Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Mengincar


__ADS_3

Setelah berjam-jam mencari, mereka tidak menemukan jejak Geri dan Jon. Langit semakin gelap, Saat akan kembali tiba-tiba jalan setapak maupun pepohonan yang biasanya mereka telusuri berubah menjadi asing. Seolah langkah kecil berputar-putar di tempat yang sama. Dari arah belakang, Bromo hadir mencekik Duke lalu menariknya ke dalam semak belukar.


“Arggh! Arghh!” suara Duke sebelum menghilang.


Dedi menoleh, menyadari Duke tidak ada di belakangnya. Dia mendengar suara jeritan tadi, rasa takut tidak terkendali berlari pontang-panting sambil berteriak memanggil temannya itu. Siapa yang mengira, Bromo menjadi liar, dia membunuh Duke di balik semak dengan kedua tangan yang kosong. Dia merengguk darah, mengeluarkan isi organ perut Duke. Suara decap gigitan menyantap organ segar manusia. Darah ilmu hitam, tidak bisa di pungkiri penerus ilmu klenik turun temurun tanpa di sadari menuntunnya terperosok ke lembah hitam.


“Hahahahh” tawanya.


...----------------...


“Apa yang sedang engkau pikirkan?" tanya Togar sedikit terkejut.


Menyadari sang istri tiba-tiba berdiri di sampingnya. Gaun hitam berkibar tertiup angin wajah pucat, bekas perban berjatuhan di lantai. Hari ini dia tidak memakai tusuk konde maupun baju ciri khas kesukaannya.Penampilan sang istri yang menakutkan di pendam Togar tertahan mengingat dirinya adalah pendamping sang dukun sehidup semati.


Togar mengusap kedua matanya sebanyak tiga kali, memastikan bahwa wanita yang di hadapannya itu adalah istrinya. Dia menuntun Tolu duduk di tepi ranjang, perlahan Togar meraih serangga mati id ujung rambutnya. Pandangan beralih di arah leher sang istri, urat hijau menyala di dalam kulitnya yang putih. Tangan terasa dingin, Togar berlari mengambilkan air hangat untuknya.


“Minumlah sayang” ucap Togar.


Tolu menggelengkan kepala, Togar seolah lupa bahwa sang istri masih menjalani puasa. Hingga terbit fajar besok adalah puasa hari terakhirnya. Tolu beranjak meninggalkan Togar, dia berjalan kembali ke ruang pribadinya. Alasan utama kehendak meninggalkan bekas mantra agar menjaga anak dan suami agar dia tenang melakukan ritualnya.


Ruangan persemedian penuh dupa, asap kemenyan dan segala jenis sesajian. Semalaman dia mengucapkan mantra, memperkuat ilmu serta menempah diri supaya lebih tahan banting jika mendapat serangan ghaib dari para dukun.


“Inang, kekuatan mu semakin sakti. Apakah kau bisa mengendalikan semua ini jika dalam satu rumpun semua beradu berebut menjadi satu? Apakah kau tidak takut resikonya?” tanya raja jin siluman setan.


“Tidak, sekalipun aku yang harus binasa” jawab Tolu.

__ADS_1


Pupil bola mata memutih, gigi taring menjuntai, tanduk membentuk siku bengkok panjang begitu lancip. Kuku-kuku setan telah menyatu dengan dagingnya. Suara aneh keluar dari dirinya, dia menyantap secara rakus semua sesajian di meja hitam. Darah ayam cemani, organ kerbau dan kambing putih habis di santap. Hampir saja dia tidak bisa mengendalikan diri, mendengar suara baby sister Virsa yang sedang mengetuk pintu memanggilnya.


Tok, tok (Ketukan pintu)


“Non, apakah bayi Sadam sudah bisa di mandikan?" tanya nya.


Tidak ada jawaban dari dalam, tengkuknya terasa seperti ada hembusan angin kecil meniup tanpa henti. Virsa masih memberanikan diri menunggu jawaban dari Tolu. Di sela rasa keingintahuannya yang sangat dalam ingin melihat isi dari ruangan tersebut. Tanpa sengaja beberapa jam yang lalu dia melihat salah satu pekerja membawa nampan berisi kepala hewan dan berbagai jenis bunga.


“Non Tolu. Apakah saya boleh masuk?" tanya Virsa sekali lagi.


Krek, krekkk (Pintu besi terbuka)


Kain hitam menampar wajahnya, tidak ada angin yang menerbangkan. Virsa menjerit histeris hingga terjatuh di depan pintu. Di hadapannya ruangan itu sangat gelap gulita.Virsa meraih saku menyorot lampu senter dari telepon genggamnya. Tepat di depannya sosok hitam besar tanpa kaki menatap tajam sedangkan di sisi kanan kiri kedua tangannya di tahan oleh para makhluk aneh menyeringai.


“Vir! Sadar vir! Kamu kenapa?” tanya Sinta.


Virsa berjongkok di bawah anak tangga, rambut acak-acaka gerakan kedua tangan bergetar menekan kepalanya sendiri. Si mbok , Ani, Mariam, Tono dan bi Tina menatapnya tanpa henti. Virsa pun segera berlari ke kamar lalu meraih koper dan tas secepatnya mengemasi barang-barangnya. Dia menyerah dan meninggalkan impian mencalonkan diri sebagai suster terbaik di rumah sakit tempat dia bekerja. Tidak perduli semua ini atas ijin dari dokter Man. Melihat Virsa mengemasi barang maka Sinta pun ikut mengemasi barang-barangnya pula.


Malam kian larut tapi kedua baby sister itu memutuskan untuk pergi, Mereka dengan sabar menunggu Togar dan Tolu di ruang tamu. Si mbok sibuk menggendong bayi Sadam terpaksa harus ikut menemani keduanya. Lirikan mata tajam si mbok melihat kedua wanita muda itu.


“Sudah saya katakan bahwa kalian jangan ingin tau dan ikut campur” ketus si mbok.


Mata Virsa melotot, tangannya sudah di kepal kuat namun Sinta menahan hingga meminta Virsa duduk dengan tenang.


“Ada apa ini? kenapa kalian mendadak sekali untuk pergi?” tanya Togar.

__ADS_1


“Maafkan kami tuan, kami tidak bisa bekerja disini” ucap Sinta.


“Ada banyak sekali___” Virsa memutuskan pembicaraan.


Manik mata seolah kejang, melihat sosok lain yang berdiri di belakang Togar. Mereka berdua membungkuk berkali-kali meminta maaf dan berlari keluar dari rumah itu. Kesalahan fatal keluar di malam hari apalagi jejak kakinya melewati batas mantra halaman rumah yang sudah di pagari oleh sang dukun sakti. Mereka hanya berpikir bahwa di rumah itu nyawa terancam, tapi sebaliknya setelah beberapa langkah menjauh keduanya di incar para makhluk halus bergentayangan.


Sinta dan Virsa melupakan pesan dokter Man bahwa jangan sesekali keluar malam apalagi desa perbatasan itu terkenal dengan keangkerannya. Suara aneh di udara, burung hantu bersahutan dan nyanyian tawa suara kuntilanak. Virsa dan Sinta menjerit sambil berlari mencari rumah warga sekitar.


“Tolong! Tolong kami!”


Di pedesaan itu mempercayai sosok para makhluk halus yang mengincar jiwa saat jarum jam sudah berada di pukul dua belas sampai ufuk timur belum bersinar. Mereka mengunci pintu rumah rapat-rapat, memasang jimat dan berbagai hal benda kepercayaan yang bisa mengusir roh halus atau gangguan setan. Walau mendengar suara teriakan wanita dari lua, tidak ada satupun yang berani membukakan pintu.


“Tolong kami! Hiks.”


Salah satu warga penasaran mengintip dari sela jendela melihat Sosok kepala putung menarik salah satu wanita berpakaian putih dengan gigitan gigi taringnya.


“Bu lihat, wanita itu menjadi korban arwah dukun Siria” bisiknya.


“Cepat tutup lubang jendela mu rapat-rapat atau kau akan jadi korban selanjutnya!”


“Sinta!” jerit Virsa.


Dia tidak bisa menahan tarikan tangan Sinta, kini makhluk jadi-jadian telah membawa sahabatnya itu pergi selamanya. Virsa berusaha mengejar, tapi tangannya di tarik oleh seorang warga. Wanita muda itu memberanikan diri untuk keluar rumah setelah mengetahui hal yang dia dan temannya alami. Erin membawa Virsa masuk ke dalam rumahnya kemudian meminta membantu memotong bawang putih sebanyak-banyaknya yang tersedia di atas wadah besar.


“Cepat bantu aku mengupas semua bawang ini. Aku takut kepala puntung itu mengincar kembali” ucap Erin.

__ADS_1


__ADS_2