
Di dalam kereta.
"Mas terima kasih udah mau antar aku pulang"
Rangga saat ini sedang duduk disamping kanan Sania. Laki- laki ini iba pada keadaan Sania , hidup diperantauan sendiri dan mengalami musibah bertubi- tubi.
Bagaimana tidak dibilang musibah? Pertama, dia kecelakaan tak ada yang menjenguk bahkan menemaninya ketika dirawat di rumah sakit.
Kedua, dia melihat langsung pacarnya berselingkuh dan mengetahui kebenaran kenapa selama ini hubungan dia dan Devan dingin.
Terakhir ketika diklinik tadi. Rangga membawa tubuh Sania yang oleng di pintu cafe tadi, menuju sebuah klinik untuk diperiksa.
Tensi darah Sania rendah, itu yang mengakibatkan Sania sering pusing. Ditambah pula Sania hanya makan siang tadi ketika baru pulang dari rumah sakit dan masih ada Rangga.
Setelah pemeriksaan selesai Rangga berniat mengantar pulang Sania. Tapi tiba- tiba hape Sania berdering.
Syok berkali kali Sania rasakan, ibu tirinya di kampung memberi kabar bahwa ayahnya jatuh dari tangga dan tidak mau dibawa kerumah sakit.
Ayahnya pernah mengalami gejala stroke ringan, ibunya khawatir ayahnya bisa tambah parah kalau tidak cepat diperiksakan .
Akhirnya dalam keadaan panik Sania meminta Rangga langsung mengantarnya ke stasiun saja.
__ADS_1
Dia mau langsung pulang kampung melihat kondisi ayahnya.
Rangga yang tidak tega melihat keadaan Sania, yang dia sendiri pun sedang lemah Rangga akhirnya memutuskan untuk menemani, mengantar Sania hingga kerumahnya di kampung.
Dengan gerak cepat Rangga beli tiket via online.
Pikiran Rangga benar- benar terbagi, Menenangkan Sania yang masih dalam kondisi panik dan juga harus fokus menyetir, jangan sampai malah terjadi apa- apa pada mereka, bukannya menjenguk malah mereka nanti yang di jenguk.
"Tidur lah, nggak perlu sungkan.. menyandar lah disini !" Tepuk Rangga bahunya sendiri, meminta Sania untuk menyandar padanya.
Sedari kereta baru membunyikan tanda keberangkatannya, Sania sudah menyandar Kedinding body gerbong kereta.
Rangga yakin kepala Sania yang pusing akan bertambah pusing dengan getaran laju kereta nanti yang langsung terasa pada kepalanya yang menempel itu.
Tak sedikitpun ada pikiran mesum di otak Rangga . Dia tulus menjaga Sania.
Satu jam berlalu.. Kepala Sania berkali- kali oleng kedepan, oleng ke samping, kadang terbentur ke jendela kereta sebelah kirinya, kadang oleng ke bahu rangga, tapi Sania berusaha memposisikan badannya tetap tegap lagi walau dalam keadaan tidak sadar.
Tidur dalam posisi duduk dan tak ada penyangga kepala memang pasti membuat siapapun akan mengalami hal serupa.
Rangga yang melihatnya was was. Takut Sania malah terjungkal kebawah. Dia juga nanti yang repot, pikir Rangga.
__ADS_1
Dia memberanikan diri menyentuh kepala Sania, meletakkannya di bahu kirinya.
Rangga merendahkan posisi tubuhnya agar Sania nyaman bersandar pada bahunya.
Diselimuti badan Sania dengan jaket Hoodie yang tadi Rangga pakai.
Sekilas seperti sepasang kekasih yang sangat romantis, siapapun pasti iri melihatnya.
Namun siapa sangka kalau ternyata sang pria sedang menjaga kekasih orang.
Ya.. kekasih orang ,sebab kenyataannya Sania masih berstatus pacar devan. Kalau pun Rangga ingin merebutnya ,dia akan minta baik- baik pada Devan , Rangga tak ingin terjadi perang saudara.
tiga jam pun berlalu. Tangan Rangga bersedekap didada, terjaga demi Sania, namun Rangga yang juga lelah seharian ini akhirnya ikut tertidur dengan kepala yang bersentuhan dengan kepala Sania.
.
.
.
.
__ADS_1
siapa yang pernah naik kereta ? ☝️