Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Orang Asing


__ADS_3

Tidak berlama lama di rumah sakit Jakarta, Pak Wijaya memutuskan secepatnya membawa mama Devan ke rumah sakit pusat di Singapura. Demi memudahkan ia memantau kondisi besan juga adiknya.


Sedang Reno berangkat ke Jogja menyusul kakak ipar dan keluarganya.


Perasaannya berkecamuk, dia paling tidak bisa berbohong kalau ditanya.


Mungkin bila Sania tidak menanyakan tentang kabar kakaknya dia bisa saja merahasiakan mengenai kekhawatiran sang ayah. Namun apabila Sania menanyakannya sudah pasti anak itu berkata yang sebenarnya.


Bukan hanya pak Wijaya saja yang cemas tapi Sania pun akan begitu terlebih mereka masih pengantin baru. Berbagai macam pikiran buruk akan menghiasi hari- harinya nanti.


Tapi belum masalah Sania, sekarang Renolah yang saat ini mendadak mengkhawatirkan semuanya.


Ia menggelengkan kepalanya pertanda pikiran negatif sedikit mengusik ketenangannya. "Semoga semua baik - baik saja" itu yang diucapkan Reno. Setidaknya untuk beberapa saat menenangkan dirinya.


.........


Sudah tiga hari keluarga Sania berlibur di pantai ini, sejak keberangkatan Reno pagi itu, seketika mereka pun bertolak ke tempat ini.


Dua hari ini, ibu dan Lina juga Sera beserta pelayan dan pengasuhnya puas bermain dipantai.


"Kak sore ini aku mau ke sana" tunjuk Lina pada sebuah bangunan yang sepertinya pusat perbelanjaan.


Sania hanya mengangguk, entah kenapa dia malas sekali kemana mana dan tetap memilih di dalam kamar hotel saja selagi yang lain bersenang senang.


"Kak, sudah tiga hari lho... kakak nggak ada menikmati sedikit pun liburan ini, kenapa?" Lina sedikit mendekati kakaknya yang sedang duduk di sofa dekat jendela kamar mereka.


Lagi lagi tak ada jawaban, kakaknya hanya menggeleng.


"Kak, aku mau belanja.. Harusnya ini jadi momen aku dan ibu bersenang senang, memilih milih sesuatu untuk buah tangan. Tapi kalau kakak diam saja begini kami nggak tenang nanti, akan kepikiran kakak terus"


Mendengus, Menarik nafasnya panjang lalu mengeluarkannya perlahan. Setelahnya, Sania menjawab ocehan adiknya yang terdengar cerewet sekali dari tadi.


"Iya, pergilah !" Hanya itu yang terucap olehnya, masih menatap keluar jendela.


"Ck... Kakak ini kenapa ?" Lina menghempaskan tubuhnya kasar, duduk di atas kasur menghadap kakaknya.


Ceklek. Pintu terbuka.


Terdengar derap langkah kaki ibu, masuk menghampiri keduanya, sontak Lina pun menengok.


"Sayang, kami semua udah siap menunggu kalian dibawah dari tadi, kenapa lama sekali ?" Tanya ibu menaikkan sebelah alisnya.


"Bu.. sepertinya kak Sania sakit". Ucap Lina mengadu.


"Nak benarkah itu ?" Ibu mendadak cemas, seketika ia menyesal telah meninggalkan Sania seorang diri di kamarnya dari kemarin.


Ibu berjalan cepat, lalu duduk di sofa yang sama dengan Sania. Ibu mulai menempelkan tangannya pada kening Sania.


Di sentuhnya seluruh tubuh Sania, lengan, leher, betis terakhir telapak tangan di bolak balik. "Aman" kata ibu.


Lina yang menyaksikan itu mengerutkan keningnya. Lalu mengatakan "Mungkin kakak rindu".


Seketika Sania menoleh pada Lina, lalu berpaling menatap wanita yang selama ini mencurahkan segenap kasih sayangnya walau dia bukan putri kandungnya.


Buliran bening itu lolos begitu saja dipipi Sania tanpa permisi. Ia pun berhambur memeluk sang ibu, terisak dalam pelukannya. Entah kenapa mendengar adiknya mengucapkan kata rindu, dadanya terasa sesak.


Menangis tersedu masih dalam pelukan ibu, lehernya terasa tercekat bibirnya kelu untuk mengucap.

__ADS_1


"Tenang sayang.. ada kami disini" paham putrinya bersedih, benar anaknya ini sedang dilanda rindu tapi ibu masih tidak yakin lalu bertanya. "San-- "


Belum selesai ibu berkata, Sania mengurai pelukannya. "Bu... Suamiku nggak ada kabar" ucapnya.


Hhm.. benar ternyata.


Lina yang dari tadi mendengarkan tercengang, bukankah kakaknya hanya dijodohkan. Tapi melihat dari cara Sania merindukan suaminya, sepertinya kakaknya begitu mencintai suaminya.


Setelah cukup lama menenangkan Sania akhirnya ibu dan Lina tetap memutuskan untuk pergi berbelanja sedangkan Sania akhirnya memilih untuk keluar kamar menikmati langit yang sudah berwarna orange.


Dia sudah duduk disana, menikmati sunset dipantai itu ditemani deburan ombak. Satu persatu semua orang meninggalkan tempat dimana Sania masih duduk menikmati pemandangan laut lepas, dengan ombaknya yang saling berkejaran.


Pandangannya hanya terarah pada lautan luas, tak peduli sekelilingnya sudah tak seramai sore tadi.


"Hai.. boleh aku temani ?" Tanya seorang pria yang tertarik mendekati Sania, dan tanpa sungkan langsung duduk bersebelahan dengannya.


Sania hanya menoleh sekilas, tanpa mau menjawab.


Pria itu mengulurkan tangan mengajaknya bersalaman. "Kenalin, Kelvin"


Sania hanya menatap pada tangan yang menjulur didepannya. "Iya " jawabnya menyambut uluran tangan pria itu.


Pria yang baru saja menyebut nama Kelvin itu mengernyitkan dahinya,lalu menarik kembali tangannya.


"Siapa namamu?"


"Sania"


"Apa yang sedang kau fikirkan? Kenapa menyendiri ?"


"Aku baru saja ditinggal kekasihku. Menghilang, entah kemana".


Kelvin mulai membuka obrolan, dan nampaknya Sania tertarik mendengarnya, terlihat dari cara Sania mengubah posisi duduknya lebih santai untuk bercerita.


Sepasang mata yang mengawasi dari kejauhan nampak waspada, alih alih mendengarkan. Wajah Sania saja tak terlihat jelas olehnya sebab posisi ia berdiri terlampau jauh.


"Hilang kemana?" Tanya Sania


Pria itu tergelak "kalau aku tau bukan hilang namanya, ha ha"


"Kekasihmu hilang, tapi kamu bahagia"


"Tentu.. karna aku sudah menemukan penggantinya".


Sania mengangguk mengerti.


"Kau belum jawab pertanyaanku, kenapa sendirian?".


"Menunggu suamiku"


Kelvin terperangah "ku kira masih gadis, ternyata bersuami hahaha". Tawanya menggema.


"Memangnya kemana? Ku lihat kau dari tadi sendirian".


"Jerman"


"Hhmmmpt Jerman ? Hahahaha"

__ADS_1


Kelvin menutup mulutnya yang terbuka lebar. Entah ada apa dengan dirinya, selalu saja menertawai Sania.


"Kenapa tertawa?"


"Pasti suamimu juga hilang disana"


Sania terperanjat dengan ucapan Kelvin, "jangan sembarangan kalau ngomong !"


"Suami mu pasti nggak ada kabar kan ?"


Sania mulai tak nyaman mengobrol dengan pria ini. Baru saja kenal sudah sok akrab.


"Pasti tebakanku benar hahaha"


Sania bangkit dari duduknya hendak pergi meninggalkannya.


"Mau kemana ? disini saja ! akan aku ceritakan padamu".


Sania tidak peduli dia tetap berjalan meninggalkan Kelvin . Menyadari itu Kelvin rupanya berusaha mengejar Sania lalu meraih tangannya.


"hei tunggu !"


Ditariknya tangan Sania.


Bug


arrrgggghh


Cekalan tangan itu terlepas, Sania tersentak Kelvin jatuh tersungkur diatas pasir.


"Brengsek... kontraktor kampungan" umpat Reno.


Baik Kelvin maupun Sania tercengang, sejak kapan ada Reno disini. Mereka tidak menyadari itu.


"Kak apa dia kurang ajar padamu?"


Sania menggeleng cepat, masih terkejut dengan kedatangan Reno yang tiba tiba.


"Hei Reno.. aku bisa jelaskan padamu"


"ck.. nggak perlu, nggak penting"


Reno lalu meraih tangan Sania, mengajaknya pergi dari sana.


Mereka berjalan menyusuri bibir pantai meninggalkan pria asing tadi, asing bagi Sania tapi tidak asing bagi Reno.


Adik iparnya ini menjalin kerja sama dengan Kelvin sebagai kontraktor pembangunan resortnya yang baru. Maka dari itu Reno mengenalnya.


"Ren sejak kapan kamu disini ?"


"Baru saja sampai, aku cari di kamar kakak ternyata kosong. Aku telpon ibu, kata ibu kakak disini jadi aku langsung kesini" jawabnya. "Ponsel kakak kemana?"


"oh itu... di kamar, aku lupa bawa".


Reno mengangguk paham. "Kak, tolong jangan bicara dengan orang asing. Terlebih dengan laki-laki".


Sania hanya menanggapinya dengan senyuman, jangankan orang lain. Dengan Devan yang masih saudaranya saja Reno bisa berlaku kasar. Sebegitu posesifnya bodyguardnya ini.

__ADS_1


__ADS_2