Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
24. Berdaster


__ADS_3

Buug


"Suara apa itu sus?" Tanya Sania pada Dina.


Rupanya Rangga yang terkejut akan kedatangan sang ayah ternyata kakinya tak sengaja menendang pintu yang sedari tadi dijadikannya tempat mengintip Sania didalam sana.


Sreeeeetttttt... Tirai penyekat ditarik oleh perawat itu hingga menutupi ranjang yang di duduki Sania.


"Bukan apa-apa.. sepertinya banyak orang di depan pintu" ujar Dina yang melihat banyak bayangan orang berdiri dari balik kaca yang ada dipintu itu.


Tak lama kemudian Rangga masuk dengan menenteng paper bag pemberian Reno tadi.


"Permisi" sapa Rangga yang baru masuk dan tak melihat siapapun di ruangan itu.


Karna memang tirai tadi menutupi dari atas hingga lantai.


"Iya tuan ada yang perlu di bantu ?" Tanya Dina keluar dari sebalik tirai tapi hanya terlihat kepala saja dengan topi khas perawat itu.


"Ini" Rangga mengulurkan papper bag itu yang kemudian diterima oleh Dina. Rangga hanya mendekat tak berniat membuka tirai itu karna dia tau pasti Sania belum berpakaian makanya sampai ditutup.


"Sebentar tuan, duduk lah !"


Dina takut kalau tangan Rangga reflek menarik tirai, dia cepat mencegahnya.

__ADS_1


"Aku akan tunggu disini" jawab Rangga seraya mendudukkan dirinya di kursi yang ada disana.


Beberapa saat kemudian...


Apa-apaan nih orang, membelikan aku baju seperti ini


Bagus si, adem, tapi nggak pada tempatnya gitu... Jadi salah kostum dilihatnya.huh gerutu Sania dalam hati.


Sania turun dari ranjang pasien lalu membuka tirai penutup dirinya itu.


Srreeet


Rangga menoleh pada Sania yang sedang berdiri menghadapnya.


Haaa... Astagfirullah Reno


Ternyata itu yang dia beli. Umpat Rangga dalam hati, kesal dengan Reno.


"Kenapa lihatnya gitu banget ?" Tanya Sania pada Rangga.


"Hhm" Rangga salah tingkah sendiri melihat penampilan Sania, dia merasa bersalah memberikan baju itu.


Rangga takut Sania marah atau tersinggung, diberikan pakaian seperti itu.

__ADS_1


Alih alih malu, Sania nampak terlihat nyaman mengenakan daster sejuta umat itu. Dia tak terlihat kesal atau tersinggung pada Rangga.


"Mas, bagaimana keadaan Devan" Sania mencoba mencairkan suasana, dibikin percaya diri aja deh daripada pakai baju basah bau bakso. Sejujurnya dia malu, bukan malu pada Rangga toh itu baju pemberian Rangga yang harus dia hargai.


Tapi Sania malu jika orang lain disekitaran rumah sakit ini akan melihatnya dengan penampilan berdaster itu, arrgh bagaimana nanti deh .gumamnya dalam hati.


Papper bag yang diberikan Rangga bahkan bukan baju luarnya saja tapi juga sepasang **********.


Rangga perhatian banget.batin Sania


"Udah ditangani dokter kok, Devan udah baik-baik aja. Tapi belum siuman" jawab Rangga, saat ini Sania sudah duduk disampingnya.


Mereka menoleh saat Dina mendekat "nona Sania, ini obatnya diminum tiga kali sehari harus habis biar cepat sembuh, dan ini salep dari dokter Wijaya biar lukanya cepat kering" ucap Dina seraya memberikan papperbag berisi baju kotor Sania dan beberapa obat.


"Dokter Wijaya ?" Sania Menoleh pada Rangga seakan minta penjelasan.


Rangga yang mengerti akan pertanyaan Sania pun menjawab "iya..pak Wijaya ayahku, beliau dokter di sini"


"Oohh" Sania mengangguk.


"Ayo saya antar pulang !" Ajak Rangga pada Sania seraya bangkit dari duduknya.


"Iya terimakasih.. maaf merepotkan"

__ADS_1


"Sus, kami pamit dulu, terimakasih sudah membantu" ucap Rangga pada Dina.


Apa dia kekasihmu .gumam Dina ketika melihat mereka sudah keluar dari pintu ruangan itu.


__ADS_2