Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Pamit


__ADS_3

Malam hari di ruang perawatan Bu Sandra. Devan tengah mengemasi barang milik mamanya dibantu Dina.


"Mmm...Dev". Panggilan Dina membuat Devan menoleh seketika, sedari tadi mereka sibuk dengan kegiatannya masing - masing.


"Iya".


"Besok malam acara launching produk skin care ku, mau kah kamu datang ?".


Bertanya ragu, padahal Dina sendiri tau tiket yang dipesan Devan untuk penerbangan besok pagi. Sudah jelas Devan tidak bisa datang.


Kenapa juga tidak bilang kemarin saat belum pesan .


Devan mengernyit, membuat Dina sadar diri dia mengundang diwaktu yang tidak tepat, alias telat.


"Maaf aku baru bilang" Dina menunduk.


Devan menghampiri gadis yang telah berjasa merawat dengan tulus mama nya juga dirinya dulu.


Tangan Devan terulur mengusap rambut Dina yang tergerai. Lalu mengajaknya bersalaman.


"Selamat ya ! Semoga acaranya sukses. Terima kasih atas undanganmu. Tapi maaf aku nggak bisa hadir. Aku harus pulang ke Jakarta".


Jelas Devan dengan sangat lembut agar tak menyinggung perasaan Dina.


Dina menerima jabatan tangan pria yang masih ia harapkan membalas perasaannya seraya tersenyum.


"Terima kasih, maaf aku nggak bisa bantu merawat Tante lagi".

__ADS_1


Lagi lagi Devan mengusap kepala Dina. "Maaf aku selalu merepotkan mu. Kau gadis baik yang selalu ikhlas merawat siapapun ditengah kesibukkanmu. Semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu".


Tak terasa air mata Dina menetes.


Devan usap lelehan air itu. "Hei kenapa ?".


Gadis itu menggeleng, ucapan Devan membuatnya berhenti berharap untuk bisa melanjutkan hubungan mereka yang tidak jelas.


Kemana mama mereka yang kemarin mengucapkan ingin menjodohkan. Kenapa sekarang Dina terlihat jelas statusnya hanya sebagai perawat.


Ah begini sakitnya kalau cinta hanya bertepuk sebelah tangan.


Terbawa perasaan hingga jatuh hati pada pria yang masih menginginkan mantannya untuk kembali.


Bukan tidak profesional, hanya saja Dina pernah diberi harapan untuk merebut hati CEO tampan ini.


"Ya sudah aku permisi, maaf besok tidak bisa mengantarmu pulang".


"Iya nggak masalah, semoga acaranya lancar ya".


Mmm.. tersenyum mengangguk. Lalu menghampiri ranjang pasien dimana ada Bu Sandra yang sedang tertidur disana.


"Tante, Dina pulang ya. Maaf Dina nggak bisa antar Tante pulang ke Jakarta. Kapan-kapan Dina akan jenguk Tante disana. Tante cepat sembuh ya".


Wanita ini pernah mengharapkan dia untuk menjadi menantunya. Tapi sekarang orang tua Dina sendiri melarang untuk berhubungan lagi, baik dengan Devan atau pun mamanya.


Ia raih tangan Bu Sandra lalu mengecupnya. Setelah itu keluar dari ruang perawatan yang sudah hampir tiga pekan ia sambangi.

__ADS_1


Sebagai anak baik, Dina hanya bisa menurut saja. Lagi pula kesibukkannya sangat menyita waktu tidak bisa kalau dia harus mengurus Bu Sandra yang butuh perhatian khusus.


Devan hanya melihat Dina dengan ulasan senyum.


Bu Sandra sudah bercerita semua tentang mama Dina yang membatalkan perjodohannya. Lagi pula hati Devan memang masih terpaut pada Sania.


Biarlah mereka fokus berkarir untuk saat ini. Jangan lagi memaksakan kehendak orang tua terhadap anak. Biarlah mereka menentukan pada siapa hati mereka berlabuh.


Terdengar suara pintu terbuka kembali.


Kirain balik lagi


"Kenapa bos ? Kok ngeliatinnya gitu ?" Tegur Adam.


"Kemana seharian ? Ikut kesini bukannya bantuin gue malah nyari - nyari kerjaan lain". Marah Devan.


"Mmmm...anu hehe".


Bukan tidak tau alasannya, hanya saja Devan ingin dengar langsung pengakuan Adam. Dia biasanya gentle kalau urusan wanita.


"Nggak mau jujur ?" Ucap Devan mengintimidasi.


"Persiapan itu-..."


"Sana ! Antar dia pulang !".


Adam terperangah lalu cepat menjawab. "Ah.. iya iya".

__ADS_1


__ADS_2