
Sejak hari pertama kedatangannya di kampung halaman Sania , Reno terlihat betah tinggal disana.
Suasana alam yang masih asri, ditambah hawa sejuk dingin dengan pamandangan hijau disekitar. Tidak ada kemacetan disana, yang ada jalan perbukitan dengan Jalur naik turun. Cukup ramai dan modern, bukan desa terpencil dan tertinggal jauh dari peradaban.
"Kak bagaimana kalau kita bangun villa disekitar sini ?" Kata Reno saat bersantai sore hari di teras , malam ini malam keempat dia menginap di rumah keluarga Sania.
"Boleh juga, tapi jauh dari tempat wisata daerah sini" jawab Sania.
"Kita bikin sekalian tempat wisatanya, wisata alam. Semuanya mendukung, dari segi daerahnya, strategis dan akan berpotensi besar untuk perekonomian masyarakat sini"
"Kakak nggak ada modal" ucap Sania.
"No" Reno menggeleng "aku akan ajak semua teman ku untuk jadi investor kita".
Sania terperangah "Ren.. kamu baru lulus sekolah menengah atas bulan ini. Tapi bicaramu sudah seperti pebisnis handal".
Reno menyunggingkan senyum di bibirnya, kakak iparnya ini belum tau sepak terjang dia dan kakaknya Rangga dalam mengelola warisan dari kakek, yang membuat Devan berlarut iri sampai saat ini.
Sania menaikkan sebelah alisnya, menunggu jawaban dari adik iparnya ini.
"Kak pokoknya kita harus manfaatin peluang ini".
Sania hanya tersenyum menanggapi. Entahlah, dia sendiri belum ada gambaran akan bagaimana rencana Reno itu. Tabungan dia hanya tersisa dari penjualan rumah dan motor, tabungan hasil kerja sudah diserahkan semua ke ibu sewaktu awal ibu membawa ayah kerumah sakit.
"Kak.." panggil Reno, lalu mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.
"Iya" Sania menatap.
Reno menyerahkan sebuah black card padanya.
"Kakak gunakan ini untuk semua kebutuhan kakak dan ibu". Kata Reno.
"Tapi..."
"Kak Rangga yang suruh, pakailah jangan sungkan. Itu hak kakak sebagai istri kak Rangga ".
__ADS_1
"Terima kasih". Ucap Sania, seraya menyimpan benda itu dalam dompetnya.
Lina datang membawa sepiring pisang goreng dan seteko teh "ini kak".
"Wahhh... Terima kasih" Sania cepat menerima, lalu meletakkannya di meja yang berada ditengah antara dia dan Reno.
"Boleh icip nih" tanya Reno.
"Kalau ngicip sedikit ya !" Sahut Lina sudah datang lagi membawa delapan gelas dengan nampannya.
Reno mengerutkan keningnya.
"kan bilangnya ngicip" kata Lina.
"Ya udah minta satu" kata reno.
"Jangan ambil dua kan bilangnya satu" jawab Lina lagi.
Reno langsung menyambar satu pisang goreng dan memakannya "nambah satu lagi" ucapnya, padahal sedang mengunyah.
"Ibu rajin deh, biar si Neneng aja Bu yang masak. Ibu jangan capek capek" kata Reno.
"Ibu sendiri aja rajin, apalagi ada yang bantuin begitu. Urusan perut mah dijamin kamu nggak akan kelaparan" kelakar Lina.
"Kamu pasti nggak pernah bantuin" ucap Reno telak, membuat Lina membulatkan matanya tajam menatap Reno.
Semua yang ada disana tertawa melihat tingkah mereka. Sejak pertama bertemu di rumah Reno, mereka seperti tidak pernah akur. Ada saja yang membuat mereka saling mengejek.
"Kak besok aku mau ke jogja" ucap Reno setelah menghabiskan empat pisang goreng tanduk bikinan ibu.
"Ya ? Kenapa?" Tanya sania.
"Mau survey pembangunan resort di parangtritis".
Lina sontak melahap cepat gigitan terakhirnya, lalu melap tangannya kemudian menuangkan teh kedalam satu gelas.
__ADS_1
"Ini minum dulu Ren" ucapnya, seraya menyodorkan segelas teh pada Reno.
"Hhhmm... Ada maunya", kata ibu, melihat gelagat tiba-tiba dari Lina pada Reno.
Reno menerima lalu meminumnya hingga tandas, "apa kakak mau ikut ?" Tanya Reno menatap Sania.
"Mau" ucap cepat Lina.
Hahaha.. Lagi lagi semua tergelak, ada ada saja si Lina ini. Sania yang ditanya tapi dia yang semangat menjawab.
"Semua kalau di ajak pasti mau" ucap Lina kesal.
Sania tersenyum "Nggak usah nanti malah ganggu".
Ditengah keriuhan semua orang yang sedang mengobrol ini tiba-tiba ponsel Reno berdering.
Ia raih gawainya dalam kantong celana, lalu mengangkat panggilan tanpa melihat siapa yang menelpon.
"APA ?" Pekik Reno sontak membuat semua orang seketika terdiam, ikut mendengarkan serta memperhatikan Reno.
Melihat raut wajah Reno yang seketika berubah membuat ibu, Sania dan lainnya saling pandang satu sama lain. Siapa yang menelpon ?.
.
.
.
.
.
.
next ya 🤗
__ADS_1