Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Sabar


__ADS_3

"Hentikan mas, geli" ucap Sania, ketika Rangga sedang mencumbu setiap inci bagian tubuhnya.


Mulai meraba bagian dalam "Buka ya !" pinta rangga.


"Mas aku mau bilang sesuatu"


"Hemm bilang aja !"


"Maa.. maaf sebelumnya" masih menahan geli,


Ragu menunggu respon Rangga.


"Kita nggak bisa ngelakuinnya sekarang mas" Sania menggigit bibirnya memperhatikan ekspresi sang suami yang berada di atasnya.


Belum ada tanggapan.


Sania dengan cepat menarik kepala Rangga yang perlahan sudah turun kebawah setengah badannya.


"Maaf mas..." Sania menggeleng, melarang.


"Kenapa ? Masih teringat dia ?" Selidik Rangga, mengingat waktu itu Sania pernah teriak saat ia sedang bergairah.


"Bukan mas, aku...."


"Bicaralah !" Rangga memposisikan Sania duduk, barangkali istrinya ini belum siap secara mental, mungkin dia masih harus bersabar.


"Mas.. aku datang bulan"


Deg


Gagal, buyar sudah keinginannya menikmati malam perpisahan dengan istrinya.


"Biasanya berapa lama ?"


"Lima hari, hari ke enam sudah bersih"

__ADS_1


Rangga mengusap wajahnya kasar, kecewa. Tapi mau bagaimana lagi.


Tunggu, apa sania hanya beralasan ?.


Melihat suaminya seperti tak yakin dengan ucapannya, Sania lalu meraih tangan rangga untuk duduk disampingnya.


"Mas ingat tadi aku minta tolong ambilkan tasku ke kamar mandi ?" Tanya Sania.


Rangga memijat pelipisnya, dia ingat dan tau betul apa yang dibutuhkan Sania sudah pasti ada di dalam tas itu.


"Berbaringlah !" Perintah Rangga.


Haa... Dia masih nggak percaya ? Apa mungkin dia mau cek sendiri. Oh no.


"Tidurlah, aku mau ke kamar mandi dulu"


Setelah menyelimuti sang istri, Rangga berlalu pergi.


Cukup lama Sania menunggu, matanya masih enggan terpejam. Kenapa respon suaminya begitu datar, sesabar itukah Rangga menerimanya.


Mendengar suara pintu di buka dan derap langkah mendekat, Sania lekas terpejam pura- pura tidur.


Cup


Cium singkat mendarat dibibir sania "Tidurlah sayang ! Jangan pura- pura begitu".


Rangga tersenyum melihat kelopak mata yang sudah terpejam tapi masih bergerak- gerak itu.


"I love you mas"


"Iya". Mmuaach . Mencium pipi Sania agak lama lalu berbaring disampingnya.


Biarlah begini, mungkin semesta pun tak rela aku meninggalkannya. Satu bulan, ya satu bulan lagi, aku baru bisa memiliki dia seutuhnya. Rangga.


................

__ADS_1


Seharian ini Reno sibuk mengurus iklan pelelangan rumah kakak iparnya. Rangga menyuruh adiknya itu menjual rumah dan motor milik Sania, sebab keduanya ada hubungannya dengan Devan.


"Hah... Gagal liburanku. Beresin barang yang di mobil aja lah dari pada suntuk"


Melihat banyak sekali barang dalam mobilnya Reno menggerutu kesal.


Sayup sayup Reno dengar ada Doni yang sedang bertamu ke rumah Devan, ia lantas menghampirinya.


"Ren... Kamu tau tas yang di cari Doni ? Antar dia masuk kamar Devan bantulah cari barang itu" Perintah Bu sandra pada Reno.


"Tas ? Ayo kak ikut aku!" Ajak Reno pada Doni.


Keduanya kembali dari rumah Reno dengan Doni sudah membawa ransel itu di punggungnya.


"Sudah ketemu Don?" Tanya Bu Sandra.


"Sudah Tan... Tukang kebun saya marah cari- cari peralatannya hilang"


"Untuk apa Devan pinjam itu, kenapa bisa ada di mobil kamu Ren ?"


"Panjang tan ceritanya, Reno balik dulu. Bye Tan, kak" Bocah itu berlari pulang meninggalkan Doni yang masih mematung.


"Mmmm.. anu itu.. " Doni tergagap sukar menceritakan, dia tidak ingin terlibat terlalu dalam.


"Saya pamit juga Tan, permisi" ucapnya kemudian. Lalu masuk kedalam mobil miliknya dan melajukan kendaraan itu pergi meninggalkan rumah Bu Sandra.


"Kenapa mereka ini, pasti ada yang tidak beres sama Devan. Apa dia membahayakan orang lain ? Ya Tuhan, jangan karena seorang wanita dia jadi depresi" gumam Bu Sandra.


.


.


.


.

__ADS_1


next--...


Terima kasih banyak yang udah kasih jempolnya.. 😘


__ADS_2