengerang kesakitan. Suara bernada kuntilanak menangis meminta ampun. Dia merangkak menaiki tembok. Kepala menggantung di langit-langit kamar seperti bentuk posisi kelelawar.


“Astagfirullah, non Ani!” ucap si mbok.


Tolu yang mendengar suara gaduh menemukan sang kakak sudah kerasukan. Sosok lain yang merasuki tubuhnya langsung menghilang. Dia terbanting ke lantai, Tolu mengangkat Ani menuju kamarnya sedangkan si mbok di minta menaburkan garam di sekeliling ruangan.


“Kakak, kau sudah berjanji pada ku akan baik-baik saja. Lihatlah sekarang, aku sudah tidak menjaga mu lagi” gumam Tolu.


Wanita itu masih memakai mukenah, dia membuka mata sekali lagi.


“Adik, tolong tinggalkan aku sendiri” ucap Ani.


...----------------...


Di dalam sujud terakhir, Tohfa mengangkat kedua tangan. Dia meminta kebaikan untuk Ani dan ketetapan hatinya memilih gadis itu untuk di persunting. Terkadang dia merasakan panas bagai larva gunung api meletus. Dia mendengar kisah tentang keluarga Ani, terutama kakaknya Tolu yang sangat di takuti oleh para warga kampung di sisi kiri karena keganasannya yang pernah membunuh dukun Siria. Semua itu tetap dia kesampingkan, berharap Ani terlepas dari belenggu setan.


Pesan terakhir pak Don yang meminta kepada ustad gersan untuk menyelamatkan anaknya dari mimpi buruknya. Keinginan tersulit untuk di lakukan terhitung Tolu sudah menjadi manusia sesat dan Ani masih belum bisa terlepas dari rantai setan.


“Tohfa umur ku sudah semakin menua dan layu, aku tidak akan bisa pergi dengan tenang sebelum mengabulkan keinginan almarhum pak Don walau kita hanya bisa menyelamatkan satu orang saja.”

__ADS_1


Perkataan ustadz Gersan masih terngiang di telinganya.


__ADS_2