Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Banting


__ADS_3

Cairan darah hitam di campur mantra untuk menghasilkan hal-hal mistis para penganut ilmu hitam. Tak kasat mata di udara para penyihir berkelahi membentuk cuaca yang mencekam.


Berkumpul di tengah malam dan memutuskan pendapat, ketiga santri yang sudah sangat membenci Ani itu keluar dari bilik kamar, berjalan mendekati pintu kamar Ani. Mereka sempat berpikir bagaimana membuka pintu, tapi setelah tangan Vasel mendorong pintu kamar dengan mudah terbuka tanpa terkunci. Ani tertidur lelap di atas tikar, kasur dan seluruh benda di kamarnya berantakan. Vasel mengikat mulut Ani, Zeze menutup matanya dan Ofi mengikat tangannya ke sisi punggung.


“Cepat sebelum ada yang melihat!” ucap Vasel.


Mereka membawa Ani keluar padepokan dengan minyak solar dan dua pematik di tangan Vasel yang mempunyai niat menggebu untuk membakar wanita itu.


“Vasel, apakah kau sudah gila? Ustadz dan ustadzah tidak pernah mengajarkan kita untuk melakukan hal yang mengerikan seperti ini. Sebaiknya kita lepaskan saja dia,” ucap Ofi.


“Tidak, aku sebenarnya juga tidak berniat membakarnya. Hanya saja aku ingin membuktikan perkataan orang yang mengatakan bahwa wanita ini adalah adik si dukun sakti di perkampungan seberang. Aku mendapatkan informasi dari tante ku yang sangat dekat dengan ibu Khadijah” ucap Vasel.


“Apa?” Ofi dan Zeze serentak.


Ani di ikat di salah satu pohon, dia menangis ketakutan tidak bisa mengeluarkan suara. Merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan sang kakak, dari kejauhan Tolu menghembuskan sihir ke para makhluk utusannya untuk membantu dan menjaga Ani dimanapun dia berada.


“Hahah, hahah!” tawa Vasel.


Dia menyiram sekujur tubuh Ani dengan minyak tanah. Setelah itu, pematik di nyalakan mendekati ujung rambut Ani. Bau bakaran ujung rambut tercium hangus, Zeze dan Ofi berjalan mundur tiga langkah. Vasel menyulutkan api ke ujung baju Ani, perlahan api menjalar membakar tubuhnya. Angin kencang, petir memecahkan keheningan malam. Hujan deras mengguyur wilayah itu, di balik tubuh Ani berjalan sosok makhluk besar mendekati Vasel.


“Hantu! Arggh!” jerit Ofi dan Zeze.

__ADS_1


Mereka berlari secara terpisah, Zeze berlari tanpa henti menuju ke wilayah pepohonan pinus terdalam. Hingga tanpa sadar dia tergelincir dan terjatuh ke dasar jurang. Sosok makhluk yang di lihatnya tadi masih mengejar, merangkak tubuhnya karena kaki terasa terkilir menuju ke sisi lain menghindari makhluk itu.


“Tolong!” jeritnya.


Sebatang dahan besar terjatuh menimpa tubuhnya, dalam hitungan detik santri itu meregang nyawa. Berbeda dengan Ofi, dia bersembunyi di salah satu pohon berusaha bersembunyi dari kejaran makhluk jin merah.


“Kak, apakah kau melihat tumpukan jerami ku?” ucapnya menyeringai di depan Ofi.


Makhluk yang terbuat dari darah setengah setan itu mengigit pergelangan tangan Ofi. Dia menghisap darah dengan gigi taringnya. Ofi menjerit kesakitan menahan gigi setan tertancap di dagingnya. Sosok lain Tolu hadir di depan Ani, mata Ani berkaca-kaca melihat kehadirannya. Tapi dia bukanlah Tolu, mata dan pupil seutuhnya memutih berbentuk setengah bayangan dengan tanduk di kepala.


“Tolong!” teriak Vasel.


Hujan telah reda, bagian perut Ani terasa sakit akibat luka bakar. Vasel membayar kejahatannya itu dengan luka bakaran pula. Dia di bakar hidup-hidup oleh makhluk utusan Tolu. Api membara menghanguskan sekujur tubuhnya. Para makhluk menghilang mendengar suara kentongan bamboo beserta ramai langkah orang ke Ani. Sosok jin merah masih disana, tangan setan yang perlahan melepaskan ikatan Ani. Tapi, bisikan suara Tolu memerintahkan makhluk itu agar jangan melepaskannya dan segera pergi.


Sosok jin merah menuruti perintahnya. Salah satu warga menyalakan obor mengarah ke arah Ani sambil berlari. Dia mengarahkan semua orang kesana, posisi Ani yang terikat tidak sadarkan diri dan mayat yang hangus tidak diketahui identitasnya.


“Bu Harka, jangan-jangan dia salah satu dari empat santri yang hilang” ucap Khadijah.


“Aku juga berpikir demikian mualimah, sekarang kondisi padepokan semakin kacau” sahutnya.


“Pak, tolong segera bawa mayatnya ke padepokan” ucap bu Harka lagi.

__ADS_1


Ani di gotong ke puskesmas terdekat. Para warga lain melanjutkan mencari santriwati yang lain. Sampai pada dini hari, hanya mayat Ofi dan Zeze yang di temukan. Berita menggemparkan, jeritan histeris dan tangis pecah para santri lain. Memastikan mayat hangus itu adalah jasad Vasel karena terdapat cincin emas yang melingkar di jari telunjuknya.


“Vasel!” isak tangis kedua orang tuanya.


...----------------...


Di depan meja ritual, Tolu telah berhasil menembus segala penglihatan tentang sang kakak. Dia tidak bisa meneteskan air mata bersedih. Hatinya begitu kaku, hanya berharap Ani akan segera kembali pulang. Dia mengacak-acak semua benda di atas meja ritual, melampiaskan rasa kesal akan semua kepahitan hidup yang dia rasakan. Rambutnya basah terkena tetesan air liur jin yang tiba-tiba muncul dari langit-langit ruangan. Serangan dari sosok dukun lain ingin melaga kambing kekuatannya.


“Kemari! Aku sedang ingin mencabik dan menghancurkan siapapun yang mengganggu ku!” gumam Tolu.


Dukun itu tidak lain berasal dari utusan opung Parman yang meminta untuk mencabut ilmu cucu menantunya. Dukun yang tidak kalah sakti darinya,Tolu dan sesepuh keturunan dukun Siriah. Empat tanduk lancip terbentuk, gigi taring, pupil memutih dan kuku panjang mencakar. Sosok Tolu berubah lebih mengerikan, dia benar-benar mengeluarkan ilmunya untuk melawan makhluk tersebut.


Tanduknya di tarik paksa hingga urat-urat berwarna hijau dari kepalanya tertarik. Tolu tidak kalah melawan, dia menarik tangan iblis dengan giginya. Melepaskan bagai mematahkan sebuah ranting yang kering. Ketika kemenangan akan di tangannya, perutnya merasakan kesakitan hebat. Tolu berubah menjadi wujud manusia, sedikit lagi makhluk itu berhasil mencabut ilmu dari bagian kepalanya jika Togar tidak datang mendobrak pintu.


“Sayang! Bangun!” teriak Togar membawanya keluar dari ruangan persemedian.


“Mbok, tolong telpon pak Toto untuk datang” ucap Togar.


“Maaf tuan, bibi baru saja mau menyampaikan jika tadi siang pak Bram dan opung Parman pergi ke luar kota. Katanya ponsel tuan besar tidak bisa di hubungi. Pak Toto ikut bersama mereka. Lalu, si mbok menerima berita dari pak Dadar bahwa pak Seto seperti orang kesurupan di rumah sakit. Dia mencabut bola matanya sendiri tuan” kata si mbok.


“Kalau begitu bibi sekarang ikut ke rumah sakit, biar saya yang mengemudi” ucap Togar.

__ADS_1


Di kursi mobil bagian belakang si mbok memegangi tubuh Tolu yang sangat lemas. Dia berkeringat, mengigil menggertakkan gigi, namun hawa panas terasa pada tubuhnya. Togar mempercepat laju kendaraan berharap istri dan anaknya baik-baik saja. Di tengah usia kehamilan muda yang harus berjuang melawan para makhluk halus. Sosok dukun Tolu meski tidak sadarkan diri tetap bisa melihat dirinya sendiri dari alam lain. Qorin dan sukmanya terbagi mengetahui di segala sisi.


__ADS_2