
Di sebuah gedung menjulang tinggi pusat perkantoran. Seorang pria sedang mengumpat kesal pada asistennya.
"Arrrggh sial.. dia memutuskan begitu saja hubungan kerja kita hanya karena aku mengganggu kakak iparnya. Hahahaha... Lihat saja, apa yang bisa aku lakukan pada mereka. Kekasihku hilang tidak ada kabar, mereka juga harus bertanggung jawab. Awas saja".
Bibirnya menyeringai penuh dendam, terputusnya hubungan kerja membuat dia merugi cukup besar, tapi itu bukan masalah untuknya.
Karena sedari awal menjalin kerjasama dirinya hanya berpura-pura agar lebih mengenal dekat dengan keluarga pak Wijaya saja.
Pertemuannya dengan Sania dipantai kala itu bukan sebuah kebetulan belaka. Dia sudah mengumpulkan banyak informasi tentang anggota keluarga pak Wijaya.
Kelvin, begitu ia memperkenalkan namanya pada Sania, dan itu nama sebenarnya bukan samaran.
Dia cukup gentle untuk terang terangan menunjukkan siapa dirinya. Kekasihnya magang disebuah rumah sakit terkenal di Jakarta yang dia ketahui itu milik pak Wijaya, rekan bisnis orang tuanya.
Tapi dia tidak menyangka, dia akan kehilangan kontak dengan kekasihnya. Dan pihak rumah sakit yang dia yakini mengirim kekasihnya pergi jauh ke Jerman tidak memberikan keterangan apapun mengenai hilangnya kekasih Kelvin.
Kelvin meradang, dia sudah lebih dulu benci dengan Rangga, salah satu anak pak Wijaya ketika kalah bersaing bisnis.
__ADS_1
Sekarang Reno membuatnya tiba-tiba merugi dengan memutuskan hubungan kerja mereka.
Sudah merasa kalah duluan sebelum bertanding, Kelvin merencanakan sesuatu yang buruk untuk keluarga pak Wijaya.
"Mereka harus merasakan rasanya kehilangan" gumam Kelvin yang didengar asistennya.
"Lalu siapa bos target kita" tanya sang asisten.
"Terserah siapa saja, yang penting bagian dari keluarga mereka !" Kelvin nampak menyeringai setelahnya kembali mengatakan "wanita itu, cantik juga".
"Bos, dia menantu pak Wijaya bos. Istri dari Rangga , putra pertamanya".
Terserah mau anak atau menantunya sekalipun dia tidak peduli.
Sementara Reno cepat pergi ke kampung Sania. Setelah pak Wijaya menyuruhnya untuk datang dan membawa serta mereka kembali kerumah sakit pusat.
Semua dipersiapkan secara mendadak, tapi itu bukan kendala untuk Reno.
__ADS_1
Yang jadi masalah, Reno takut ada sesuatu yang sedang terjadi pada Sania sebab ia melihat kakak iparnya itu sedang tidak baik-baik saja. Raut wajahnya pucat seperti orang sakit, pandangannya sering kosong menatap pada satu arah saja. Hanya diam dan tidak mau berbicara padahal biasanya dia selalu tersenyum walau tidak cerewet.
Saat ini, mereka telah tiba di rumah sakit di Singapura, tempat dimana Bu Sandra dan pak Hendra juga Devan sedang dirawat.
Neneng dan Santi pun ikut serta, saat ini ke duanya sedang menemani sikecil Sera dan Sania ke toilet.
Reno mendekat pada Bu Riska "Bu... Apa yang sedang terjadi ? Kenapa kakak diam saja sejak aku datang sampai sekarang ?" Pertanyaan Reno akhirnya terlontar karena dia sangat penasaran, mungkinkah kakaknya ini sakit karena kelelahan atau ada hal lain yang kakak iparnya ini alami selama dia tidak ada mengawasi mereka secara langsung.
Ibu menghela nafas panjang lalu membuangnya kasar. "Kemana rangga?"
Bingung harus mengucapkan dengan kalimat yang bagaimana, untuk menanyakan kabar menantunya yang padahal dia tau sendiri sejak awal, selama Rangga disana mereka tidak akan bisa berkomunikasi.
"Kakak di Jerman Bu" jawab Reno polos.
Ibu mendengus, "Yang itu ibu tau, maksudnya apa nggak ada sedikit pun kabar darinya ? Bagaimana keadaannya, bagaimana kesehatannya, bagaimana dia menjalani hari-harinya disana?". Sedikit kesal saat mengatakannya, tapi ibu tidak bisa menahan untuk tidak mengucapkan kalimat kalimat itu.
"Bu..." Ucap Reno ragu, mulai goyah untuk tidak mengatakan yang sejujurnya pada ibu.
__ADS_1
Barangkali kalau dia sudah menceritakannya pada ibu, itu akan sedikit mengurangi beban pikiran yang dia rahasiakan sendiri, tentang kekhawatiran ayahnya terhadap kakaknya Rangga.