
Beberapa hari kemudian...
Sania dan teman-teman kantornya menjenguk Devan di rumah sakit.
Sudah empat hari berlalu semenjak tragedi tersiram bakso itu. Sejujurnya Sania masih trauma untuk kembali ke sini tapi beruntungnya dia, Mama Sandra tak ada menemani devan saat ini.
"Ehh...siapa tu tadi ? " Kata salah seorang teman Sania yang juga teman Devan, melihat seorang perempuan keluar dari ruang rawat Devan.
"Nggak tau, ntar tanya aja ama devannya"
Celetuk lainnya.
Sania melihat sekilas saat orang itu keluar dari pintu tadi, walaupun kini dia berjalan membelakangi mereka tapi Sania masih ingat betul wajahnya.
Itu perempuan yang waktu itu dicafe sama Devan. Batin Sania
"Hai Dev.. sudah baikan?" Tanya Mia.
"Eh kalian kesini, nggak kabarin gue dulu sih ?" Ujar Devan sambil menyalami satu satu temannya itu yang berjumlah lima orang.
"Sunshine" panggil Devan ketika menyalami orang terakhir yang ternyata adalah Sania.
"Sunshine ? Dia Sania Dev namanya, divisi keuangan, lupa ya?" Ujar salsa.
"Maklum abis kecelakaan koma dua hari jadi amnesia dikit kayaknya"timpal Doni.
"Hehe.. lu cantik sendiri Don" ejek Devan yang melihat Doni datang bersama dengan keempat perempuan itu.
__ADS_1
"Gadis gadis cantik begini harus dikawal man.. biar nggak ada yang ganggu" kelakar Doni yang sudah duduk Santai di sofa ruangan itu.
"Hahahaha...." Mereka yang mendengar candaan Devan dan Doni seketika tertawa semua.
Tapi lain hal dengan Doni, saat terkejut melihat bukti transferan 100 juta yang tergeletak di sofa itu.
Apa ini? Biaya operasi patah tulang dia? mahal banget, tapi nama penerimanya kenapa citra .
Doni bertanya dalam hati, mungkin nanti dia akan tanya langsung pada Devan setelah semua orang pergi, apalagi ada Sania saat ini.
Hubungan Sania dan Devan tak banyak yang tau, karna memang saat bertemu di kantor pun mereka bersikap profesional. Di banyak acara yang Devan sering adakan pun mereka tak pernah terlihat gandengan, baru acara di cafe kemarin dia malah membawa dan mengakui citra sebagai pacarnya didepan umum.
"Oh ya Dev ,tadi ada perempuan siapa ? Sepertinya bukan perawat " tanya Mia pada Devan mengingat tadi ada perempuan keluar dari ruangannya.
"Yang mana?" Kilah Devan pura-pura tidak tau.
"Tapi kayaknya pernah liat deh, yang diacara waktu itu bukan sih? Denger denger pacar kamu anak divisi keuangan?" Tanya salsa pada Devan.
Tapi tatapan salsa langsung beralih ke Sania "kamu kenal San?" Lanjut salsa.
Sania yang ditanya gelagapan bingung harus jawab apa.
"Nggak.. Nggak tau" jawab cepat Sania.
Jawaban telak sejuta umat, singkat padat jelas tak berbobot tapi dapat meloloskan diri dari cercaan pertanyaan selanjutnya. Walaupun yang bertanya pasti geram mendengarnya.
Devan hanya menggedikkan bahu acuh melihat kegugupan Sania, tapi tak ada niatan dia menjawab pertanyaan teman-temannya itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian mereka pun pamit pulang. Sania berpamitan paling terakhir, tapi saat dia akan berbalik badan melangkah keluar tangannya dicekal oleh Devan.
"Sunshine..." Panggil Devan pada Sania.
Sania menoleh tersenyum pada Devan, entah apa yang mau dibicarakan yang pasti dia gugup.
"Kenapa nggak rawat aku disini?" Tanya Devan memelas.
"Ini pertanyaan atau perintah ?" Tanya balik Sania pada Devan.
"Duduk sini !" Devan menepuk ranjangnya menyuruh Sania duduk didekatnya.
Sania ragu, dia melihat ke arah pintu barangkali temannya masih menunggu di luar sana.
"Sini !" Ulang Devan saat Sania tak kunjung menurutinya.
Dengan hati-hati dia duduk di ranjang pasien milik Devan.
"Aku sudah tau semua, tapi kenapa kamu nggak datang lagi ?" Tanya Devan sambil menggenggam tangan Sania.
"Maaf.. aku takut mamamu marah lagi" jawab Sania menunduk.
"Maaf ini semua salahku, andai aku tahan kamu untuk menginap pasti kejadiannya nggak akan begini" Sania mulai terisak mengingat ringseknya mobil dan parahnya keadaan devan saat itu.
Devan mengelus lengan tangan Sania, dia enggan memeluk gadis itu karna takut di dorong lagi. Apalagi sekarang sudah ada yang gampang dipeluknya bahkan tak sungkan mencium Devan tanpa diminta, siapa lagi kalau bukan citra.
Devan dan Sania sedang asik bercengkrama, tanpa mereka sadari ternyata sedari tadi ada yang mendengarkan obrolan mereka dari sofa.
__ADS_1