Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Tak tenang


__ADS_3

Rangga berpamitan pada kekasihnya, Sania berdiri di ambang pintu rumah dan Rangga sudah membuka pintu mobilnya yang terparkir di luar.


"Sayang jaga dirimu baik- baik ya, aku cuma pergi seminggu" sengaja Rangga setengah berteriak, karna dia melihat ada yang sedang mengawasinya dari jauh.


Ah seminggu..perasaan tadi dia nggak bilang begitu. Gumam Sania


Rangga ingin menyampaikan kekhawatirannya pada Sania tapi takut gadis itu tidak tenang nantinya.


Dia tetap pulang walau dalam hatinya cemas. Sesampainya dirumah ia cari ponselnya ingin mengabari Sania.


Ia baca pesan dari sania.


"Sania tidak bohong, dia ternyata takut dengan Adam tadi. Maafkan aku sayang, Devan pasti akan melakukan apapun untuk merebutmu kembali."


"Hallo.. maaf mengganggu, boleh aku merepotkan mu ?" Tanya Rangga dalam panggilannya.


"Iya, ada yang bisa ku bantu?"


"Tolong urusi semua keperluan keluarga pak Hendra"


"Oke baiklah.. sekali lagi maafkan keteledoranku ya"


Telpon ditutup, sebelumnya Rangga meminta penjelasan pada Dina mengenai foto mereka yang dikirim melalui ponsel Dina ke nomor rangga, dia tak tau sama sekali bahkan bukti foto dan kirimannya pun tidak ada, mungkin sudah langsung dihapus oleh Devan. Barulah Dina percaya setelah Rangga kirim bukti capture nya .


Sebagai permintaan maaf, Dina mau menggantikan Rangga menjaga dan mengurus segala keperluan keluarga Sania di rumah sakit Singapura. Karena Rangga tau Dina sedang berada disana, Rangga juga mendapat undangan pernikahan dari teman yang sama dengan Dina. Selain itu, Dina memang menjadi salah satu dokter yang bekerja di sana. Lain hal jika dia sedang di Indonesia, dia hanya mengisi waktu luang sebagai perawat di rumah sakit cabang janendra hospital group milik pak Wijaya di Jakarta.


"Cuaca panas banget sih udah malam gini, mungkin bentar lagi hujan" gumam Rangga keluar dari kamarnya.


"Eh malam kak" sapa Reno,adik Rangga.


"Bawa apa kamu?"


"Hehe bukan apa apa" jawabnya lalu, menyembunyikan benda panjang di belakang tubuhnya.


"Ren"


"Senapan angin kak"


"Bukan senjata Laras panjang ?"


Tersentak dengan tuduhan sang kakak "Bukan kak.. nih" akhirnya menunjukkan.


"Tapi jangan bilang ayah ya, senapan angin ini mahal kak" imbuhnya memelas.

__ADS_1


"asal aku boleh pinjam"


"Boleh deh tapi jangan rusak"


"Tidur sana ! Sudah malam" perintah Rangga yang lalu di angguki Reno.


Kakak beradik itu memang saling mengasihi, tidak pernah terjadi pertengkaran diantara mereka.


Rangga melihat sekilas kamar Devan yang tepat diseberang kamarnya. Bukan dia tega merebut kekasih sepupunya sendiri, tapi Sania tak bahagia dengan Devan sedangkan dirinya mencintai sania. Lagipula mama Devan pun mendukung jika memang Sania mau dengan Rangga. Toh selama ini Devan sering mengajak jalan banyak perempuan tak ada kepastian yang dia berikan terhadap Sania.


.........


Keesokan harinya, Rangga menjemput Sania yang akan berangkat bekerja.


"Mas nanti terbang jam berapa? Siapa tau aku bisa ijin pulang cepat untuk mengantar" ucap Sania ketika sudah berada di dalam mobil Rangga.


"Nggak usah. Setelah pulang kerja, cepat pulanglah!"


"Hmm.. Berapa hari nanti disana ?"


"Dua hari cukup, ada ayah disana. Aku sudah meminta seseorang membantu ibu menjaga Sera juga." Jawab Rangga.


"Kenapa semalam bilang seminggu ?" Tanya Sania lagi, dia nggak salah dengar Rangga jelas bilang seminggu tadi malam saat pamit pulang.


Selesai Rangga bercerita justru membuat Sania ketakutan. "Kenapa begitu mas? Apa salahku?" Sania tak menyangka Rangga berfirasat buruk terhadapnya.


"Semua akan baik- baik saja, percaya padaku !"


Rangga memberanikan diri menggenggam tangan Sania, terlihat wajah ayunya yang kini menampakkan guratan takut dan kesedihan.


Ia merasa bersalah membawa Rangga masuk kedalam masalah hubungannya dengan Devan yang saat itu sedang tidak baik- baik saja. Dirinya tak mengenali sifat asli Devan seperti apa karena hubungan mereka tidak sedekat dan sehangat hubungan pasangan lainnya.


Mungkin dua tahun hanya sebuah formalitas agar tidak di sebut jomblo.


"Apa hubungan persaudaraan kalian terputus karna ini?"


"Nggak sayang, percaya !.. semua akan berjalan sebagaimana mestinya. Devan harus bisa mengikhlaskan kamu untukku"


Terkesan egois memang, tapi mau sampai kapan kelakuan Devan seperti itu. Bu Sandra menuntut Devan bersikap dewasa dan bisa menentukan jalan hidupnya demi masa depan mereka, juga perusahaan yang kini sedang dikuasai oleh om Erik.


"Bersikaplah tenang, jalani hari ini seperti biasanya tapi tetaplah waspada" perintah Rangga menenangkan Sania.


"Tapi itu susah"

__ADS_1


"Bisa !"


Sania menunduk, dia takut bagaimana nanti. Tidak ada yang melindunginya selama ditinggal Rangga menjenguk keadaan ayahnya.


"Bisa ya?! "Rangga mencoba tersenyum menguatkan sania.


Rangga mengelus rambut kepala Sania, memberikan ketenangan pada gadis itu. Mengaliri rasa sayang saling memiliki.


Sikap Rangga selalu membuat Sania nyaman berada didekatnya. Perempuan mana yang tak luluh bila diperlakukan lembut seperti itu.


Dari jarak yang lumayan dekat dan bisa melihat jelas apa yang Rangga lakukan terhadap Sania.


Tangan Devan mengepal erat, ia pukul stir mobilnya meluapkan rasa kesal atas apa yang membuatnya cemburu.


Devan belum pernah melakukan itu kepada Sania. Ingin rasanya menabrakkan mobil yang ia tumpangi saat ini ke mobil hitam yang ada di depannya itu. Mengacaukan kegiatan yang sedang mereka lakukan di dalam sana.


Tak hanya sampai disitu, ingin rasanya Devan menarik paksa Sania. Menjauhkan Sania dari Rangga , menyembunyikan Sania agar tidak bisa lagi bertemu Rangga.


Semesta seolah mendukung hubungan Sania dan Rangga. sudah beberapa menit mobil itu terparkir di bahu jalan, namun tak ada yang merasa terganggu perjalanannya.


Beda dengan Devan, belum selesai rasa kesalnya terlampiaskan, kaca mobilnya sudah diketuk orang dari luar. Devan parkir didepan pagar rumah orang, membuatnya terusir dari sana sebab sang empunya rumah tak bisa keluar terhalang oleh mobil Devan.


Beberapa menit kemudian, mobil Rangga terlihat mulai jalan perlahan. Nampaknya Sania sudah tenang hatinya untuk menjalani rutinitas hari- hari seperti biasanya.


"pagi san...di anter siapa tuh? " sapa Dea pada Sania yang sudah sampai di lobby.


"pagi De.." jawab Sania


"oh itu tadi, calon suami" imbuhnya.


"widih.. kapan nih halalnya?" tanya Dea lagi.


"segera.. semoga" mereka lalu bergandengan tangan masuk kedalam lift menuju lantai ruang kerja yang sama.


"jangan dipandangin terus... ntar baper" ejek Adam yang baru datang membuyarkan lamunan Devan didepan pintu masuk.


"emang udah kuat jalan ? kok udah masuk kerja ? anak Sultan kan bebas cutinya".


"berisik lu" marah Devan.


"haha..." Hanya ditanggapi tawa oleh Adam, sepertinya suasana hati Devan sedang tidak kondusif.


Entah apa alasannya hingga datang ke kantor, pakaiannya pun bukan pakaian siap kerja.

__ADS_1


__ADS_2