Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Gosip ibu ibu


__ADS_3

Pagi yang sejuk, Sania menggeliat bangun dari tidurnya.


Di luar masih gelap tapi aktivitas pagi sudah dimulai oleh kebanyakan perempuan di dunia ini, termasuk ibu.


Dari arah dapur sudah tercium bau masakan yang menggugah selera. Ada tiga wanita disana, ibu, Neneng dan Santi pengasuh Sera sedang memasak bersama.


Sania menghampiri ketiganya yang tengah asik memasak sambil mengobrol, terdengar riuh hingga keluar sampai ruang keluarga.


"Pagi bu.." Sania mendekap sang ibu, seraya memberi senyum pada lainnya.


"Anak ibu sudah bangun"


Terdengar sangat manja memang, tapi begitulah Sania. Gadis periang yang disayang oleh ibu tirinya.


Dulu, ketika ibu sedang memasak Lina yang bantu. Sedangkan Sania mengambil alih tugas lain, seperti membersihkan rumah dan lainnya. Tapi saat ini ada neneng, yang sudah menyelesaikan semua yang biasanya Sania kerjakan.


Kedua wanita disana memandang iri pada keharmonisan keluarga Sania. Terlihat kompak tak pernah berselisih paham, ramah pada orang lain seperti mereka dan pastinya mereka pun nyaman bersama keluarga Sania tanpa merasa dibedakan bahwa mereka hanyalah pelayan yang dibayar Reno untuk membantu keluarga Sania.


"Ibu mau keluar dulu cari tukang sayur, sepertinya ada yang kurang lengkap".


"Apa sudah ada yang buka Bu ? Ini kan masih gelap " tanya pengasuh Sera.


Setelah cuci tangan ibu lekas bergegas keluar dapur sambil menyahut pertanyaan Santi "Ada, mangkal di perempatan sana biasanya".


Terlihat terburu buru takut kehabisan.


"Buu ikuuut !" Seru Sania, lalu berlari mengejar ibunya.


Biasanya Sania akan ikut sibuk memilih, tapi bukan sayur yang dia pilih melainkan jajanan pasar yang juga dijual oleh tukang sayur itu. Sambil menunggu ibu berbelanja, Sania akan sibuk memakan beberapa macam kue kuean yang dia ambil. Nanti sewaktu akan membayar dia hanya perlihatkan bungkusnya saja pada yang jual, karena isinya sudah berpindah masuk dalam perutnya.

__ADS_1


Momen seperti ini sudah tidak pernah ia lakukan semenjak kerja merantau ke ibu kota. Terlebih saat ini dirinya sudah menikah, lain waktu pasti sudah tidak akan bisa seperti ini lagi. Jadi kesempatan ini akan ia nikmati sebaik mungkin.


Senyum mengembang di bibirnya sambil berjalan menggandeng tangan sang ibu.


Sesampainya di tukang sayur, senyum Sania pudar.


Sudah banyak yang berubah ternyata, yang jualan bertambah banyak yang beli pun sangat banyak. Sania mengedarkan pandangannya, ramai terlihat. Banyak sekali ibu- ibu disana.


Dia tidak menyangka akan seramai ini, beberapa saat mereka menunggu tapi belum ada satu pun dari kumpulan ibu-ibu itu yang beranjak pergi setelah menenteng sebuah kantong plastik ditangannya.


Sepertinya belanja sayur jadi nomor dua sekarang, suasana ramai itu dijadikan ajang mengobrol dan ngerumpi sesama ibu-ibu, mungkin sebagian dari mereka sudah menyelesaikan waktu masaknya untuk sarapan pagi ini. Sehingga memiliki waktu luang untuk lebih berlama lama di tempat itu.


"Ayo cepat, nanti kehabisan" tarik ibu tangan sania.


"Aku disini aja Bu, sumpek disana".


"Ya sudah, tunggu disini. Jangan kemana mana !" Perintah ibu, seakan melarang gadis kecilnya pergi karena takut hilang.


"Eh ada Bu Riska, lama nggak kelihatan nih. Kemana aja?" Seru salah satu wanita dari sekumpulan ibu-ibu disana, terdengar menyapa kedatangan ibunya Sania.


Ibu membalas senyum, "di rumah" cukup singkat menjawab, biar nggak merembet kemana-mana pertanyaannya.


Wanita lain menimpali "jeng, katanya Sania udah nikah ya? Dapat orang mana?".


"Kata siapa ? Perasaan saya belum kabar-kabar". Sahut ibu.


"Itu lho liat di akun Facebook Lina, katanya ada foto Sania ijab kabul".


Ibu mengerutkan keningnya, Lina saja tidak ada sewaktu acara bagaimana bisa upload foto itu. Ah mungkin dia minta foto itu pada kakaknya sendiri pikir ibu kemudian.

__ADS_1


"Ohhh benarkah itu jeng ? Kapan ngunduh mantu ?" Timpal ibu-ibu lainnya.


Ibu tersenyum "iya nanti dikabarin kalau sudah waktunya".


"Dapet orang mana Bu ? Orang asli Jakarta ya ? Tajir dong ?" Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari masing masing mereka yang lama kelamaan terdengar nyinyir dan semakin berisik.


Ibu mempercepat memilih apa yang beliau butuhkan di dapur, lalu menyela untuk membayar secepat mungkin.


"Pak Hendra kok lama nggak kelihatan juga, apa sedang isolasi mandiri didalam rumah ?"


Masih ada saja yang bertanya.


"Buu..." Panggil Sania.


"Iya sebentar" pekik ibu menyahuti Sania.


Semua orang menoleh padanya, "ohhh itu si sulung yang baru menikah Bu ? Mana suaminya ?"


"Maaf ya Bu ibu... Saya duluan, permisi"


Tanpa menjawab lagi ibu langsung meninggalkan mereka yang masih sibuk bergunjing. Lalu menggandeng tangan Sania pergi meninggalkan keramaian itu.


.


.


.


.

__ADS_1


Terimakasih yang uda sempetin baca cerita aku 🤗😘


__ADS_2