Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Melamar Mira


__ADS_3

Togar membanting pintu, dia tidka mengijinkan anaknya masuk. Dia menyelimuti tubuh Tolu, suami yang sudah mengenal dan mengetahui rahasia luar dalam sang istri itu pun berlari menarik laci lemaci kecil berwarna coklat. Di kamar yang luas, Tolu menempatkan laci khusus benda-benda ghaib, keperluan berkaitan akan klenik.


Mengambil bungkusan hitam berisi daun sirih dan perlengkapan mengemban. Dia mengingat-ingat lagi cara sang istri meracik menjadi satu kunyahan.


Togar meletakkan tiga lembar sihir di atasnya sudah terdapat isi dari keranjang kecil. Dia mengunyah sampai *****, memeras air perlahan memasukkan ke mulut Tolu. Dia masih belum tersadar juga hingga pertahanan pengetahuan mengenai darah segar yang sering menjadi pengobat sang istri. Stok daging dan darah ayam cemani yang biasa dia sediakan habis di dalam kulkas.


Tubuh Tolu sudah tegang, kaku dan dingin. Wajah memucat, bibir terkelupas, suara-suara aneh keluar dari tubuhnya. Togar tidak mau kehilangan Tolu, dia meraih pisau silet mengirs ujung jarinya sendiri, tetesan demi tetesan masuk meneguk darah segar suaminya sendiri. Beberapa menit berlalu Tolu tersadar.


“Ayo sekarang kita ke rumah Mira” ucapnya berdiri tegak menggandeng tangannya.


Di depan pintu ada Togar menekuk kaki berlutut meminta maaf kepada kedua orang tuanya. Tolu meminta dia untuk bersipa-siap, pada malam itu juga mereka akan berkunjung ke rumah Mira. Dia ingin menanyakan wajah babak belur anaknya. Setelah mengetahui bahwa semua luka-luka itu berasal dari Togar maka dia hanya terdiam tidak mau membuat anaknya mendapat pembelaan dan menjadi besar kepala.


Baju adat kain sutera bersulam benang keemasan, tusuk konde pemberian ibu Mawarni dan beberapa aksesoris bunga kamboja merah jambu menghiasi selipan sanggulnya. Tolu membawa tiga kotak perhiasan, mahar, uang sinamot dan uang keperluan pesta. Togar melajukan mobil kencang secepatnya sampai ke rumah si calon besan. Dari luar suara tangisan Mira terdengar sedu-sedu.

__ADS_1


Bunyi bel, suara ketukan terlalu menyambut kedatangan mereka. Salah satu pekerja rumah mengintip dri sela pintu melihat siapa tamu yang datang di waktu hampir menunjukkan pukul tengah malam. Pekerja itu mengetuk pintu kamar.


“Ada apa mbok?”


“Maaf nyonya, ada tamu.”


“Malam-malam begini?”


“Anu nya__ pemuda tadi siang yang datang ke rumah membawa orang tuanya.”


“Permisi!”


Togar menggenggam tangan Tolu mengacuhkan Togar yang menempel di pundaknya.

__ADS_1


“Berani-beraninya anak nakal ini bertingkah manja setelah membuat malu keluarga! Aku saja dahulu sangat susah mendapatkan ibu mu!” gumam Togar.


“Eh tuan Togar, nyonya Tolu dan Sadam. Mari masuk.”


Pembicaraan panjang membahas masalah pernikahan di tengah malam. Untaian kata seperti hari esok saja, Tolu mensegarakan niat baik pada malam itu juga menyerahkan semua mahar, uang pada orang tua Mira.


“Pak, bu, kalau semua ini belum cukup maka besok kami akan membawa sesuai keinginan bapak, ibu dan Mira” ucap Tolu.


“Mohon maaf sebelumnya kami martandang di malam hari. Hal ini sangat mendesak, kami berharap bapak dan ibu tidak keberatan” kata Togar.


Sadam ikut bersalaman keluar pintu sedangkan Mira sengaja tidak di bangunkan. Penikahan yang di tentang orang tua Mira terpaksa mereka setujui mengingat suatu hal yang mereka takuti setelah kedatangan kedua orang tua Sadam.


Jin merah Sadam menyeringai meninggalkan Mira. Dia yang andil bermain peran merasuk menjadi bagian hidup Sadam semasa dia dari kecil.

__ADS_1


__ADS_2