Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Kesal Lagi


__ADS_3

"Neng.. dingin banget ya ?" Tanya Santi malam ini. Keduanya sedang duduk di teras dengan masing masing mengenakan jaketnya.


"Iya, kampung Neneng juga dingin tapi nggak sedingin ini".


Ibu keluar rumah membawa teh hangat juga camilan, menghampiri mereka.


"Bu.. maaf Bu, biar Neneng aja".


Santi pun menyela "Bu maafin kita Bu, ibu kalau perlu sesuatu tinggal panggil aja Bu".


Sebagai seorang yang bekerja dan dibayar, mereka merasa bersalah ibu menjamu mereka layaknya tamu keluarga itu.


"Ssstt... Nggak masalah, anggap saja kalian tamu ibu".


Mereka jadi tidak enak hati, bagaimana pun ibu adalah orang tua majikan mereka.


"Enak ya suasananya, bisa lihat pemandangan lampu kota dimalam hari".


"Iya Bu" sahut keduanya.


Santi masuk kedalam mengambil gelas yang belum terbawa oleh ibu tadi, diikuti Neneng yang pamit ke toilet.


Dari seberang jalan, dibawah lampu temaram seorang pria bertubuh gempal dengan perut sedikit buncit berjalan mengarah pada rumah keluarga Sania. "Selamat malam Bu Riska. Pak Hendranya ada ?"

__ADS_1


"Malam pak Tono, suami saya sedang dirawat di rumah sakit. Ada perlu apa ya pak ?"


"Begini Bu, saya dengar kan anak ibu akan menikah. Lewat saya lebih murah nih. Bagaimana ?"


Ibu tau siapa pria gempal ini, dia adalah salah satu mandor kaya di kampung mereka. Sumber uang sampingannya banyak, selain tugas utama sebagai mandor proyek juga sebagai juragan ternak.


Jika musim orang hajatan ia beralih profesi lagi menjadi Banser atau petugas keamanan dan sejenisnya, apa sajalah yang penting dia dan team nya selalu eksis punya kesibukan.


Tapi semua itu tidaklah gratis, maksud dari pertanyaan beliau pada Bu Riska adalah penawaran biaya keamanan untuk sebuah pesta pernikahan, ya bisa dibilang seperti calo pada umumnya.


Dokumen pernikahan Sania yang tercatat di rukun tetangga kampungnya ternyata membuat heboh banyak kalangan. Jika ada yang menikahkan anak mereka, sudah pasti warga sekampung akan berduyun duyun datang kerumah keluarga pengantin tersebut.


"Iya pak nanti saya kabarin".


Bu Riska tersenyum. Pak Tono ini pernah melamar Lina putrinya sesaat setelah lulus sekolah. Tapi Lina menolak, lebih memilih melanjutkan kuliah dan meninggalkan rumah.


Sania keluar rumah. Pak Tono yang melihatnya tercengang. Belum pernah bertemu sebelumnya, ia mengira Lina sudah berubah.


"Lin.. tambah cantik aja ya".


Sania mengerutkan keningnya. Belum pernah bertemu dengan orang itu kenapa dirinya dipanggil Lina.


"Mana Lina ?" Tanya ibu heran. "Ini anak saya yang pertama".

__ADS_1


"Oh ... Bukan ya? Jadi yang nikah yang mana?".


"Yang ini, Sania namanya".


"Oh God.. terima kasih masih memberiku kesempatan". Kedua tangan pak Tono menengadah ke atas seakan berdoa.


Ibu dan Sania tergelak, dasar pria tua bangka tidak sadar umur. Batin sania


Belum reda tawa ibu dan Sania, pak Tono berucap lagi. "Tapi kalau Sania mau sama saya, saya siap kok nunggu jandanya".


Sania melebarkan matanya, tersentak mendengar ucapan pria tua bangka ini.


"Jaga bicaranya pak, jangan bercanda berlebihan !" Ibu meradang, cukup tadi siang saja Sania tersinggung atas ucapan nenek Loren, jangan sampai ada nenek atau kakek Loren berikutnya yang menyakiti hati putrinya.


Ibu lalu mengajak Sania masuk, meninggalkan pak Tono.


"Tolong bereskan minum diluar !" Perintah ibu ketika berpapasan dengan Santi yang akan keluar membawa gelas di tangannya.


Ibu kenapa ya .batin Santi terheran. Walau begitu dia tetap melakukan apa yang diperintah majikannya.


Menengok kanan dan kiri, mengedarkan pandangannya. Tidak ada siapapun yang Santi lihat. Mungkin pak Tono seketika itu juga pergi, sewaktu ibu dan Sania meninggalkan dirinya disana.


"Diluar sendiri begini serem juga, sepi banget" gumam Santi.

__ADS_1


Angin berhembus kencang, seketika bulu kuduk Santi meremang. "Hiiiii..." Diangkut semua, semampu yang bisa ia bawa. Lalu berlari masuk dan menutup pintu dengan cepat.


__ADS_2