Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Sold out


__ADS_3

Jalanan macet dimana-mana disertai bunyi klakson mengudara dan saling bersahutan. Ibu dan Sera nampak tertidur pulas di bangku penumpang bagian belakang.


Cuaca diluar sangat terik namun tak menyurutkan langkah pedagang asongan menjajakan barang dagangan mereka.


Kaca jendela bagian supir dibuka. "Pak minumnya satu ". Reno menerima sebotol air mineral lalu menyodorkan selembar uang. "Mau kak ?" Tanyanya pada Sania.


"Enggak... Makasih" tolak Sania. Reno kemudian menekan tombol, menaikkan kaca lagi.


Saat kaca perlahan naik, Sania mengerutkan kening seakan ada yang menyita perhatiannya.


Diseberang sana, tak jauh dari mobil yang Sania tumpangi, lagi dan lagi ia melihat orang yang dia sebut sebut mirip CEO di kantor tempatnya bekerja.


"Iya... Nggak salah lagi" ucap Sania.


"Kenapa kak?" Tanya Reno.


"Hmm... Nggak ada apa- apa" Sania lalu mengalihkan pandangannya kedepan. Reno tidak semudah itu percaya, ia teguk minumannya seraya mengamati apa yang kakak iparnya lihat.


Ahhhhakkk... Reno tersedak.


"Pelan - pelan Ren, aku nggak minta kok" Sania lalu menyerahkan beberapa lembar tissue yang ia tarik dari wadahnya yang menempel di atas dashboard.


"Maaf maaf kak, aku kaget" sambil mengelap leher dan bajunya yang basah, mata Reno lekat mengintai gerak gerik dua orang disana.


"Kamu kenal mereka Ren ?" Tanya Sania basa basi.


"Itu om Erik " jawab Reno tanpa menyebut nama Citra yang ada disamping pria tersebut.


"Kamu kenal pak Erik juga ?"


Sesaat mobil mulai perlahan bergerak maju, tapi mereka masih beriringan, bahkan mobil yang dikendarai om Erik dan citra mulai mendekat pada mobil Reno. Kalau saja pintu kaca Reno dibuka, sudah pasti dia bisa menggapai tangan citra yang sedang makan irisan buah mangga berwarna kuning terang dibungkus plastik es yang dibelinya dari pedagang asongan dijalan tadi. Nampak di dashboard mobil merah itu ada jajanan lain seperti tahu Sumedang, irisan kedondong, dan macaroni bumbu balado, mungkin itu cemilan Citra selama macet.


"Mmm.. kenal kak, om Erik itu adik angkat almarhum papa Devan".


"Oh begitu... Kalau yang perempuan, kenal?"


Reno yang tidak pernah berbohong kalau ditanya pun lalu menjawab. "Itu Citra, pacar Devan "


Sania menghembuskan nafas kasar. Iya aku juga tau, Devan lebih memilih gadis itu dari pada aku.


Reno tidak tau kalau Sania dulu kekasih Devan, dan Citra adalah selingkuhannya. Yang Reno tau Citra pacar Devan yang pernah dibawanya pulang kerumah, bahkan Citra sering meminjam mobil Devan sesuka hatinya. Tidak hanya mobil, gadis itu juga sering menguras dompet Devan.


"Mereka ada hubungan apa ya kak?" Jiwa kekepoan Reno tak tahan untuk tidak bertanya.


Sewaktu masih di Singapura Sania menabrak sang atasan bersama pasangannya. Ya, dia ingat.. Pria itu mengatakan calon istrinya yang ditabrak Sania itu sedang hamil. Tunggu.. hamil, Sania menggeleng. Itu artinya Citra saat ini sedang hamil dan belum menikah dong.

__ADS_1


"Engg... Astaga, di changi pak Erik bilang calon istrinya sedang hamil".


Ciiit...


Bunyi rem yang mendadak di injak oleh Reno. Beruntung mobil melaju pelan tapi tetap saja pernyataan Sania membuat Reno terkejut.


"Apa kak ? Kak citra hamil"


"Sudah sampai ya nak Reno ?" Suara ibu tepat dibelakang Reno.


"Oh belom Bu.. maaf maaf, macet parah" ucap Reno beralasan. Lalu ibu pun melanjutkan tidurnya lagi.


"Hati- hati Ren, semoga saja aku salah dengar. Tapi kami sempat bertemu di bandara Singapura tadi pagi. Pak Erik bilang Citra calon istrinya dan sedang hamil sekarang".


"Kakak kenal dengan om Erik ?"


"Iya... Beliau CEO di perusahaan tempat kakak kerja"


Reno manggut manggut entah memahami sesuatu, kemudian bertanya " Ehh kak... Nggak salah ?"


"Apanya ?" Balik tanya.


"Tadi kakak bilang, calon istri ?"


Sania menggedikkan bahu "Ya...kurang lebih aku dengar begitu".


Mungkin sudah mendahului mereka sebab jalanan sudah nampak lancar tak sepadat tadi.


Setibanya di kediaman pak Wijaya pelayan menyambut ibu, Sania juga Sera. Ada empat pelayan wanita disana. Tentunya salah satu diantara mereka khusus untuk menjaga Sera. Ibu benar- benar di ratu kan oleh menantunya.


"Sayang ini benar rumah menantu ibu ?"


"Hhmm.. bukan Bu, ini rumah besan ibu"


Ibu mengangguk tersenyum, untuk sementara mereka akan tinggal di rumah pak Wijaya.


Entah bagaimana mau Sania nanti untuk sebulan kedepan, yang terpenting ibu selalu mendampingi Sania selama Rangga tidak ada.


Ibu sudah diantar menuju kamarnya, Sera juga sudah dibawa pengasuh barunya. Sementara Sania masih berdiam di teras. "Ayo kak, jangan sungkan!" Kata Reno.


Sania tersenyum lalu mendongak sekilas ke arah balkon kamar Devan. Diatas sana, waktu itu.. untuk kedua kalinya Sania melihat Devan mencium gadis lain, dua orang yang berbeda dengan yang di cafe.


Ah lupakan Sania!, belahan hatimu sedang berada di negara orang. Memperjuangkan masa depan kalian, untuk apa terus mengingat luka lama. Batin Sania.


"Kak " Reno menegur, tau kakak iparnya melamunkan sesuatu.

__ADS_1


"Ah... iya ayo masuk, maaf membuatmu menunggu" Sania menyusul langkah Reno yang sudah dulu sampai di pintu masuk.


"Kakakku akan baik- baik saja disana. Maka buatlah dirimu nyaman tinggal disini kak !"


"Iya, terima kasih"


Patutlah kak Rangga jatuh cinta sama dia, sedikit dikit senyum, maaf, terima kasih. Lugu sekali, kalem pula, sepertinya baik hati.


Sania dipersilahkan masuk ke kamar Rangga. kamar pria asing, yang sekarang menjadi suaminya. masuk sendirian tanpa ditemani yang punya kamar rasanya sangat asing.


Sania keluar kamar setelah merapikan bajunya di lemari kosong yang memang sengaja sudah dipersiapkan untuk dirinya.


"kak" sapa Reno.


Sania menoleh "iya Reno"


"kalau mau sesuatu bilang aja ya jangan sungkan !" basa basi Reno mengingatkan.


"iya terima kasih"


"oh ya kak. supir sudah standby di bandara menunggu kak Lina"


"aah, sedetail itu kamu Reno. Aku baru saja mau diskusi sama ibu bagaimana lina"


"kak Rangga udah persiapkan semua kak, aku hanya melaksanakan perintahnya"


"Hmm.. senurut itu kamu sama kakakmu" Sania mencolek bahu Reno.


"kak duduklah sebentar, aku akan ambilkan sesuatu"


Sania menurut, sepertinya ada yang penting.


Reno kembali menghampiri Sania dengan membawa beberapa map di tangannya.


"kak.. ini hasil pelelangan rumah kakak, ini kwitansi pembayarannya" Reno menyodorkan map berwarna hijau.


Sania menelan salivanya, menerima itu dari Reno. "yang ini hasil penjualan motor".


Sania terkesiap, dia memang mengatakan ingin menjual rumah tapi tidak dengan motornya.


"kak" panggil Reno, Sania diam tak bergeming.


"aku bisa ambil lagi kalau kakak belum rela"


Sania tersenyum kecut "biarin, nggak apa apa. Terima kasih Ren, kau adik terbaik"

__ADS_1


Menepuk bahu Reno ,Sania berlalu pergi dengan membawa berkas itu dalam pelukannya.


__ADS_2