
Makin di lihat makin terasa miripnya.
Kenapa wajahnya mirip sekali apa dia anaknya...? Argh bukan bukan, pasti salah. batin ibu
"Mmm baru datang ya" tanya ibu lagi menyembunyikan kegugupannya.
"Baru aja Bu, saya mau pamit pulang ke Bali lagi. Mama sakit" ucap Ricky pamit.
"Oh begitu.. sayang sekali ya padahal baru semalam sampai"
"Iya Bu, kalau di ijinin lain waktu saya main lagi ke rumah ibu yang di Semarang" mata Ricky melirik Reno.
Ibu tergelak "boleh, everytime pintu rumah ibu terbuka untuk Ricky".
Lina memutar bola mata jengah. Ibu mah liat bening dikit gitu, pantes kakak nikah mendadak. Pasti di jodohin.
"Salam untuk orang tua nak Ricky, semoga cepat sembuh ya. Hati- hati dijalan" entah kenapa ibu merasa sangat dekat dengan Ricky hingga ramah sekali bicaranya.
"Kak Sania, aku titip Lina ya aku menyayangi adik kakak ini"
Reno terkesiap, mendengar ucapan Ricky lantas menoleh tak suka. Melihat pada mereka yang beramah tamah disana.
"Eh iya" Sania terkejut saat punggung tangannya dicium Ricky. Reno sontak berdiri.
Salaman itu berlanjut pada ibu, dengan cara yang sama. Reno sudah mengepal geram, melihat adegan sentuh menyentuh tangan kakak iparnya itu.
"Bro.. terima kasih fasilitasnya" Ricky melambaikan tangan pada Reno. Lalu masuk kembali ke dalam taxi yang masih setia menunggunya.
"Minyak... Cepat lah pulang ke Bali!" Teriak Ricky sebelum menaikkan kaca jendela mobil itu.
Ibu dan Sania tergelak melepas tawa mereka. Adiknya itu dipanggil minyak oleh kekasihnya.
Sedangkan Lina yang sedang di tertawai oleh ibu dan kakaknya, memanyunkan bibirnya. "Salah ibu, kenapa menamaiku tropicalina glenca"
"Hahahaha... Namaku aja Sania" timpal sang kakak.
Reno yang tadinya geram pun ketika mendengar itu seketika tertawa tertahan, dan akhirnya memilih masuk seraya melepas tawanya, yang di awasi pun juga sudah pergi.
Ibu menggeleng masih menahan tawa, entah bagaimana dulu saat memberi nama, ia lupa.
Si kecil Sera sibuk bermain, padahal ada Lina disana, dia lebih memilih bermain bersama pengasuhnya.
"Lin, coba kamu dekati Sera, jarang jarang kamu pulang. Kamu harus bisa dekat dengan anakmu" kata ibu.
Yang disuruh menurut, lalu menghampiri putri kecilnya mencoba berinteraksi dengannya.
"San... Kenapa Devan masih bersikap begitu ya sama kamu, ibu jadi khawatir ninggalin kamu nantinya". Raut kekhawatiran di wajah ibu memang tidak bisa disembunyikan.
"Memang ibu mau kemana?"
"Ya pulang lah ke rumah ibu, masa disini terus"
__ADS_1
"Ya aku ikut lah Bu" timpal Sania.
"Misal kalau nanti suamimu udah pulang, kalian tinggal disini, masih berdekatan dengan Devan ,kamu sendirian di rumah...." Ibu takut melanjutkan kata katanya, membayangkan yang tidak tidak, yang suatu saat bisa saja terjadi saat Rangga meninggalkan istrinya kerja dan Sania sendirian di rumah. Bagaimana pun Sania mantan kekasih Devan, yang belum rela ia lepaskan.
"Ibu tenang ya, mas Rangga selalu mempersiapkan yang terbaik untukku".
"Iya ibu percaya". Ibu tersenyum tak lagi mengkhawatirkan keadaan Sania nantinya.
Lina mendekat "gimana Lin ?" Tanya ibu.
"Sera anak yang pintar Bu, dia suruh aku istirahat aja, dia mau main sama pengasuhnya" jawab Lina, kembali duduk dan bergabung bersama kakak dan ibunya.
Sania dan Bu Riska saling pandang, "ya sudah pelan pelan mungkin mau sama kamu" ucap ibu sambil mencicipi cemilan yang disediakan pelayan.
"Lin.. siapa nama lengkap pacarmu, keliatannya agak kebulean gitu?" Tanya Sania penasaran.
Lina menggedikkan bahunya, menyomot cemilan yang di makan ibunya juga "Ricky Deon morenso" lalu melahapnya.
Uuuhhhhuukkk... Ibu batuk tersedak. Huk uhuk...
Seketika Sania panik, "minum Bu minum" Sania menyodorkan minum, sementara Lina membersihkan dengan tisu.
"Pelan pelan aja Bu, aku kan baru ambil satu" kata Lina.
Setelah susah payah meredakan batuknya yang tiba- tiba itu, ibu lalu bertanya, "morenso ?"
Lina mengangguk nampak mulutnya penuh mengunyah.
Ibu Menggeleng. Belum saatnya dia bertanya lebih jauh, yang punya nama seperti itu kan banyak. Belum tentu juga ada kaitannya dengan masalalunya.
Tapi anak itu tinggal di Bali, tempatnya dulu bertemu dengan sang mantan suami.
"Bu...?" Sania melihat wajah sayu sang ibu, "ibu sepertinya butuh istirahat" ucapnya lagi.
"Enggak... Nggak usah, ibu nggak apa apa" menolak.
"Tapi ibu mendadak pucat" Lina yang ceplas ceplos kalau bicara, tapi kadang selalu tepat sasaran.
"Tanya aja semua Bu, selagi aku masih disini" imbuhnya.
Tanpa menimbang, ibu lalu bertanya lagi "Siapa nama ayahnya?"
Lina terkesiap "naaah... kalau itu Lina nggak tau, belum pernah kerumahnya"
"Pendatang atau pribumi ?"
"Mmmm... Asli Bali Bu, tanggal lahir kami bahkan sama lho hanya beda satu tahun" Lina tertawa.
"Sama?" Suara ibu terdengar lirih.
Sania mengerutkan kening "ibu seperti jaksa, pertanyaannya detail banget"
__ADS_1
"Tadi katanya ibu suruh tanya tanya" ibu lalu berdiri, "sebelum kalian berhubungan serius, sebaiknya kamu selidiki asal usulnya Lin" kata ibu penuh penekanan.
Sania dan Lina sontak terkesiap, ada apa dengan ibu ?
"Cari pasangan harus tau bibit bebet bobotnya" ucap ibu seraya melangkah masuk ke rumah.
Oh cuma itu yang ibu pikirkan, kirain ada sesuatu. Batin Sania
"Kak... Kamu rasa ada yang aneh nggak sih ?"
"Berfikir lah yang positif, setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Wajar aja ibu bertanya seperti itu" kata Sania bijak.
Tak mau ambil pusing, mereka pun membahas obrolan lain. Tawa Lina dan Sania yang masih mengobrol di teras pun mengundang sepasang mata yang raganya berdiri di balkon kamar diatas sana.
Hanya melihat dari kejauhan tanpa bisa menyentuhnya, sudah membuat dia tenang.
Munafik sih kalau mengaku tenang, nyatanya raga itu ingin sekali mendekat dan mendekap.
Mengalah ? Satu kata yang pantang dia akui, dia masih belum mau kalah, masih ingin memperjuangkan apa yang lebih dulu dia miliki.
Padahal takdir menentukan lain.
Jangan salah.. baginya takdir masih bisa dirubah kecuali nyawa yang lepas dari raga.
Dia tersenyum, tawa mereka seakan menular pada Devan. Tidak jelas apa yang mereka bicarakan, hanya suara tertawanya saja yang dia dengar. Tapi dia merasa ikut bagian dari mereka.
Sampai akhirnya Dina datang dan mengalihkan perhatiannya.
Sementara di kamar, pikiran ibu kembali berkecamuk.
Ingin rasanya kembali ke Singapura menemui sang suami di rumah sakit lalu menceritakan perihal Lina padanya. Satu hal yang mengingatkan tentang masa lalu, kelahiran Lina dan dirinya yang pernah menjadi istri siri seorang pengusaha kaya, sebelum mengenal pak Hendra.
Ibu menarik nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Berharap apa yang dipikirkan salah.
Kehidupan mereka sudah baik baik saja saat ini. Tidak ingin ada masa lalu mengganggu. Apalagi Sania juga sudah menikah dengan jodoh yang ayah pilih, selain itu mereka ternyata juga saling mencintai. Tinggal bagaimana Lina nanti, yang ibu harapkan. Jika memang Lina tidak berjodoh dengan ayah kandung Sera, semoga saja jodoh Lina mau menerima apa adanya . Kalau pun Ricky yang jadi jodohnya, semoga Ricky bukan orang bagian dari masa lalu sang ibu.
.
.
.
.
.
next ya 😍
like & komen ya, biar author tambah semangat, 😂
(haha banyak mintanya, nulis nulis aja si wkwkwkwk)
__ADS_1