Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Di Bandara


__ADS_3

Seharian ini sepasang pengantin baru menghabiskan waktu hanya berdua di kamar hotel.


Makan, nonton, mengobrol, mereka hanya keluar untuk ke hotel lama mengambil barang- barang mereka sesaat setelah kepergian kurir online shop yang datang membawakan baju ganti baru untuk keduanya.


Setelah itu mereka kembali lagi ke hotel baru, mengemasi barang masing masing. Besok pagi keberangkatan Rangga ke Jerman. Lalu Sania akan tinggal di rumah sakit bersama sang ibu dan keponakan.


Menikmati kebersamaan sebelum berpisah, berat rasanya. Tapi keduanya sama- sama berkomitmen ikhlas serta setia. Walau sebulan mereka tidak akan berkomunikasi satu sama lain.


"Aku akan sangat merindukanmu sayang"


Cup


Rangga mencium pipi kanan Sania, memeluknya dari belakang.


Mereka tengah berdiri di depan jendela, memandangi jalanan kota dengan keramaiannya.


"Aku mencintaimu mas, kembalilah dengan sehat tidak kurang satu apapun"


Mereka saling tatap, "iya aku juga, sangat mencintaimu.. Jika Tuhan mengizinkan, aku pasti kembali sayang".


Dering ponsel Sania membuyarkan keromantisan yang tercipta.


"Angkat dulu ! Aku akan pesankan makan siang untuk kita"


"Iya mas, terima kasih"


Ucap sania, lalu mengambil ponsel dalam tasnya.


"Iya Bu..."


...


"Oh iya iya... Sania akan kerumah sakit jemput kalian, kita pulang bareng"


...


Panggilan pun dimatikan.


"Sudah sayang ?" Tanya Rangga kemudian mendekat.


"Sudah mas... Kebetulan banget, adikku besok sudah pulang. Aku ikut ibu pulang aja ya mas" Sania berbinar, wajahnya sumringah mengungkapkan betapa ia bahagia akan berada ditengah tengah keluarganya kembali.


"Oh begitu. Oke... Pulanglah bersama ibu, terserah mau tinggal di rumah, di kampung atau di apartemen. Yang penting jaga diri baik baik, jaga hatimu juga" Rangga mencolek hidung Sania.


Rumah yang Rangga maksud adalah rumahnya yang bersebelahan dengan rumah Devan.


Tidak masalah bagi Sania tinggal disana, yang terpenting dia bersama ibu dan keponakannya dan Rangga menyetujui itu.

__ADS_1


..........


Sania menggeliat bangun dari tidurnya, pagi ini dia bangun seorang diri. Sudah tak mendapati suami yang memeluknya lagi dan itu akan terjadi selama kurang lebih satu bulan lamanya.


Semalam, mereka menghadiri acara pernikahan teman Rangga. Sania cukup menikmati suasananya tanpa ada rasa canggung, membaur dengan semua rekan Rangga yang rata- rata dari Indonesia.


Dikesempatan itu Sania diperkenalkan sebagai istri oleh Rangga kepada semua rekannya. Tentunya membuat Sania tersanjung dan terharu, suaminya dengan bangganya memuji dirinya didepan semua orang.


Namun ada satu momen dimana Sania benar merasa cemburu, ketika sang empunya hajat menanyakan keberadaan Dina pada suaminya tercinta. "Ayo cepat pulang" ucapnya, dengan bibir imut cemberut. Sesaat kemudian, mereka pulang karena mendadak Rangga harus berangkat malam itu juga.


Rangga di jemput seseorang petugas yang akan mendampinginya sampai ke Jerman. Padahal rencananya ia dan sang suami akan berangkat bersama pagi ini walau tujuan berbeda.


Sania memandangi foto Rangga diponselnya, wajah tampan yang halal ia rindukan setiap harinya.



Sebenarnya malam tadi Sania terjaga dari tidurnya, ketika sang suami hendak keluar kamar sudah menyeret koper ditangan. Namun Rangga sudah mengatakan agar Sania tak mengantarnya walau hanya sampai pintu kamar mereka, sebab dia akan merasa berat hati meninggalkan sang istri. Jadilah Sania hanya mengintip kepergian sang suami dari celah pintu yang ia buka sedikit.


Sedih... Pasti. Rasanya ingin berteriak memanggil nama suaminya, kaki pun rasanya ingin berlari menghampiri, memeluk dari belakang, menghalau lelaki itu agar tidak pergi.


Patut di Apresiasi, memang dasarnya penurut. Hanya di beri pesan oleh sang suami untuk jangan menangisi kepergiaannya, jangan memberinya pelukan perpisahan, serta jangan menunjukkan air mata kesedihannya dihadapan lelaki itu, ya.. Sania mampu mematuhinya.


Namun tidak saat ini, diciumi layar ponsel miliknya. Karena hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini.


Sania mengerjap.


Beranjak dari tempat tidur ,Bergegas membersihkan diri lalu menyambar koper yang segala sesuatunya telah masuk kedalam sana. Termasuk sesuatu yang ia niat pakai tapi tidak sempat,dan entah punya siapa, Sania masih memikirkannya.


Sesampainya di Bandara.


Dering telpon dari sang ibu terus terdengar dari dalam tasnya.


"Hallo Bu, iya iya sebentar lagi sampai di terminal keberangkatan"


Bruuuug... Aaaahh


"Maaf sir, saya tidak sengaja" ucap Sania menunduk, menangkupkan kedua tangannya.


"Matanya digunakan ya nona !, calon istri saya sedang hamil ini. Kalau terjadi sesuatu saya tuntut anda" hardik seorang pria yang Sania perkirakan mungkin usianya tidak jauh beda dari ibunya.


"Sudah ayo... Aku ingin cepat sampai" ujar wanita yang dimaksud.


Sania yang sedang menunduk seketika mendongak, melihat sekilas wajah wanita yang kini telah berlalu meninggalkannya.


"Kayak kenal suaranya" gumam Sania.


Masih menoleh pada pasangan tadi.

__ADS_1


Ponsel berdering lagi, disertai seruan untuk para penumpang yang akan bertolak ke Jakarta.


Sania tergopoh- gopoh berlarian di bandara mengejar waktu, karena sang ibu yang terus menelponnya.


"Ayo om, kenapa masih menengok kebelakang ?"


"Iya iya ayo... Gadis itu tadi persis seorang karyawan di kantorku"


"Mungkin mukanya pasaran"


.........


Sesampainya di bandara Soekarno Hatta. "bu.. kita mau langsung pulang atau ke rumah mas Rangga dulu" tanya Sania pada ibunya.


"Rumah pak Wijaya dulu, soalnya adikmu baru landing nanti sore" jawab ibu, "Kamu jangan capek- capek sini biar Sera, ibu yang gendong" imbuhnya.


"Biarin Bu, masih nyenyak. Kasian kalo ke ganggu"


"Takutnya mengganggu sesuatu yang sedang berproses diperutmu"


Sania tergelak "habis makan mules ya biasanya".


Ibu menggeleng sambil tersenyum, jawaban Sania polos hanya menanggapi dengan candaan, padahal bukan itu yang ibu maksud.


"Hai kak, apa kabar ?" Reno menyalami tangan kakak ipar dan sang ibu bergantian.


"Baik... Terima kasih ya sudah mau jemput" ucap Sania .


"Iya nak Reno, terima kasih banyak. Maaf kami merepotkan mu" timpal ibu.


"Nggak apa apa Bu, Reno tulus melakukannya".


"Om... Di rumah om ada es krim nggak ?"


Tanya si kecil Sera yang ternyata sudah bangun hilang rasa kantuknya.


"Ooh ada dong, banyaaaaak. Kan om juga suka es krim" bohong Reno.


Awalan acting yang bagus, untuk membuat Sera tertarik dan betah nantinya tinggal di rumah pak Wijaya.


Bagaimana pun Reno akan mudah menjaga dan mengawasi kakak iparnya selagi mereka masih dalam satu rumah. Selama Rangga tidak ada, Reno dan pak Wijaya yang akan bertugas melindungi Sania.


Reno memicingkan mata, memastikan apa yang dia lihat adalah benar orangnya. "itu bukannya Citra, kenapa sama om Erik. mau kemana mereka ?" lirih Reno pelan, namun Sania masih samar samar mendengar Reno bergumam.


"ada apa Ren ? yang mana?" tanya sania ingin tau.


Sania mengedarkan pandangannya lalu......ya. Dia menangkap dua orang yang agak jauh dari mereka. "orang yang tadi, kok mirip pak Erik ya".

__ADS_1


Sania mengenalnya sebab Erik adalah CEO di kantornya.


__ADS_2