
Keluarga Sania tidak ikut Reno kembali ke Jakarta.
Walau Bu Sandra merestui hubungan Sania dengan Rangga, bukan berarti Bu Sandra akan bersikap baik pada Sania, itu menurut Reno. Sebab dirinya pernah menyaksikan langsung bagaimana marahnya Bu Sandra pada Sania di ruang perawatan Devan kala itu.
Ia malah menyiapkan tiket liburan untuk kakak iparnya sekeluarga beserta satu pelayan dan pengasuh Sera. Bukan hal yang sulit untuk Reno melakukannya, tinggal telpon sana sini, Selesai.
"Yakin aku nggak usah ikut ?, Aku jadi nggak enak Ren". Ucap Sania saat Reno berpamitan.
"Udaah.. Kakak nikmatin aja liburannya, besok aku nyusul" kata Reno.
"Ibu juga jadi nggak enak nak Reno, masa besan ibu lagi sakit ibu malah liburan".
Sania tersentak, "Bu"
"Apa?" Jawab ibu, ganti melihat pada Sania.
"Besan ibu kan pak Wijaya, bukan Bu Sandra".
__ADS_1
"Ah sama saja, Bu Sandra kan adiknya pak Wijaya. Emangnya salah"
Sania menggaruk kepalanya sendiri yang padahal tidak gatal, bingung juga harus menyebutnya apa. "Terserah ibu deh". Ucap Sania pasrah.
Mobil travel sudah datang, Reno kembali ke Jakarta seorang diri. Dia membiarkan kakak iparnya untuk ke Jogja terlebih dulu, nanti dia akan menyusul selepas menjenguk tantenya. Bagaimana pun dia diberi amanah oleh Rangga untuk selalu menjaga Sania dimana pun berada.
Rupanya pak isal memberi kabar pada Reno bahwa Bu Sandra tengah dirawat di rumah sakit akibat jatuh terdorong pintu.
Bagaimana Reno tidak khawatir, setelah meninggalnya istri pak Wijaya, Bu Sandra lah yang selalu memberi perhatian pada Reno dan Rangga kalau terjadi sesuatu pada mereka. Selain rumah mereka yang memang bersebelahan, hanya Bu Sandra lah satu satunya saudara pak Wijaya.
.........
"Van.. "panggil pak Wijaya, menghampiri keponakannya. Lalu memeluknya. Terlihat gurat wajah kurang tidur pada Devan.
"Maaf om baru bisa datang".
"Iya, nggak masalah". Devan mengurai pelukan pak wijaya, Lalu beralih pada Reno.
__ADS_1
Ada rasa sedikit bersalah pada hati Reno saat melihat perban masih menempel dilengan Devan. Bukannya dia sengaja, hanya saja terlalu kesal menghadapi tinggkah Devan yang mengganggu kakak iparnya.
"Apa kata dokter Richard tentang kondisi mamamu ?" Tanya pak Wijaya.
"Mama jatuh terduduk, kena tulang ekornya, dan akan menyebabkan kelumpuhan atau stroke ringan"
Pak Wijaya mengusap wajahnya kasar "Ya tuhan.. Sandra".
Belum selesai sakitnya Hendra, sekarang di tambah adiknya Sandra harus dirawat juga, pak Wijaya berkacak pinggang wajahnya menengadah menatap langit- langit koridor rumah sakit dimana saat ini mereka berada.
Sebenarnya, bukan hanya itu saja yang menjadi beban pikiran baru untuknya.
Masalah perawatan Hendra dan Sandra tentu ia bisa memberikan yang terbaik di rumah sakit pusat. Tapi ini tentang putranya.
Manajemen rumah sakit yang menjadi perantara tersambungnya komunikasi dengan pihak laboraturium Jerman dimana Rangga sedang bertugas, kehilangan kontak.
Seharusnya dua hari sekali akan ada laporan perkembangan, atau kabar terkini dari pihak lab mengenai para dokter yang sedang di isolasi disana guna penelitian.
__ADS_1
Tapi ini sudah tiga kali dua puluh empat jam bahkan ini hari ke empat tidak ada komunikasi atau laporan apapun ke pihak rumah sakit yang mengirimkan para dokter ahlinya kesana.
Nampak kecemasan dari raut wajah pak Wijaya yang disadari oleh putranya, Reno.