
"Nek...neneeeek.." bocah kecil berumur dua tahunan itu berlari- lari dari halaman luas masuk ke dalam rumah.
"Buu... Itu cucunya kenapa teriak teriak masih pagi gini" ayah Sania masih terbaring lemah di ranjang depan tv di ruang tengah.
Ibu Sania berjalan cepat keluar dari dapur "Sera... Ada apa sayang , mainanmu masuk got lagi ?"
"Bukan nek.. mamah itu mamah"
Menarik tangan neneknya yang masih basah karna belum selesai mencuci piringnya untuk diajak keluar rumah.
Ayah Sania hanya bisa melihat dari tempatnya tidur sejak terjatuh dari tangga kemarin, tubuhnya terlalu lemah jika banyak bergerak.
"Assalamualaikum "
"Waalaikumsalam... Saniia" jawab ibu sambung Sania.
"Mammmaaaaaaahhh..." Teriak Sera yang lalu berhambur memeluk sania, dalam pelukan Sania bocah kecil itu melirik kepada Rangga yang menurutnya asing karna belum pernah bertemu sebelumnya.
Sania dan Rangga menyalimi tangan ibu Sania.
Rangga terdiam sejenak (mamah ) batinnya.
"Ayo ayo masuk... Udah sarapan belum ?" Tanya ibu Sania yang ingin cepat menyajikan makanan dan minuman untuk anaknya yang baru datang itu.
Perasaan bahagia terlihat diraut wajah ibu Sania.
Walaupun sania datang hanya bawa badan, tak terlihat menenteng buah tangan bahkan Sania tak bawa tas yang biasanya mungkin hanya berisi baju ganti seperti kebanyakan orang mudik lainnya, orang tua tetap akan gembira dengan hanya melihat anak tersayang pulang.
Rangga sadar si bocah kecil yang sedang bergelayut manja dengan Sania sedari tadi mencuri pandang ke arah dirinya.
"Hei anak cantik... Sini om gendong" tersenyum mencoba menarik perhatian anak itu.
__ADS_1
Si bocah yang dibilang cantik itu kini tersenyum centil malu- malu.
Melihat Rangga yang tampan anak kecil itu ternyata menunggu Rangga menawarkan tangan untuk menggendongnya.
Ya benar saja... Rangga mengulurkan tangannya "sini !"
Sedetik kemudian Sera langsung berpindah merangkul tangan Rangga.
"iishh... Sayang, om nya capek lho. Ayok duduk sini" Sania menepuk sofa di ruang tamu, mengajak Sera dan Rangga untuk duduk di sana.
Sera yang saat ini sedang dalam dekapan Rangga terus saja memperhatikan om tampan yang menggendongnya .
Sania melihat pemandangan di depannya terenyuh.
Dia merasakan rasanya tidak punya ibu di usianya yang hampir sama dengan Sera, hanya saja Sania masih beruntung ayahnya menikah lagi dan Sania mendapatkan ibu pengganti yang sangat menyayanginya.
Bedanya Sera memiliki ibu namun tak tau dimana ayahnya.
"Sayang " panggil Sania kepada Sera yang terlihat nyaman itu, membuat Rangga dari datang dan masuk pintu belum juga duduk sejak tadi.
"Sssstt" Rangga menggerakkan badannya sedang menimang Sera dalam gendongannya.
Sania melongo
secepat itu dia nyaman dan tertidur, padahal sudah bukan bayi. batin sania.
"Lho.. ini anak, Masi pagi malah bobok gendong sama om" ibu Sania datang dengan membawa minuman teh hangat.
Sania mengambil alih nampan dari tangan ibunya lalu meletakkan gelas tehnya di meja.
"Bu.. Nia tengok ayah dulu" Sania masuk sambil membawa nampannya tadi.
__ADS_1
Ibu mau mengambil alih Sera dari gendongan Rangga, tapi ditolak oleh Rangga.
"Biar begini dulu Bu.. sepertinya belum nyenyak"
"Yaudah nanti bawa masuk tidurin di samping kakeknya ya nak , ibu ke dapur dulu" pamit ibu.
"Iya Bu" jawab Rangga sopan.
10 menit kemudian Rangga menyusul Sania ke ruang tengah, diletakkannya Sera di kasur tempat ayah Sania berbaring.
"Assalamualaikum pak " Rangga menyalimi tangan ayah Sania, lalu duduk disamping Sania yang sedang memijat kaki ayahnya .
"Waalaikumsalam" ayah Sania melihat Rangga sambil tersenyum "Apa dia calon suamimu sayang ?"
Keduanya terkejut mendengar pertanyaan ayah Sania yang terkesan frontal.
Tadi aku cerita ayah nggak banyak tanya , kenapa tiba- tiba pertanyaan itu yang muncul. Aduuh ayah.
Malu Sania, sampai tak sengaja menekan keras pijatan tangannya di kaki sang ayah.
"Hadooh... Sania, ayah kan cuma tanya. Jangan marah !" Mengaduh, Sebenarnya tidak sakit, hanya saja rasa pijitannya beda.
Rangga tersenyum malu melihat Sania cemberut manyun juga malu, ditanya seperti itu di depan Rangga.
"Sudah lama kalian kenal?" Tanya ayah Sania menatap Rangga.
Aaayaaaah.. kan tadi aku uda bilang, belum ada seminggu tapi mau nolongin Sania terus.
teriak Sania di dalam hati.
Ayahnya ini seolah sedang menggoda mereka, padahal tadi Sania sudah bercerita panjang lebar kecuali kejadian menyakitkan di cafe tentunya. Karna sudah pasti membuat ayah akan menjadi tidak baik- baik saja nantinya.
__ADS_1