
Tersenyum sumringah Sania memasuki gedung rumah sakit tempat suaminya bekerja. Lucu rasanya, dia tinggal di lingkungan tempat sang suami mencari nafkah untuk dirinya dan masa depan mereka.
Ibarat hanya lima langkah, setiap waktu Rangga ingin pulang dan bertemu istrinya itu, bisa saja dia lakukan.
Selama tinggal disini, Sania akan membawakan makan siang untuk Rangga. Selain agar dirinya tidak jenuh hanya di rumah saja, Rangga juga bisa menikmati kebersamaan dengan istrinya disela penatnya bekerja.
Masakan Odet sudah dicicipi tadi sebelum dikemas cantik. Rantang itu ia tenteng anggun menuju ruangan tempat suaminya beristirahat juga mempelajari berkas mengenai rumah sakit ini.
Kalau dekat begini suasana makan siang bisa dimana pun tempatnya sesuai selera mereka, di ruangan, di kantin, di taman atau di rumah. Sania senang melakukan kebiasaan barunya.
Sudah hampir jam makan siang, tapi pasien di ruang tunggu yang mengantri di depan ruang praktek dokter biasa Rangga tempati masih ramai saja.
Baru akan mencari tempat duduk untuk ia menunggu, Sania melihat bagian di atas pintu. Bukan nama suaminya. Itu artinya Rangga sedang di ruangannya dan sedang tidak tugas.
Sania langsung menuju kesana. Diketuknya pintu itu.
"masuk !"
__ADS_1
Suara dari dalam membuat Sania membuka pintu lantas melangkah masuk.
Deg..
Sesak, nafasnya tercekat. Paru-paru seakan tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Dada Sania bergemuruh naik turun dengan nafas menderu. Netra beningnya mengalirkan buliran air yang lolos begitu saja. Kakinya lemas seketika tatkala melihat sesosok wanita melutut didepan kursi tempat suaminya duduk.
Apa yang dia lakukan? , rasa penasaran membawa Sania masih dalam mode waras untuk melihatnya lebih dekat.
"Kenapa menangis ?"
"Kalian sedang apa ?" Tanya Sania dengan suara lirih.
Wanita itu bangun dari posisinya, berpenampilan tomboy dengan rambut sebahu tanpa topi, sepertinya bukan seorang perawat.
"Sudah tuan, sudah selesai saya permisi dulu. Jika ada keluhan hubungi kami kembali". Ucapnya lalu pergi.
__ADS_1
Berkerut kening, masih berusaha menebak apa jasa wanita itu untuk suaminya. Kenapa bisa ada wanita berpenampilan maintenance ada di rumah sakit seperti ini.
Setelah kepergian wanita itu Rangga lalu memeluk istrinya. Membawanya dalam dekapan jas putihnya. Ia tahu Sania salah paham dengan wanita tadi.
Sania menurut saja saat dikecup buliran yang mengalir di pipinya oleh Rangga. Dirinya masih syok lantaran berpikir kotor tentang kejadian ini.
"Dia hanya teknisi, dia membantuku memperbaiki kursi itu".
Netra Sania meminta penjelasan lebih lanjut, Rangga memahami istrinya masih tidak bisa berkata apapun saat ini.
"Duduk lah ! Akan aku praktek kan". Pinta Rangga seraya mendudukkan Sania di kursi putarnya dengan sandaran lebar berwarna hitam seperti posisinya tadi. Rangga mengulang adegan yang istrinya lihat dan membuatnya hampir salah paham. Untung saja tidak ada adegan kejar-kejaran, Rangga bisa kena sangsi sebab ini di rumah sakit. Tidak boleh ada kegaduhan yang mengganggu ketenangan pasien.
Sania menurut, inilah kelebihan pesona Rangga. Selalu mampu membuat Sania terhipnotis dengan panggilan sayangnya.
"Ini tadi yang macet" kata Rangga mempraktekkan, Sania merasa dirinya naik turun di atas kursi itu. Dari tempatnya duduk Sania menunduk, melihat apa yang sedang dimainkan Rangga dibawah sana. Posisi mereka saat ini sama persis dengan yang Sania lihat tadi. Masuk akal menurutnya, Sania lalu membungkukkan badan memeluk suaminya tanpa berkata apapun.
Jika salah paham jangan lah menghindar atau malah mencaci maki. Berikan kesempatan untuk orang lain menjelaskan terlebih dahulu. Jangan asal menuduh karena kalau terbukti tidak benar, maka dirimu yang akan malu.
__ADS_1