
Sania tercengang, begitu pun Devan. Keduanya menatap pada seorang pria yang juga menatap mereka dengan sorotan tajam.
Piring di tangan Devan dengan posisi dirinya yang berada disisi Sania, menjadi bukti bahwa suatu kegiatan sedang terjadi saat Rangga belum membuka pintu ruangan itu.
Kecewa, entah harus memulai dari mana sidang hakim terhadap terdakwa yang kepergok berduaan dengan mantan.
Hati Rangga memanas, membayangkan istrinya bermesraan dengan mantannya. Bercengkrama sembari suap-suapan.
Ingin pergi dari sana, tapi itu akan membuat Devan besar kepala karena sudah berhasil akrab dengan Sania.
Ingin menghardik mereka, tapi Rangga tak tega pada istrinya. Devan memang playboy ulung, sebisa mungkin Sania menolaknya sudah pasti lelaki itu terus mengejarnya. Terlebih lagi memang itu niat Devan, ambisinya untuk merebut dan mendapatkan kembali istri Rangga.
Cemburu dan amarah menguasai hati serta pikiran Rangga saat ini. Seteguh mungkin dia berusaha mengendalikan hasratnya berhari-hari dengan banyaknya godaan disana, nyatanya hari ini dia mendapat kejutan tak terduga.
Sejenak dia terdiam, dominasi cemburu buta dia tepis. Rangga nampak menarik nafasnya dalam.
Berharap oksigen yang dia hirup mampu mendinginkan aliran darah yang masuk dalam otaknya.
Ini masih wajar, bukan sentuhan kulit yang ia lihat. Bukan pula baju berserakan di lantai dengan kedua insan yang bergumul di atas ranjang.
__ADS_1
Istrinya tidak se hina itu.
Percaya. Ya, saat ini satu kata itu yang harus mendominasi hati dan pikirannya.
Minta penjelasan dengan cara baik-baik. Dia pun tidak mau adanya salah paham karena emosinya sendiri. Bisa-bisa Sania akan berpikir dia salah telah memilih Rangga sebagai suami, dan menyesal meninggalkan Devan yang saat ini sudah banyak berubah karena menyadari cintanya pada Sania.
"Mas..." Panggil Sania, yang akhirnya memecah kecanggungan suasana mencekam ini.
Merasa tertangkap basah oleh suaminya sendiri, ada rasa malu, juga takut suaminya akan menuduh yang macam-macam padanya, walau mereka tidak melakukan apapun sebelumnya. Tapi tetap saja, yang Rangga lihat, Devan ada disini menemaninya dan mau menyuapinya.
Braak..
Rangga menutup pintu sedikit kencang, hingga menimbulkan suara yang membuat spekulasi bahwa yang menutup pintu sedang dalam keadaan marah saat ini.
Gemetar, berdegup kencang jantung Sania saat melihat raut wajah tampan suaminya. Entah kenapa dia tidak melihat kemarahan pada wajah itu, padahal barusan saja dia tersentak mendapati pintu yang tertutup dengan suara kencang.
"Ah" Rangga peluk erat tubuh istrinya.
Sania membulatkan netranya, kaget dengan pelukan suaminya.
__ADS_1
Dalam dekapan hangatnya, Rangga hirup aroma tubuh istrinya yang membuatnya seakan melepaskan amarahnya begitu saja.
"Aku merindukanmu sayang" ucap Rangga menciumi kening dan pipi Sania.
Devan mengalihkan pandangannya, sakit rasanya. Dia tidak bisa lagi menyentuh pujaan hatinya. Sekarang sudah ada yang memiliki Sania nya . Dan dia hanya bisa melihat tanpa boleh protes.
"Mas..." Mata Sania melirik sedikit ke arah Devan, mengintip dari balik pundak sang suami yang terus mendekapnya seakan tak ingin lepas.
"Hhm... Kenapa kamu disini sayang ? Apa Reno lalai menjagamu ?".
Sepertinya sengaja, ia tak peduli melihat Devan membuang muka menatap arah lain.
Semakin erat pelukan itu. "Mas... Sesek" kata Sania, mengeluh.
Rangga melerai pelukan itu, lalu menciumi wajah Sania.
"Geli maas".
Devan hanya mampu mendengar namun tak ingin melihatnya.
__ADS_1
Dulu saat jadi kekasih dia tidak pernah seintim itu. Sekarang dia harus menyaksikan keromantisan mantan kekasih bersama suaminya.
Rasanya enggan untuk pergi padahal cemburu sudah menggerogoti jantungnya, masi ingin kepo sejauh mana Rangga bersikap romantis hingga Sania mau dipinang olehnya secepat itu.