Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Pekat


__ADS_3

Setelah bertemu si mbok tadi, Virsa semakin curiga dengan benda tersebut. Menuju ruangan bayi, tampak bayi Sadam sudah di dalam box tempat tidurnya. Perlahan Virsa mendekat, dia mengusap mata melihat bayi itu tidak berubah wujud mengerikan kembali. Cermin berembun mengetuk menimbulkan suara nyaring di ruangan yang besar itu.


“Jangan ganggu saya! Biarkan saya bekerja dengan tenang disini!” ucap Virsa.


Di bawah kolong tempat tidur terdengar suara aneh, dia membungkukkan tubuh melihat sosok kaki kecil berlari di sisi lainnya. Virsa berdiri kembali, menoleh ke arah dimana makhluk tadi berhenti. Akan tetapi, sosok tadi menghilang membuat dia ketakutan mencari tempat gendongan bayi lalu segera mengangkat Sadam keluar dari kamar. Keringat di tubuhnya bercucuran deras, hingga tubuh masih bergetar. Si mbok lagi-lagi menemuinya dengan pandangan yang sinis.


“Non, kenapa tuan muda di bawa kesini? Hari mulai senja, ayo masuk!”


“Ya” jawab Virsa singkat.


Dia mengintip dari balik jendela, di depan halaman mulai di kerumuni burung gagak yang berterbangan. Setiap kaca berembun membentuk bercak tangan-tangan aneh dari luar. Dia berjalan mundur, Sadam mulai menangis sekencang-kencangnya. Lampu berkedip, tangan anak tangga berderit suara kuku mencakar tanpa henti.


“Tolong! Tolong!” teriak Virsa.


Tolu menepuk pundaknya, dia membawa sebatang lilin yang menyala. Meletakkan di sisi kanan meja, meraih bayi Sadam. Dia hanya terdiam memperhatikan Virsa, auranya yang menyeramkan di tambah hawa sedingin bongkahan es salju. Virsa berlari ke dapur, mempercepat gerakan secepatnya memberikan botol dot susu ke Tolu yang masih berada di ruang tengah. Lampu sudah normal kembali dan mereka bejalan ke ruangan bayi. Virsa menunduk tidak berani menatap mata Tolu, terlebih lagi dia sudah hampir membeku menggigil tidak tahan menahan dingin.


“Kembali ke kamar mu” ucap Tolu.


“Baik nyonya. Terimakasih, sebelumnya saya ingin menyampaikan bahwa baby sister Sinta sedang sakit. Hari ini dia mengalami hal aneh, dia mengatakan bahwa kakinya di gigit oleh makhluk mengerikan di tambah lagi kami melihat penampakan yang mengerikan” ucap Virsa menjelaskan.


“Ya sudah, kalau begitu dia aku ijinkan bisa cuti hingga pulih. Oh ya, lantas kau masih sanggup untuk bekerja disini?”


“Saya usahakan non, tapi__” Virsa mengernyitkan dahi.


Dia memutuskan kalimat, meminta ijin pergi dan perlahan menutup pintu. Sebelum masuk ke kamarnya, Virsa mendengar suara rintihan tangis anak kecil. Dia mencari sumber suara, di ujung ruangan ada sosok jin yang selalu dia temui sedang mengeluarkan air mata darah lalu menoleh melihatnya. Berbalik arah berlari masuk ke kamar, Sinta terkejut melihat gelagat Virsa tampak kacau. Nafasnya terengah-engah, dia melotot menunjuk ke arah pintu.

__ADS_1


“Aku, belum satu kali dua puluh empat jam disini tapi sudah mau mati ketakutan” ucapnya dengan menekuk kaki tanpa henti menyeka keringat di wajah.


“Aku mempunyai firasat bahwa kita akan mati disini Sa” ringis Sinta perlahan menangis tersedu-sedu.


...----------------...


Pemakaman di basahi derasnya air hujan, Setelah ustadz dan beberapa warga lain pergi, Bromo masih berdiri di depan liang lahat sang ibu sambil menangis. Sayup-sayup suara Loli seolah terngiang, kini dia sudah menjadi penghuni debu di dalam api neraka yang abadi. Bromo si anak durhaka yang membunuh ibunya dengan perantara tangan Loli. Insiden kerasukan itu terlihat jelas dalam sebab ilmu ganas perusak kehidupan mereka.


Petir menggelegar, kilatannya menumbangkan pepohonan di sekitar pemakaman. Bromo memiliki sebagian hati dan jiwa setan sedang memikirkan cara untuk membangkitkan sang ibu. Menunggu jam pada tengah malam, Bromo membongkar kuburan ibunya dengan tangannya sendiri. Setelah mencapai dasar, dia memeluk jasad sang ibu. Angin kencang, jeritan aneh dan sosok kepala putung terbang menariknya keluar dari dalam sana.


“Lepaskan aku!” teriak Bromo meraih keris dari balik baju lalu menyerang si kepala putung di dalam kegelapan.


“Bromo! Bromo, cepat kubur kembali cucu ku itu!” ucap si kepala putung.


“Siapa kau?”


“Apa maksud mu? Hei jangan pergi!”


Hujan telah reda, nyala obor petugas penjaga makam dari kejauhan mendekati pintu TPU. Bromo mempercepat gerakan menguburkan jasad sang ibu kembali dan berlari meninggalkan tempat itu dari arah jalan yang berlawanan. Sesampainya di rumah, Loli sudah seperti wanita gila berdiri di depan pintu menyambutnya menggunakan kain hitam, rambut acak-acakan, tertawa melihatnya. Niat hanya ingin singgah sebentar lalu menjalankan ritual di ruangan perdukunannya. Tapi, keadaan sang adik memprihatinkan. Tidak terlihat ada sosok lain yang merasuki kembali, Bromo menggiring sang adik masuk dan memasung kakinya.


Rintihan Loli merontah meminta benda yang berada di kakinya untuk di buka. Bromo menguncinya dari luar, dia mengabaikan jeritan adiknya dan pergi ke rumahnya.


Di luar rumah, pria tua yang tidak lain adalah tetangganya itu mendengar suara jeritan Loli. Dia berlari membawa obor menyampaikan suara minta tolong ke pos penjagaan warga. Ada tiga orang pria tertidur disana. Pria tua itu mengguncangkan tubuh salah satunya, hanya Ben terbangun menggeliat malas bergerak duduk melihat kehadirannya.


“Kek, kenapa tengah malam gini, engkau berkeliaran seperti hantu saja! Hahahh” tanya Beni menguap lebar.

__ADS_1


“Dasar anak muda jaman sekarang tidak tau sopan santun. Aku mendengar suara jeritan dari rumah almarhumah.”


“Apa? Jangan-jangan dia menjadi arwah penasaran! Hiihh!” Beni menenggelamkan wajahnya di atas perut Kiki.


“Aduh berat sekali!” ucap Kiki.


Dia terbangun melihat keduanya tampak panik. Berkali-kali si pria tua mengulang perkataan hingga Kiki mengguncangkan pundak Beni sambil melotot. Dia ingat sekali, terakhir kali menguburkan mayit tampak bayangan wanita di dekat batu nisannya. Namun, Kiki masih menyimpan penampakan itu dan tidak ingin menceritakan kepada mereka.


“Aku tidak ingin menambah suasana runyam” gumamnya.


“Ayo kita segera kesana” ajak Kiki berdiri memakai sandal.


“Tidak! Aku tidak mau ikut campur dengan keluarga dukun itu!” bentak Beni ketakutan.


“Lalu bagaimana dengan kau mbah Parjo?” tanya Kiki melirik pria itu dengan ekspresi kebingungan.


“Aku akan kesana juga untuk memastikan suara teriakan sekali lagi.”


Karena keduanya pergi meninggalkannya, Beni tidak ada pilihan lain selain mengikuti mereka dari belakang. Sesekali dia menjerit, bahkan saat sebuah ranting terjatuh pun dia ketakutan. Tiba di rumah yang di kelilingi burung hantu itu, Beni berjongkok menutupi wajahnya dengan sarung.


“Ben! Ayo masuk!” ucap Kiki menarik tangannya.


Di malam yang dingin, suara nyanyian kuntilanak sayup-sayup seakan menjadi irama musik ketika gagang pintu itu berhasil di buka. Namun, suara yang paling terdengar jelas adalah jeritan minta Tolong dengan mengerang.


“Sepertinya tidak di kunci” bisik Kiki.

__ADS_1


“Kau yang duluan masuk!” desak Beni mendorong tubuhnya.


__ADS_2