Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Suami Idaman


__ADS_3

Siang ini Rangga dan Sania tiba di rumah sakit pusat janendra di Singapura.


Mereka langsung menuju sebuah bangunan disebelah gedung rumah sakit itu. Masih satu lingkungan, hanya saja bangunan ini lebih terlihat seperti rumah tinggal siap huni dan terpisah dari gedung yang beroperasi sebagai rumah sakit.


Rumah itu hanya bangunan satu lantai tapi desain interior dan eksteriornya mengagumkan, layaknya type bangunan di perumahan elit. Di sekelilingnya taman bunga luas dan kolam ikan juga air mancur. Jadi tidak seperti terlihat tinggal di rumah sakit. Hanya saja saat duduk di terasnya pemandangan gedung berlantai lima itu terlihat jelas bertuliskan Rumah sakit Janendra.


Seorang pelayan menyambut kedatangan mereka dengan pintu rumah terbuka.


"Selamat siang tuan, nyonya". Sapanya.


"Selamat siang" balas mereka bersamaan.


Pelayan itu mempersilahkan keduanya masuk dan beristirahat. Lalu pamit untuk menyiapkan makanan untuk mereka berdua.


Sesampainya di kamar Sania duduk di ranjang king size nan empuk.


Ia mengedarkan pandangan kesegala sudut ruangan.


"Kenapa sayang ? Untuk sementara kita tinggal disini dulu ya". Rangga meletakkan koper dan barang bawaan mereka dekat sofa lalu menyusul istrinya duduk di ranjang.


"Iya mas, rumahnya bagus. Rumah siapa ini?".


Rangga mengulas senyum, mengusap rambut Sania "Rumah ini sengaja aku siapkan untuk kita, aku takut pekerjaanku yang sering datang mendadak, menyita waktuku bersamamu".


"Maksud mas ?"


"Selagi aku tugas di sana" Rangga menunjuk gedung besar yang terlihat dari dalam jendela kamar mereka. "Istriku ada disini untuk menyemangati, jadi kapanpun aku rindu, aku bisa datang padamu kesini". Rangga tersenyum menggoda lalu menoel hidung Sania.


Sania paham suaminya sedang menggodanya. Sebegitu perhatiannya Rangga, sampai dia dibawa saat suaminya itu akan bekerja, dengan membuatkan rumah senyaman ini.


Rangga memeluk sania, menciumi puncak kepala istrinya. "Aku mencintaimu".

__ADS_1


Sania membalas pelukan rangga dengan melingkar tangan kirinya kepunggung suaminya. Merasai aroma damai dalam dekapan sang suami.


Begini rasanya dicintai, dan dikelilingi orang-orang yang menyayanginya.


Rangga merenggangkan pelukannya, menunduk menatap istrinya yang malah memejamkan mata. "Hhm.. kok nggak jawab ?".


Sania membuka mata seketika, menatap balik Rangga. "Apa ?"


Senyum tipis lalu menggeleng, tak tahan rasanya hanya terus memandangi bibir Sania yang menggoda.


"Aku mencintaimu sayang" ucapnya lagi.


Tersenyum malu, Sania menjawab "aku ju...mmmppt". Netra Sania membulat saat mendapat serangan bibir dari Rangga yang mendadak.


Dua pasang mata itu terpejam, menikmati, merasai dan mengaliri perasaan rindu masing-masing melalui permainan bibir.


Satu tangan Rangga mengusap punggung Sania, satunya lagi menekan tengkuk leher istrinya. Memperdalam aduan Indera perasa mereka.


Cukup lihai Sania mengimbangi, membuat gejolak hasrat Rangga menggebu menginginkan lebih.


Suasana canggung tercipta, sudah seperti sepasang kekasih yang melepas rindu tapi malu dengan kelakuan mereka.


Paham apa yang suaminya rasakan, tapi Sania juga malu untuk memulainya. Bahkan dia tidak mengerti bagaimana harus mengawalinya.


Kalau pun suaminya meminta, dia akan siap untuk memberikan. Bagaimana pun kondisi tangannya tak akan ia keluhkan.


"Mau istirahat ?" Rangga bertanya memecah kecanggungan diantara mereka.


"Mau ganti perban dulu" jawab Sania.


"Biar aku yang bantu"

__ADS_1


Sania menatap gerakan tangan suaminya yang cekatan dan telaten merawatnya. Dirinya masih tidak menyangka saat ini telah bersuami. Memiliki seorang pria yang memberinya cinta dan kasih sayang, melindungi dan menjaganya, memberikan seluruh perhatian dan menahan keegoisannya.


Bagaimana tidak, Sania tau suaminya itu ingin sekali menyentuhnya. Tapi selalu diurungkan niatnya sebab tidak tega melihat tangan Sania lemah tidak berdaya.


Padahal setiap berganti pakaian Rangga lah yang membantunya, Sania malu dan sempat berfikir apa tubuhnya tidak terlihat menarik untuk suaminya. Kenapa bisa begitu lama Rangga mampu menahan hasratnya, walau sudah menyentuh dan memandangi lekuk body sintalnya.


Tapi semua itu tidak benar, itu hanya perasaan Sania, karena setiap kata cinta yang terucap dari bibir suaminya, meyakinkan betul sikap itu karena Rangga tidak ingin menyakiti fisik istrinya.


"Ehm mas... Apa aku mandi sekalian aja ya, bentar lagi sore". Ucap Sania membuat Rangga meletakkan kembali perban yang baru pada tempatnya.


Kemudian menatap lamat wajah cantik istrinya.


Menunggu jawaban, malah ia mendapati senyuman Rangga yang terasa aneh dilihat Sania, seakan suaminya menyeringai licik.


Sania beringsut, lekas bangkit dan menjauh dari suaminya.


"Sayang...!" Seru Rangga saat melihat Sania terburu pergi dari hadapannya dan malah berlari ke kamar mandi.


Meski dengan tangan kiri, Sania masih bisa menutup dengan cepat pintu itu sambil menyahut panggilan Rangga. "Mau mandi". Teriaknya.


Rangga berdiri hendak menyusul "sayang aku bantu !".


"Nggak usah mas".


Pasrah. Menatap pintu yang sudah tertutup. Sania sepertinya tau gelagat senyuman Rangga yang tidak sabar ingin menerkamnya. Dirinya malah terkikik geli.


Mungkinkah ini yang namanya pacaran setelah menikah. Hal kecil apapun yang mereka lakukan semakin memupuk rasa cinta yang sedang bersemi dihati.


Ditengah senyumnya yang belum surut, pelayan datang mengetuk pintu. Membawakan makanan yang langsung diterima Rangga.


Dengan senang hati Rangga juga mau mempersiapkan kebutuhan baju ganti untuk Sania dan membereskan barang bawaan mereka.

__ADS_1


Tidak melulu istri yang harus melayani segala hal untuk suami. Tapi kalau suami sendiri mau berbagi tugas itu tidak akan membuat harga dirinya turun hanya karena meringankan pekerjaan istri.


Justru suami yang seperti ini yang diidamkan wanita. Terlebih suatu saat nanti akan banyak tugas lagi setelah anak hadir ditengah mereka.


__ADS_2