
Hari pun berganti, Devan mulai fokus mengumpulkan bukti kesalahan Erik . Mulai dari pemotongan gaji karyawan yang tidak jelas alasannya, mengurangi jumlah bonus yang diterima oleh karyawan dengan kinerja bagus setiap bulannya. Pengeluaran anggaran belanja yang totalnya cukup merugikan perusahaan, dan hal lainnya. Pelucutan jabatan sang paman harus segera terlaksanakan untuk membuktikan bahwa Devan sudah mampu memimpin sendiri perusahaan peninggalan mendiang ayahnya.
"Mama yakin kamu bisa Van, tolong ambil apa yang menjadi hak kita !" Ucap Bu Sandra menyemangati putranya.
Sudah lama Bu Sandra tidak menyukai Erik yang tamak, sebagai adik angkat dia terhitung tidak tau diri. Yayasan penyedia jasa pekerja keamanan saja sudah diambil alih olehnya, dan ini lagi, perusahaan otomotif yang saat ini dia pimpin dengan beralasan Devan yang belum mampu mengemban jabatan itu.
Itu pun ternyata belum cukup, Erik terbukti menyelewengkan dana kantor. Sungguh membuat Bu Sandra geram.
Perusahaan yang ia rintis bersama sang suami bisa hancur berantakan di tangan seorang yang hanya berstatus adik angkat. Bu Sandra tidak akan rela itu.
Tinggal satu yang harus dibereskan, nama baik Devan. Bagaimana pun karyawan kerja dikantornya tau Devan pernah menjalin hubungan dengan Citra, dan saat ini gadis itu tengah mengaku di hamili oleh Devan.
Beruntung saja teman- teman Devan sudah tau kalau selama Devan sakit, Citra menjalin hubungan dengan Erik, pamannya.
Tetap saja nama Devan akan di cap buruk jika rumor itu tidak segera terselesaikan, dan itu akan mempengaruhi reputasi dia sebagai calon pemimpin perusahaan yang baru.
"Doakan aku mah ! Semoga semuanya selesai dengan cepat".
"Minum ini van !" Bu Sandra menyodorkan segelas air putih kepada Devan.
"Apa ini ? Air jampi jampi ?" Tanya Devan.
__ADS_1
Bu Sandra tergelak "bukan, mama hanya berdoa dan segelas air putih ini bisa menyegarkan tenggorokanmu sebelum banyak bicara di meeting nanti".
"Ya sudah nanti saja mah minumnya, Devan bawa deh kalau gitu"
"Minumnya harus sekarang"
"Tadi udah minum banyak mah" tolak Devan.
"Ini cepatlah diminum sebelum doanya menguap" Bu Sandra tetap menyodorkan gelas itu.
"Ha ha tuh kan , jampi jampi" Devan menerima lalu meneguknya hingga tandas. Hanya segelas air, bukan setetes racun yang harus benar- benar di tolak.
Selesai meminumnya, Devan menyerahkan kembali gelas kosong itu ke tangan sang mama lalu menyaliminya, berpamitan untuk berangkat bekerja.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Devan menyempatkan mencurik lirik rumah pak Wijaya, berharap ada seseorang yang mungkin terlihat sedang berada di luar rumah itu.
Sepi. Tidak ada siapapun disana.
Devan lalu bergegas masuk ke mobil duduk di bangku penumpang belakang, sang supir menutup pintu lalu menunduk hormat pada Bu Sandra.
Bu Sandra tersenyum, kemudian melambaikan tangannya saat perlahan mobil itu mulai bergerak meninggalkan pekarangan rumahnya.
__ADS_1
Baru selangkah masuk melewati ambang pintu, Bu Sandra berbalik badan mendengar suara laju mobil masuk kembali ke area rumahnya.
Kening Bu Sandra mengernyit, "itu mobil Devan".
Mobil berhenti, terparkir sembarang lalu turunlah seorang wanita dari pintu kemudi.
Bu Sandra mengenali siapa wanita itu, beliau menghampiri. Mengira wanita itu datang mengembalikan mobil putranya yang ia pinjam sudah hampir dua bulan ini.
"Selamat pagi Tante" sapa Citra dengan gaya manisnya.
"Iya, selamat pagi" balas Bu Sandra ramah.
"Boleh saya mengobrol sebentar dengan Tante"
Bu Sandra sudah paham hal apa yang akan Citra bicarakan, pasti mengenai pengakuan citra yang sedang mengandung calon cucunya.
"Maaf , tapi Tante lagi nggak ada waktu. Tante mau pergi".
"Tante saya ingin bicara baik-baik tan, tolong hargai saya sebagai calon istri Devan".
"Hah calon istri ?" Bu Sandra bersedekap dada.
__ADS_1
"Iya tan, saya sedang mengandung anak Devan".
Bu Sandra terkesiap, walau sudah menduga sebelumnya, dan sudah dengar gosipnya tetap saja mendengar pengakuan Citra secara langsung bisa mengejutkan jantungnya saat ini.