
Suasana di padepokan tampak hening, seorang wanita yang tidak ikut ke dalam kegiatan pengajian itu mengetuk pintu kamar Ani. Kamar khusus wanita yang terdapat lima kamar saling berhadapan pada setiap lantainya. Tempat itu terbuat dari kayu jati yang di beri penerangan lampu pijar di tata degan sangat apik dengan kendi-kendi besar yang terdapat di kamar mandi yang luas terpasang keran sebagai air tempat mengambil air wudhu.
Tok, tok (Ketukan pintu kembali)
Ani membuka sedikit pintu kamarnya, seorang wanita memakai kerudung putih mengernyitkan dahi memperhatikan keadaan wajah dan kulit Ani tampak sangat keriput dan gosong. Semula dia berpikir bahwa usia Ani berumur lima puluh tahun.
“Apakah nenek baik-baik saja?” tanya Tika.
“Maaf sebelumnya panggil saja aku Ani. Aku berusia tiga puluh tahun” ucapnya mengulurkan jabatan tangan.
“Oh maaf, aku salah sangka. Kenalin aku Tika, aku juga berusia seperti mu. Apakah kamu orang baru disini?”
“Ya, aku baru saja datang hari ini,” jawab Ani singkat.
Dia langsung menutup pintu, Tika hanya menghela nafas lalu menggeleng kepala kembali ke kamar. Ani terus memandang cermin kecil yang terpasang di kamarnya. Dia menepuk-nepuk pipinya mendekatkan wajah memperhatikan kelopak maa menghitam cekung mirip wanita tua renta yang penyakitan.
“Inikah efek setelah mencoba kembali lagi ke jalan putih? Aku masih belajar berhijrah tapi sisa rantai hitam tetap mengincar memberi tanda di diriku” gumamnya.
...----------------...
Menunggu Seto di depan teras, Bram menghabiskan dua cangkir kopi berlanjut melipat surat kabar. Dia memanggil Dadar agar melihat Seto di kamarnya. Secepatnya Dadar berlari memberitahu bahwa Seto sedang kesurupan mencakar-cakar ubin dengan jari tangannya hingga terluka.
“Kenapa bisa begini? Hei Seto sadar lah!” bentak Bram.
Setelah kembali dari kuburan keramat dan memukuli dukun Kartim. Pria itu banyak di serang makhluk halus dan kesurupan di tengah malam. Hari ini di depan mata Bram, dia meneruskan cakarannya menggesek tanah hingga jemari menampakkan tulang dan daging yang terkelupas.
Bram dan Dadar menghalanginya meneruskan cakaran, tenaga Seto sangat kuat sehingga mereka terbanting. Si mbok dan Mariam yang mendengar suara gaduh terkejut melihat tingkah pria itu. Si mbok berlari menyiram sebotol air ke wajahnya. Seketika Boas jatuh terduduk membuka mata lebar menatap kedua tangannya.
“Kenapa tangan ku sakit sekali? Argghhh!” jerit Seto kesakitan.
Bram meminta Dadar dan Toto segera membawanya ke Rumah Sakit. Sepanjang perjalanan, Seto meraung kesakitan karena daranya deras mengalir dari jari tangan.
__ADS_1
“Arggh!”
“Tenangkan diri mu, sebentar lagi kita akan sampai!” ucap Toto ikut gelisah.
Beberapa meter lagi meter lagi mereka sampai tapi Seto sudah menunjukkan kelakuan aneh. Dia memukul tangannya sendiri ke kaca mobil. Toto terpaksa menepikan kendaraan menghentikan tingkah Seto semakin brutal.
“Arggh! Aku tidak bisa mengendalikan gerakan tangan ku!” ucap Seto.
Dia menusuk bola matanya sendiri, menekan lebih dalam dan mencabut bola matanya sendiri dari kelopak mata. Dadar dan Toto histeris ketakutan, mereka menelepon Bram. Akan tetapi ketika panggilan sudah terangkat, ponsel terjatuh karena Toto mencekik lehernya sendiri. Panggilan itu masih di angkat oleh Bram, dia mendengarkan isi percakapan tersebut.
“kau harus bisa mengendalikan diri mu sendiri!” ucap Dadar bernada kecil.
Dia berhasil melepaskan cekikan. Dadar dan Toto berlari meninggalkan mobil mencari pasar lintas besar atau kendaraan siapapun yang melintas disana. Mereka ketakutan melihat Seto berhasil mengejar walaupun sepasang matanya telah tiada. Kaki tidak bisa di gerakkan terduduk pasrah jika harus di bunuh olehnya. Dadar mengetahui jika Seto pasti sedang kesurupan makhluk halus. Ketika cakaran kuku lancip akan merobek wajahnya. Seto tiba-tiba berhenti bergeliat posisi berbaring di sisi jalan yang sepi. Dadar Toto setengah mati mengangkatnya menuju ke kendaraan kembali. Setelah mengurus administrasi, mereka menghubungi Togar dan mengatakan semua hal yang terjadi.
...----------------...
“Opung, apakah opung mencari ku?”
“Tolu? Sejak kapan kau tiba nak?” tanya Parman.
Selangkah dia mendekatinya, sebuah benda asing jatuh dari atas langit-langit ruangan. Parman berjongkok mengamati benda tersebut, dia sangat kaget melihat bentuk segumpal darah yang berdetak berubah menjadi sosok makhluk merah melompat ke pundaknya.
“Arghh! Arghh! Pergi!” teriaknya.
Parman menuruni tangga, semua para pekerjanya hanya terdiam berdiri memperhatikannya tampak ketakutan. Dia meminta supir untuk mengantarnya ke suatu tempat, Parman menyalakan layar ponsel memanggil panggilan Bram.
“Assalamu’alaikum, ada apa yah?”
“Bram, kau dimana?”
“Aku di rumah, apa ayah memerlukan sesuatu? Biar Togar yang kesana?” tanya Bram.
__ADS_1
“Tidak, aku sedang dalam perjalanan ke rumah mu.”
Sesampainya di rumah Bram, Parman yang belum sempat berganti pakaian kerja itu hanya melonggarkan sedikit dasinya. Dia sangat berkeringat masih mengatur nafas sebelum menceritakan hal yang dia alami.
Hari ini seharusnya adalah acara tiga hari untuk Tohfa di rumahnya. Tapi Jagad sedang duduk di samping tempat tidur Sekar berharap sang istri segera sadar. Perlahan mata Sekar terbuka menatapnya, dia menangis pilu batinnya masih merasa kehilangan sang anak. Penyakit jantungnya telah kambuh dan kini tubuhnya sedang struk sebelah. Stef tiba di sisi kanan memeluk sang kakak dan mengusap air matanya.
“Kakak, apakah kakak tidak mau mendoa’kan Tohfa? Kakak jangan terlalu banyak pikiran” ucap Stef.
“Bang, besok aku akan mengajak Ani dan Tolu kesini” ucap Stef.
Mendengar nama Tolu, mata Sekar melotot, ekspresi gerakan tubuh mengisyaratkan kegelisahan. Stef membenarkan posisi badan sang kakak lalu memintanya agar tenang. Mantan ibu mertua Ani yang sangat membenci dirinya dan seluruh keluarganya itu kini menganggap mereka adalah musuh baginya.
...----------------...
Pagi-pagi sekali Stef datang ke rumah Tolu, di rumah para pekerja sibuk melakukan pekerjaannya. Si mbok mempersilahkan dia masuk dan menunggu di ruang tamu. Keliling pandangan wanita itu mengamati setiap benda yang terdapat disana. Pandangan beralih pada sebuah patung yang seolah menatapnya, perahan patung itu bergerak sendiri. Stef beranjak dari kursi, dia berlari ke dapur menyusul si mbok.
“Ada apa non?” tanya si mbok.
“Aku hanya ingin ke toilet. Oh iya, apakah Tolu masih lama menemui ku? ”
“Toilet sebelah sana dan non Tolu masih__” si mbok menghentikan perkataan ketika melihat Tolu berdiri di depan pintu.
“Kakak, sudah lama aku tidak melihat mu lagi. Apa kabar?” sapa Tou menaikkan senyum tipis.
“Kabar ku kurang baik, ayo kita ke ruangan sana” ajak Stef.
Dia menceritakan kabar Sekar dan mengajaknya besama Ani untuk pergi ke rumah sakit. Akan tetapi Tolu masih mengunci kenyataan bahwa Ani pergi dari rumah dan sampai kini tidak ada yang mengetahui keberadaannya.
“Dimana Ani?” ucapnya kembali.
“Kak Ani sedang ke kantor, hari ini dia ada pertemuan penting dan kemungkinan akan pulang larut malam” kata Tolu menutupi.
__ADS_1