Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Saksi


__ADS_3

Tidak tega, hasrat yang sempat hadir pun sudah pamitan pergi. Rangga memeluk tubuh Sania erat dengan kedua tangan. Wajahnya terbenam diantara dua buah kembar, menghirup meresapi aroma tubuh Sania disana sesekali uyelan gemas ia lakukan.


Tangan kiri Sania terulur mengusap punggung Rangga. ia pun lalu menciumi kepala sang suami. Damai, tenang, nyaman yang mereka rasakan.


Sebulan tidak bertemu, rasa haru merindu merajai kalbu.


Rangga masih sanggup menahan, menekan ego nafsunya menunggu sehat fisik Sania.


Sedikit saja obat dari Richard pasti akan langsung menyembuhkan Sania. Baru kemudian mereka bisa leluasa melakukannya.


Tapi lain hal jika Rangga menambah rasa sakit tangan Sania, pasti akan lebih lama penyembuhannya.


Pelukan itu terlerai, Rangga menggendong tubuh Sania kembali keranjang empuk yang menganggur disana.


Perlakuan dan kelembutan Rangga pada Sania membuat gadis itu selalu menatap sang suami dengan penuh cinta.


"Tidurlah senyamanmu sayang, aku tak akan mengusikmu. muuach... ". Setelah berucap, Rangga lalu merebahkan dirinya disamping Sania.


Sania hanya tersenyum pipinya dicium.


Aku mencintaimu mas.

__ADS_1


Lampu utama padam, berganti lampu tidur yang dinyalakan Rangga. Sania masih takut gelap, tapi mungkin akan terbiasa setelah bersama Rangga. Sosok yang melindungi dan menyayanginya kini akan selalu ada disampingnya.


Diseberang rumah sana. Devan duduk termenung melihat pada jendela rumah sepupunya.


Duduk di balkon luar kamarnya, ditemani secangkir teh panas ditengah udara dingin yang menjarah hatinya.


Gorden utama yang tebal seharusnya mampu membuat apapun aktifitas yang punya ruangan itu tak terlihat.


Tapi entah sengaja atau memang lupa. Kain besar nan cantik yang menghiasi jendela itu masih terbuka dan bertali rapi pada kedua sisinya.


Sepasang insan sedang memadu kasih, melepas rindu. Setidaknya itu yang menjadi tontonan Devan barusan.


Furing jendela kamar itu menjadi pelaku tersebarnya pemandangan, yang seharusnya Devan tidak boleh lihat, apa yang mantan kekasihnya lakukan bersama sang suami.


Baru mengingat didalam kamar sana ada sepasang suami istri saja, netra Devan menahan genangan air yang seakan ingin terjun bebas saat baru akan keluar kamar dan duduk di balkon.


Lalu dia lihat betapa agresifnya, sang mantan menggoda suaminya dengan duduk dipangkuan.


Detak jantung seakan menyentak rongga dadanya, menghimpit organ tubuh lainnya. Membuat sesak pernapasannya.


Sakit..

__ADS_1


Harusnya aku yang disana...


Dampingimu.. dan bukan dia...


Untuk beberapa saat Devan masih berdiam diri duduk di kursi kesayangannya. Menatap sebuah kamar yang sekarang gelap, hanya temaram lampu membuat dia sudah tidak bisa melihat jelas apa yang sedang terjadi didalam sana.


Menikah


Devan bersandar, menengadahkan kepalanya, bibirnya tersenyum getir, menatap nanar langit cerah bertaburan bintang diatas sana.


Perasaan apa ini ? menyesalkah ? kekasih yang tak pernah mau disentuh olehnya kini ada dibawah kungkungan seorang pria yang berstatus suami. Pria yang telah sah menikahinya.


Kenapa bahkan dia dulu tidak pernah berfikiran untuk menghalalkan Sania seperti apa yang gadis itu minta.


Dia sibuk menikmati berkencan dengan wanita lain, bahkan Citra yang dia kagumi dulu malah sekarang hamil bersama paman angkatnya.


Takdir macam apa ini.


Selalu dia yang menang.


Tak ingin larut dalam kesedihan, Devan bangkit dari duduknya.

__ADS_1


Melirik sekali lagi, kamar gelap milik sepupunya.


Devan tersenyum lalu menggeleng, "Semoga kalian bahagia". ucapnya, sebelum dia masuk ke dalam kamar meninggalkan secangkir teh dingin yang masih utuh.


__ADS_2