Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Latihan Mengasuh Anak


__ADS_3

Sania membuka ruang rawat ayahnya "selamat pagi ayah, bagaimana kondisi ayah sekarang?"


"Ayah sudah merasa baikan semenjak kamu menikah"


"Loh haha ...yang penting ayah harus bahagia ya , Sania juga bahagia kalau ayah cepat keluar dari sini. Oh ya... Mana ibu dan Sera ?".


"Ibu sedang sarapan dikantin bawah, Sera mungkin sedang mandi dengan perawatnya, kau tau nak.. ibumu sepertinya betah tinggal disini"


"Haaa bagaimana bisa yah?"


"Ada banyak perawat yang membantu ibumu menjaga Sera juga ayah"


"Oh begitu haha.. ibu lelah mungkin selama ini tidak ada yang bantu di rumah"


"Iya... Ayahmu ini tidak berguna lagi san"


Pak Hendra nampak sedih.. hidupnya sudah tidak seperti dulu yang pernah bergelimang harta. Bahkan Sania bersekolah harus sambil kerja part time.


Sania kecil hidup bahagia, dengan materi pak Hendra yang serba kecukupan walaupun ibu kandungnya meninggal sejak ia lahir namun ia merasakan kasih sayang yang cukup dari ibu tiri dan ayahnya.


"Ayah jangan bilang begitu" Sania tersedu. Bukan keinginan ayahnya menjadi sakit sakitan seperti ini, tapi mungkin ini cara Tuhan menyayangi hambanya untuk terus bersyukur akan nikmatnya.


"Oh ya mana suamimu nak?"


"Keruangan ayah mertua sepertinya, dia bilang ada yang urgent"


"Dampingi kemana pun suamimu pergi nak !"


"Iya yah ...Sania sayang ayah"


"Ayah juga"


Sania memeluk sang ayah mengharu, "mamaaaah.... "Teriak Sera yang tiba- tiba muncul.


"Hai anak manis, cantik sekali"


"Iya dong beautiful girl... Tante ,Mamaku satu Minggu lagi datang"


"Hhmm masa sih ?" Lalu memandang ayahnya "benar yah??"


"Iya mungkin, coba tanya ibumu ! . Lina menyesalkan kenapa ibu tidak beri kabar tentang pernikahanmu padanya"


"Ibu jawab apa ?"


"Ya... karena mendadak katanya"


"Hah aku juga nggak nyangka yah... Mas Rangga seserius ini sampai semua dipersiapkan sendiri."


"Jadilah istri yang baik nak!"


"Iya ayah.. Sania keluar dulu ya" lalu mencium tangan sang ayah.


"Ayo Anak manis kita keluar yuk cari nenek" ajaknya pada Sera.


"Oma ??"


"Hahaha... Iya iya Oma"

__ADS_1


"Baru disini 5 hari bahasanya sudah lain dia"


Sania pun pamit keluar pada ayahnya membawa serta Sera digandengnya.


"Sayang.. mau kemana?" Tanya Rangga yang kebetulan sudah ada di luar pintu.


"Oh ini... Mau cari omanya ke kantin mas"


"Papaa..." Senyum centil dan langsung meminta gendong.


Muach muach... Yang dicium nyengir kuda.


"Om...kita cari oma yuk ! Mau ajak naik pesawat , mamaku satu Minggu lagi mau pulang"


"Oh ya , benarkah ? Emang mama Sera sekarang dimana ?"


"Bali"


Rangga mengangguk, mencium kembali pipi Sera. Gemas sekali dengan bocah ini, dia jadi ingin segera punya anak sendiri.


"Lihatnya biasa aja dong ! Cemburu ya ?" Tanyanya pada sang istri.


Cup cup.. menyentuh dagunya lalu mencium kening dan pipi Sania.


"Malu mas" Sania celingukan "ini tempat umum"


"Ya udah nanti lanjut di kamar"


"Huush..." Gerakan mata Sania mengkode ada Sera yang sedang memperhatikan mereka. Anak itu mengalungkan tangannya di Rangga, sembari senyum-senyum melihat om dan tantenya mesra. Bagai merasakan kasih sayang kedua orang tua yang belum pernah dia rasakan.


Ibu Sania datang "Saraa....seraa"


"Sania.. Rangga" jawab sang ibu.


"Ah ibu bisa aja " mereka pun terkekeh.


"Sini sayang sama nenek!"


Sera menggeleng "no .. mau sama om" menyandarkan kepalanya di dada Rangga.


"Anak ini..."


"Biar lah Bu ... Sayang apa kita ajak saja Sera , katamu hari ini mau wisata " kata Rangga .


"Kalau mas tak keberatan, tak masalah"


Sania.


"Bu.. ibu hari ini istirahat saja, biar Sera kami yang asuh" Rangga meminta izin pada ibu. Dia ingin menikmati harinya seolah sudah memiliki anak. Itung itung latihan.


"Dia Bosenan lho nak Rangga , nanti kalau rewel gimana?" Ibu nampak khawatir.


"Kami ajak pengasuhnya"


Mereka pun lalu pamit pergi berempat bersama pengasuh Sera yang turut serta.


__ADS_1


Seharian mereka berkeliling kesebuah tempat wisata disana. Benar kata ibu, bocah kecil itu mudah sekali bosan. Baru saja minta foto dengan salah seorang yang memakai kostum Mickey mouse kartun kesukaannya, semenit kemudian ia berteriak ketakutan tidak mau melihat lagi. Rangga dan Sania dibuat kuwalahan menenangkannya.


"Biar saya saja tuan " pengasuh Sera mengambil alih tugasnya. Lalu membawa Sera berkeliling lagi, menggunakan stroller nya.


"Huuah... capek juga ya mas, maaf ya kami merepotkan mu" kata Sania.


"Latihan punya baby, suatu saat kita harus bisa mengasuhnya bersama "


Cup


Rangga mencium kening Sania ,membawa dalam dekapannya.


"Dia sama seperti mamanya, dulu kalau Lina tidak di naikan stroller pasti sudah lari larian hilang entah kemana. Belanja pun begitu, kalau tidak naik keranjang trolley pasti dia tertukar menggandeng tangan wanita lain dikira ibunya.haha lucu ya mas"


Cup


Pipi sania dikecup. "Jangan cium terus mas, malu" ucap Sania.


"Anak kita pun nanti lucu, seperti kamu. mamanya" Rangga mengelus pipi Sania yang merona.


Sania tersipu membayangkan mereka yang akan menjadi sebuah keluarga lengkap dengan anak- anak mereka kelak.


"Anak itu cerminan orang tua, mungkin bisa jadi wajahnya mirip, sikap kepribadiannya sama, watak nya juga, yang terpenting kita bisa mendidiknya lebih baik dari orang tuanya."ucap Rangga menjelaskan.


"Iya mas" Sania mendekap suaminya, rasanya nyaman selalu berada di dekat lelaki ini.


"Paapaaaa..mamaa." Sera datang bersama pengasuhnya sudah membawa gulali berwarna pink ditangannya.


"Hai cantik bawa apa itu ?" Tanya keduanya.


"Kapas manis, suster yang belikan" jawab Sera.


"Tante minta dikit dong" goda Sania.


"Nih ! Sedikit ya, jangan habiskan. Belinya jauh disana" sembari menunjuk arah yang pedagangnya tidak terlihat dari tempat mereka.


Semuanya tergelak, ternyata seru juga membawa anak kecil liburan bersama mereka, walau banyak drama yang kadang membuat emosi jiwa karena kerewelannya.


Kini mereka tengah duduk bersama menikmati makanan ringan yang dibeli pengasuh Sera.


"Non.. saya kira tadinya Sera putri anda " ucap pengasuh Sera.


"Hehe bukan, dia keponakan saya. Memang sedari bayi dia diajarkan untuk memanggil saya mama. Tapi lama lama dia tau kalau saya tantenya"


"Kenapa bisa begitu sayang ?"


"Waktu itu Lina melahirkan Sera di usia 18 tahun, 2bulan kemudian dia meninggalkan anaknya untuk melanjutkan kuliah. Kami menyetujui, tapi kami juga takut dia tidak mau mengakui anaknya, makanya anak ini diajarkan memanggil aku sebagai mamanya. Ternyata Lina intens video call dengan ibu di kampung menanyakan perkembangan Sera, akhirnya lama lama Sera menyebut aku Tante. Tapi tetap saja ketika memanggil di awal pasti kata mama yang di ucap pertama"


"Oh begitu " sahut suster menimpali, tidak ingin bertanya lebih ke yang bukan ranahnya.


"Aku kira saat pertama kali aku kerumahmu waktu itu, dia itu anakmu ternyata keponakan ya"


"Haha... Terus ,kalau memang dia anakku apa sebenarnya mas tidak mau denganku ?"


.


.

__ADS_1


.


next_...


__ADS_2