
Hari ini Rangga cuti, dia berniat menjenguk Sania drumah sakit.
Beruntung tadi pagi ketika mengantar pak Wijaya berangkat kerumah sakit Rangga sempat bertanya ruang rawat sania.
Tak perlu waktu lama untuk mencari karna Rangga sudah hafal tempatnya.
"Selamat siang nona Sania"
Sania yang sedang berbaring sambil menonton tv pun menoleh pada Rangga yang baru masuk itu.
"Kamuu... "
"Sudah sehat? Sudah nggak pakai baju pasien ?" Rangga tanpa sungkan duduk disamping brankar Sania.
"Sudah boleh pulang, sudah baikan"
Wajahnya pucat pun Sania tetap cantik di mata Rangga.
"Oohh ya mau jenguk siapa ? Sebelah sepertinya kosong" didalam satu ruangan itu memang ada dua tempat tidur pasien, yang dekat jendela ditempati sania, yang dekat pintu kosong.
Dengan santainya Rangga menjawab "Jenguk nona Sania" .
"Aku ? Kita kan kenal baru sehari ,bahkan belum ada satu jam"
tersipu malu Sania, rasanya tidak ada canggung sama sekali dengan orang asing yang baru dikenalnya ini.
"Keluar jam berapa ? Saya antar pulang ya"
__ADS_1
"Kok tau saya check out?"
"Saya security disini, mudah cari informasi" Rangga mengakui prosfesinya tanpa malu.
"Oh begitu ya" jawab singkat Sania.
Rangga memperhatikan raut wajah Sania, tidak ada tanda penolakan setelah dengar dia seorang security.
Malah Sania terkesan tersenyum malu malu merasa mendapat perhatian dari Rangga.
"Selamat siang nona Sania..." Seorang perawat masuk ke ruangan Sania,ketika mereka sedang berbincang ria.
"Sudah siap pulang ya, baiklah ini obat obatannya semua aturan minumnya sudah ditulis jelas disini ya, yang ini surat keterangan untuk cuti sakit, yang ini rekap resep beserta kwitansi pembayaran" perawat itu menjelaskan pada Sania. "ada yang ingin nona tanyakan?"
Sania menggelengkan kepala tanda dia sudah paham penjelasan perawat itu.
lalu perawat itu beralih menghadap ke arah Rangga. "tuan, tolong jaga pola makan non sania, tolong ingatkan jangan sampai telat minum obatnya...baiklah saya permisi dulu, semoga nona lekas sembuh" perawat pun tersenyum lalu melangkah keluar dari ruangan itu.
Mereka sama sama merasa lucu pada perawat tadi. Mereka bukan sepasang kekasih tapi perawat tadi menitipkan Sania pada Rangga.
"Pulang sekarang? Mari saya antar"
Sjebenernya malu, tapi kalau ditolak sayang..kepalaku masih pusing, jika ada dia setidaknya akan ada yang cepat ambil tindakan kalau terjadi sesuatu lagi padaku
"Hei... melamun?" Tangan Rangga melambai lambai didepan wajah Sania.
"Aku.... Gimana ya, apa tidak merepotkan ?"
__ADS_1
"Tidak, saya dengan senang hati bantu kamu" jawab Rangga meyakinkan.
"Apa ada yang marah kalau saya yang bantu ?, Saya tau kamu tidak ada sanak saudara disini"
Hee kok tau dia, Devan aja bahkan nggak peduli sama aku
"Baiklah.. terima kasih sebelumnya, maaf merepotkan" Sania lalu turun dari tempat tidurnya.
Sania masih belum bisa menyeimbangkan tubuhnya, berdiri diam sambil memegang tempat tidur.
Rangga tidak menyentuh Sania sedikitpun, dia hanya berjaga jaga saja kalau tiba tiba Sania jatuh.
"Are you okay?"
"Iya..iya" menganggukkan kepalanya dan mulai berjalan perlahan.
Rangga dengan sigap selalu memperhatikan apa yang akan terjadi dengan Sania.
Memang belum pulih total sakit kepalanya yang akibat benturan dari kecelakaan kemarin.
Mereka berpapasan dengan perawat tadi "sus... tolong pinjami kursi roda sampai parkiran" ucap Rangga.
Baru melewati tiga pintu kamar melihat Sania tertatih Rangga tak tega.
Bagaimanapun Sania bukan siapa siapanya Rangga tak mungkin memapah atau menggendongnya, kecuali diberi ijin sipemilik tubuh.
Sang perawat memperhatikan Rangga yang sedang mendorong kursi roda, hingga berbelok ke koridor lain dan tak terlihat dari pandangannya.
__ADS_1
Dia sudah terbiasa melihat Rangga ada di pos depan ,karna memang Rangga security disana.
Tapi baru kali ini dia melihat sang pujaan hati bersama gadis lain.