
Sania keluar dari kamarnya setelah selesai meratapi berkas yang diserahkan oleh Reno. Ada hati yang belum rela mengikhlaskan rumahnya dijual.
Rumah yang dibayar dari gajinya sendiri setiap bulannya, walau belum lunas setidaknya ada hasil dari kerja kerasnya selama ini. Tapi kejadian Devan memperlakukan dirinya begitu tega membuat Sania takut tidak ingin kembali ke rumah itu.
Tentang motor, benda itu memang hadiah pemberian Devan tapi juga kesayangan Sania, sebab kemana pun Sania pergi dia lebih suka mengendarai motor maticnya itu.
Hahhh.. lagi lagi Sania menarik nafas panjang. Mungkin ini saatnya membuka halaman cerita hidup yang baru. Sania merasa butuh udara segar untuk merilekskan pikirannya. Langkahnya dipercepat menuruni undakan anak tangga, saat mendengar riuh suara ibu bersama seseorang di luar sana.
"Kakaaaaak....." Teriak Lina yang rupanya sudah sampai sedari tadi di kediaman pak Wijaya.
Sania membalas pelukan rindu sang adik tiri. "Kangen"
"Iya sama kak"
Ditusuknya pipi sang adik dengan jari telunjuk Sania "kamu cuma kuliah masih dinegeri sendiri pulang cuma setahun sekali, gimana kalau sampai keluar negri"
Muuach... "Kakak kenapa nggak kasih kabar kalau nikah? Kan aku bisa jadi pengiring pengantinnya"
"Sudah diwakilkan anakmu" Sania tergelak.
"Kakak.... Sssttt" Lina membekap mulut sang kakak, mengkode mata melirik pada seorang pria yang datang bersamanya.
Sania terkesiap, ternyata ada tamu lain yang dia tidak sadari keberadaannya. "Ayo masuk, kenapa di luar aja dari tadi"
Langkah pelayan bersama ibu memecah kecanggungan yang terjadi.
"Mari masuk nak !" Ajak ibu pada teman pria putrinya. Lalu di angguki olehnya dan berjalan mengikuti ibu.
Saat ini mereka sudah duduk di sofa yang pelayan persilahkan. Mulai menyicipi hidangan yang sudah pelayan sajikan.
"Hebat kak, kau menikah dengan seorang dokter"
Sania tersenyum "gimana kuliahnya ?" Bukannya menanggapi Sania malah mengalihkan.
"Baik kak, Alhamdulillah lancar semua" tangan Sania terulur mengelus rambut adiknya.
"Oh ya kak, kenalin ini Ricky namanya"
Pria yang terlihat seumuran dengan adiknya itu menyalami Sania.
Cantik, terlihat berbeda dengan Lina.
Sania mengulurkan tangan "Sania, kakaknya Lina"
__ADS_1
"Aku Ricky kak, salam kenal".
"Udah jangan lama lama, kakakku udah ada yang punya" ucap Lina melerai tangan Ricky yang masih menyentuh kakaknya.
"Assalamualaikum" ucap Reno baru saja masuk.
"Waalaikumsalam" jawab mereka serempak.
"Kak boleh aku bicara sebentar?" pinta Reno pada Sania.
"Iya" Sania beranjak mengikuti langkah Reno.
Sementara di Ruang tamu, Ricky nampak mencecar Lina dengan berbagai pertanyaan.
"Katamu kau anak orang biasa, sampai harus kuliah sambil kerja. Ini apa?" Tanya Ricky merasa dibohongi oleh Lina.
"Ini rumah kakak ipar ku, suami kak Sania. Dia seorang dokter muda yang hebat kata ibu"
"Lalu tadi kakakmu bilang apa ? Kau sudah punya anak, apa maksudnya ?"
Tanya Ricky menegas.
"Berhentilah bertanya Rick. Aku udah pernah bilang, aku punya masa lalu buruk. Kau bilang tidak masalah. Masih mau berteman denganku lebih jauh"
Lina memutar bola mata jengah. Kekasihnya ini selalu saja ingin tau semua tentang dirinya, padahal dia ingin menikmati liburannya bersama keluarganya. Tapi malah Ricky memaksa ikut bersamanya, dan sekarang rahasia yang masih enggan untuk ia ceritakan pada Ricky malah terbongkar karena Sania keceplosan mengatakannya.
"Udah lah, ini di rumah orang jangan ngajak ribut" ucap Lina.
"Kau berhutang banyak penjelasan padaku !" Ucap Ricky ketus.
Pria keturunan blasteran Bali Spanyol itu terlihat tampan dengan rahang wajah tegas, apalagi kalau sedang emosi begini, sulit menyembunyikan mimik wajahnya yang terlihat sedang tidak baik baik saja.
Sania datang mengerutkan keningnya "kalian kenapa ?" Nampak sang adik sedang mengerucutkan bibirnya, manyun.
"Baik baik saja kak, ini hal biasa" ucap Ricky.
"Oh ya, udah waktunya makan malam, ayo makan ! Udah disiapkan semuanya"
Senyumnya meneduhkan, beda sama si minyak.
"Kak, apa aku boleh menginap disini ? Bisik Lina sambil berjalan menggandeng lengan tangan Sania.
"Iya boleh, tapi temanmu nanti akan di antar oleh supir ke hotel. Kalian belum nikah, nggak baik menginap satu atap"
__ADS_1
"Iya kak, dia pasti ngerti"
Saat Reno memanggil Sania tadi, rupanya anak itu memberi pesan pada Sania agar menyampaikannya demikian. Dia menyuruh salah seorang pegawainya membuka salah satu kamar hotel miliknya untuk di tempati oleh teman pria yang di bawa Lina.
Sang adik tidak bilang pada Sania kalau akan bawa teman, tapi sang supir yang mengadu pada Reno. Di rumah itu memang ada banyak kamar, tapi tidak mungkin Reno mengizinkan Ricky menginap di tempatnya sedangkan kakak iparnya sedang sendiri tidak ada sang suami. Reno harus waspada, perannya menjalankan amanat kakaknya baru di mulai hari ini.
Sebenarnya Reno tidak kemana mana sedari Lina datang, dia ada di kamar. Ketika mereka mulai duduk dan berbincang, Reno melihat tatapan mata tidak biasa dari pria asing itu terhadap kakak iparnya. Saat Sania dan Ricky berkenalan, Reno sengaja keluar dari pintu samping lalu masuk melalui pintu depan dan melewati mereka. Ia tak rela tangan lembut kakak iparnya disentuh pria lain, kalau Rangga tau bisa habis dia.
"Mamaaaaaaah" teriak Sera, sudah duduk manis di salah satu kursi meja makan. Anak itu merentangkan kedua tangannya meminta peluk.
Lina menghampiri Sera dan memeluknya.
"Sera sayang udah bangun, tidurnya nyenyak banget dari siang" ucap Sania sembari mencium kening Sera.
Ricky mengamati dengan seksama gadis kecil itu, masih bingung siapa yang dia panggil mama sebab baik Lina maupun Sania sama sama datang menghampirinya.
Semua itu tidak lepas dari tatapan tajam Reno. Ibu menyadari itu, jadi merasa tidak enak sendiri. Sudah menumpang di rumah orang, malah putrinya tiba- tiba datang membawa seorang teman. Laki laki pula.
Sedikit banyak, ibu mengenali sifat Reno dan Rangga dari cerita cerita pak Wijaya saat di rumah sakit. Anak ini tak kalah possesif dari kakaknya, apa yang mereka miliki tidak rela di lihat orang lain apalagi sampai di ambil.
"Silahkan di makan, ibu yang masak dibantu pelayan disini"
"Kangen masakan ibu" kata Lina.
"Makanya sering pulang dong!" Sahut ibu.
"Aku sibuk bu"
"Cepat lah selesaikan kuliahmu, setelah itu jangan pergi pergi lagi. Ibu akan masak tiap hari buat kamu"
Sania hanya tersenyum menanggapi, lagi lagi membuat Reno terus mencuri lirik pada pria di seberang kakak iparnya itu.
Laki-laki itu makan dengan tenang, merasa nyaman, seakan menemukan kehangatan dalam sebuah keluarga terlihat sekali dari senyuman kecil di sela kunyahannya.
Berbanding terbalik, Lirikan mata Reno bergantian, entah siapa yang di tatap lelaki itu. Kakak iparnya atau memang kekasihnya sendiri. Kecurigaan Reno membuat dia sendiri tak tenang makan.
"Nak Reno nambah lagi ya, ibu ambilkan"
Tawar ibu.
"Sudah Bu, Reno kenyang" padahal masih terlihat lahap, entah lapar atau doyan.
"Oma.... Sera ngantuk"
__ADS_1
"Iya iya... Ayo sikat gigi dulu" ibu Sania membawa Sera berlalu ke kamarnya akan menidurkan cucunya itu. Sementara yang lain masih melanjutkan makan mereka.