Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Patuh


__ADS_3

Setelah melewati malam yang tak bisa membuatnya tidur nyenyak, pagi ini Devan tetap berangkat ke kantor.


Adam sudah menjemputnya, jabatan baru yang dia emban adalah menjadi asisten pribadi CEO baru itu.


Seperti kemarin saat pulang kerja, pagi ini Devan melihat ke arah rumah pak Wijaya. Hal ini akan ia jadikan kebiasaan setiap harinya, di mulai dari kemarin sore.


Senangnya kalau mau berangkat ke kantor ada istri yang mengantar sampai teras. Itu yang saat ini Devan lihat.


Berjalan dibelakang, melihat Devan berhenti Adam pun bertanya. "Kenapa bos ?".


Devan tidak menjawab, tapi ekor matanya mengarahkan Adam melihat pada keluarga Rangga. Formasi lengkap disana, beda dengan bos nya ini. Bu Sandra bahkan masih dirawat di RS pusat janendra di Singapura.


Ada supir yang sudah membuka pintu mobil untuk keduanya.


Devan masuk terlebih dulu dibangku penumpang bagian belakang. Lalu disusul Adam duduk dibagian penumpang sebelah supir.


"Kapan mamaku bisa pulang ?". Tiba-tiba saja Devan bersuara. Jelas pertanyaan itu tertuju pada Adam untuk dijawab.


"Lusa, mungkin lusa sudah ada kabar kelanjutan tentang pengobatan nyonya".


Sahut Adam.


"Apa om Wijaya mau berangkat kesana sekarang ?". Tanya Devan lagi, sekilas dia melihat ada beberapa koper sebelum masuk ke dalam mobil.


Apa mungkin orang tua Sania akan pulang ke kampungnya. Mengingat sekarang Rangga sudah kembali ke rumah itu.


"Rangga dan Sania hari ini berangkat ke rumah sakit pusat" jawab Adam lugas. Apapun informasi mengenai kedua keluarga sahabatnya ini, dia selalu tau. Makanya walau masih kesal pada Adam, lelaki itu ia jadikan asisten pribadi sekaligus informan.

__ADS_1


"Pesan tiket untukku kesana !". Titah Devan.


"Buat apa Lo kesana ? Kita banyak meeting minggu ini, kalau cuma mau ganggu me--.."


"APA ?" Sela Devan. Adam kalau sudah memanggilnya dengan tidak formal itu tandanya mode ceramah ala sahabat diaktifkan.


"Lo pikun ? Diawal kan gue nanya kabar nyokap. Gue mau besuk mama, bukan jenguk istri orang". Ketus Devan menaikkan sebelah alisnya.


Kalau sudah banyak bicaranya begini tandanya Devan mulai mengaktifkan mode arogan.


"Oke oke... Kita atur jadwal". Mengalah, percaya saja dari pada berdebat justru akan membuat mood Devan hari ini kacau.


Hari ini Adam harus berkolaborasi dengan Doni, bekerja keras menyelesaikan jadwal yang telah tersusun sampai satu minggu kedepan.


Dia harus membuntuti Devan saat disana, kalau masalah kerjaan selesai, tak akan ada alasan Devan untuk pergi sendiri tanpa Adam.


"Kami titip Sania padamu nak, kami percaya Sania selalu bahagia denganmu dimana pun kalian berada".


Ucap Bu Riska pada Rangga sembari memeluk putrinya.


"Iya Bu.. Rangga akan selalu membahagiakan Sania". Ucap Rangga lalu menyalami kedua mertuanya.


"Cepat sembuh sayang". Timpal pak Wijaya, mengelus rambut Sania.


"Mamaaaa..." Si kecil Sera berseru. Turun dari gendongan Santi lalu berlari memeluk Sania dan beralih pada Rangga. "Cepat pulang ya. Bawa dedek bayi buat Sera !".


Semua tercengang dengan ucapan bocah kecil itu.

__ADS_1


"Neneng" celetuk ibu. Mungkin si neneng salah memberi pengertian tentang perginya Sania dan Rangga yang terkesan mendadak saat bocah kecil itu bertanya.


"Buk-bukan Neneng Bu, demi deh ". Yang dituduh tergagap. Entah dari mana anak itu tau, bahkan Santi pun menggeleng.


Sania dan Rangga hanya tersenyum kikuk, bahkan mereka belum memulainya.


Keduanya saling tatap lalu mengangguk bersamaan "jadi anak baik ya sayang!". Dari pada ngelantur kemana-mana sebaiknya mereka lekas pergi.


"Oke" jawab Sera memperlihatkan ibu jari dan jari telunjuk yang menempel membentuk lingkaran.


Setelah Rangga dan Sania berpamitan kepada semuanya mereka lalu masuk ke dalam mobil. Lambaian tangan kiri Sania berikan sebab yang kanan masih harus digendong.


Rangga mengecup puncak kepala istrinya. Membawanya dalam pelukan dada bidangnya.


Sania penurut, apapun yang Rangga katakan padanya selalu diikuti. Termasuk hari ini, Rangga ingin membawanya untuk ke singapura dan Sania menuruti tanpa harus dibujuk.


Pak Hendra mendekat pada istrinya, hari ini lelaki paruh baya itu sudah tampan dengan kemeja kerjanya, begitu pun pak Wijaya.


"Wah... ternyata ayah tampan ya. Rasanya udah lama banget ayah nggak pakai pakaian begini". Bu Riska nampak kagum dengan suaminya yang masih kelihatan gagah. Beberapa tahun sakit-sakitan, hari ini begitu berkobar aura semangatnya.


Pak Hendra tersenyum malu "Ibu bisa aja, apa ibu baru nyadar kalau ayah tampan ?".


Pak Wijaya menatap keduanya dengan gelengan kepala "hei kalian... Sudah mesra mesranya. Bikin aku panas aja".


"ibu cepat masuk ! ayah berangkat dulu". bisik pak Hendra mengecup pipi istrinya cepat.


Kedua orang tua Sania menahan tawa, besannya itu setia untuk menduda. Padahal belum terlalu tua kalau dia ingin menikah lagi. Tapi pak Wijaya pernah cerita malu sama kedua anak laki-laki nya katanya kalau sampai dia menikah lagi.

__ADS_1


Bersatunya Rangga dan Sania saja sudah cukup membuat hidupnya berwarna. Reno juga mendapatkan kembali perhatian kasih sayang seorang ibu dari Bu Riska. Dan mereka cukup menikmati kebersamaan menjadi keluarga besar ini.


__ADS_2