
Selesai membereskan isi dalam koper ke lemari baru, Rangga keluar untuk melihat apa apa yang kurang dari rumah yang akan menjadi tempat tinggal sementara mereka ini.
Tak berapa lama kemudian Sania sudah selesai memakai pakaiannya, sedikit bersyukur karena tidak ada suaminya yang melihat walau susah payah memakai semua hanya dengan satu tangan saja.
Pintu terbuka lalu ditutup kembali, kemudian terdengar langkah kaki masuk dalam kamar yang pasti sudah Sania kenal seiring dengan panggilan Rangga yang mengudara.
"Sayang.."
"Iya mas" Sania menyahuti tanpa mengalihkan pandangannya dari berbagai macam hidangan di meja sana.
"Loh... Sudah selesai ?".
Dari nadanya terdengar kecewa.
Menurut Rangga kalaupun tidak bisa menyentuh sekarang setidaknya masih bisa ia pandangi. Walau alasannya membantu melepas atau memakaikan baju.
Sania menyengir, "lapar" ucapnya.
"Ah iya iya, biar aku yang suapi".
Duduk berdampingan, Sania menunjuk lauk apa saja yang mau ia makan, sedangkan Rangga dengan sabarnya menuruti.
Suapan pertama Rangga makan terlebih dahulu, mencicipi rasa sebelum dimakan oleh istrinya. Apakah layak atau tidak, sebab bukan koki yang memasak. Yang terhidang menu masakan rumahan dan asisten rumah tangganya ini asli pribumi. Rangga takut Sania belum cocok dengan masakannya.
"Enak ?" Tanya Sania, suaminya hanya mengangguk sambil mengunyah, lalu menyendok kedua kalinya.
"A !" Angguk Rangga sembari mengedipkan sebelah matanya.
Sania beringsut, "ih nggak enak ya ?".
"Enak".
Ragu-ragu Sania buka mulutnya, menerima suapan dari sang suami.
Kedua alis Rangga naik turun lalu tersenyum "aku cuma ingat waktu kita di kebun raya Bogor". Ucapnya seraya menyendok dan melahapnya sendiri.
__ADS_1
Sania mengulas senyum ditengah kunyahannya. Mengingat kembali sendok yang pernah ia pakai, Rangga pun tak sungkan memakainya juga.
"Akhirnya kita bersama, aku bahagia memilikimu".
Satu kecupan Rangga berikan di pipi istrinya, membuat Sania selalu merasa dicintai oleh pria ini.
"Sayang-...". Rangga meraih ponsel dalam sakunya. "Bentar".
Sania menunggu suaminya memindai setiap pesan yang masuk dalam ponselnya sambil memakan kerupuk.
"Pelakunya sudah dipenjara". Ucap Rangga masih sibuk membaca pesan lainnya.
"Siapa ?"
"Kelvin, sayang kenal ?". Bertanya pada istrinya padahal dia sendiri mengenal siapa Kelvin yang Adam sebutkan dalam pesan teks itu.
Sania menggeleng, sambil mengunyah. Bola matanya melirik kanan kiri menandakan ia sedang berfikir, mengingat siapa pemilik nama itu.
"Reno bilang kalian pernah bertemu di pantai". Kata Rangga santai.
"Pelan sayang, minum minum !". Disodorkan segelas air putih ke tangan kiri Sania.
"Aku lupa" jujur Sania saat dirasa tenggorokannya aman untuk bicara.
"Bukan masalah". Tangan kanan mengelus elus punggung Sania sementara tangan kiri Rangga membuka pesan berikutnya.
"Tapi kata Adam, ibu kenal sama pelakunya langsung Tono namanya".
Sania lebih tersentak, itu nama tetangganya. Mungkin hanya kebetulan sama, pikirnya.
"Tetangga kalian di kampung".
Membulat sempurna netra Sania, belum selesai terkejutnya ini lebih mengejutkan lagi.
Dendam apa Tono padanya sampai tega melakukan itu. Padahal yang seharusnya menyimpan dendam adalah Sania.
__ADS_1
Dengan lancang pria gempal itu menyumpahinya janda hingga membuatnya bersedih sepanjang malam.
Mungkin pria itu menganggapnya hanya bercanda, namun Sania yang saat itu sedang merindukan suaminya menjadi sensitif dengan ucapan yang tidak mengenakkan dia dengar.
Sania menggedikkan bahu, bingung harus menanggapi seperti apa. Terserahlah biarkan saja orang jahat itu masuk bui.
Rangga meletakkan ponselnya, kemudian mengambil piring yang sempat ia letakkan tadi, memulai menyuapi lagi.
"Richard sudah menyiapkan obat untuk tanganmu, setelah ini kita kesana ya. Lebih cepat lebih baik".
Cup.
Pipi yang sedang bergerak-gerak mengunyah itu dikecup Rangga.
"Oh iya.. aku mau ceritakan ssesuatu padamu".
Sania menatap suaminya, mendengarkan sambil terus menerima suapan demi suapan dari Rangga.
"Aku punya teman kembar di masa kecil". Rangga menghela, semoga saja Sania bisa menerima penjelasannya tanpa salah paham.
Ekspresi Sania menunjukkan dia tertarik untuk mendengarkan lebih lanjut.
"Tenyata sekarang dia sukses di Jerman. Menjadi orang terkenal di negara itu, bahkan satu kota dibawah kekuasaannya". Rangga bergeser sedikit merubah posisi duduknya yang tiba-tiba ia rasa tidak nyaman.
"Dia memintaku tinggal di mansionnya untuk merawat adiknya yang sakit".
Sania mengkerutkan keningnya.
"Leon merasa curiga dengan orang-orang kepercayaannya. Bertahun - tahun Leona ditangani oleh dokter bertangan dingin lulusan Amerika. Tapi sampai saat ini sakitnya tidak kunjung sembuh".
"Kenapa bisa begitu ?"
"Entah lah, dia memintaku untuk tinggal, tapi aku menolak dan aku mengatakan sudah menikah, aku tidak mau meninggalkanmu untuk jangka waktu yang lama".
Sania mengulas senyum, mengerti.
__ADS_1
"Sayang percayalah, aku hanya mencintaimu. Cuma kamu".