
"Dev... Apa yang kamu lakukan disitu?" Tanya Dina pada Devan.
"Nggak ada" lalu duduk di kursi santai yang ada disana.
Gadis itu pun meraih tangan Devan, lalu dengan cekatan dan hati- hati merawat luka itu.
"Selesai " dielusnya tangan Devan.
"Jangan begini lagi Dev, kamu hanya akan selalu melukai dirimu sendiri "
"Iya aku tau"
"Aku sebenarnya mau pamit"
Devan menoleh pada Dina yang sedang bergelayut manja di lengannya. "Mau kemana?"
"Pulang ke singapura"
"Rumahmu kan disini"
Dina tersenyum "aku sedang merintis usaha klinik kecantikan disana, masa kerjaku di janendra hospital pusat juga masih panjang, belum lagi usaha skin care ku terlambat launching karena kau"
"Karena aku?" Devan menunjuk hidungnya.
"Iya... Kamu. Karena kemarin aku menghabiskan waktu untuk merawatmu, semua jadi tertunda"
Devan mendengus "akan berapa lama? Bahkan kakiku belum sembuh"
"Ya gimana mau sembuh, terapinya nggak jalan, baru bisa berdiri aja udah lari larian terus" Dina mengerucutkan bibirnya.
Tanpa rasa bersalah devan bicara "Makanya jangan ditinggal tinggal akunya"
"iissh" melirik kesal "kerjaanku bukan ngurusin kamu yang sumo terus ya"
Devan nyengir, ada baiknya mereka berjauhan. Dengan kesibukan masing masing nantinya Dina dengan sendirinya akan lepas dari Devan.
"Gimana dengan perjodohan kita?" Pertanyaan pancingan Devan.
Plaaak .pukulan mendarat di bahunya.
"Jangan bicara soal perjodohan kalau hatimu saja masih untuk orang lain" ucap Dina, membuat Devan tercengang.
Sudah dia tebak teman barunya ini memang sudah jatuh hati padanya, tapi Dina seolah tak memaksakan.
"Boleh aku menciummu ?" Tanya Devan.
Dina Menggeleng "jangan membuatku luluh padamu"
"Maafkan aku, mungkin kalau kita berjodoh suatu saat kita dipertemukan lagi dengan keadaan yang lebih baik"
Kata Devan sok bijak.. padahal hanya untuk menenangkan hati Dina.
"Iya kamu benar, tadinya aku mau bilang sebulan sekali mungkin aku bisa mengunjungimu. Tapi setelah kamu mengatakan itu, sebaiknya tahun depan saja aku pulang kesini"
"Kenapa begitu?"
"Biar ada hati yang merindu" Dina mengedipkan sebelah matanya.
Devan beranjak dari duduknya, menarik paksa gadis itu masuk ke kamar tidurnya.
Dina tercengang. Mau apa lagi ni orang.
"Terima kasih sudah mau jadi temanku" Devan lalu memeluk Dina.
Pelukan itu di balas oleh pemilik raga, mendekap erat saling mengaliri rasa nyaman. Dina masih sadar diri Devan hanya menganggapnya teman.
Baiklah, mungkin ini salam perpisahan dari seorang teman yang sedang menyembuhkan luka dalam hatinya.
Devan mencium puncak kepala Dina "mau jalan- jalan ?" Tanya Devan.
"Kemana?"
__ADS_1
"Mall, nonton, makan atau terserah apa aja"
"Kamu?" Melihat pada tangan dan kaki Devan.
"Aman, tenang. Tapi pakai mobilmu ya, aku bonceng"
"Naik motor kali.. bonceng haha"
Devan mengacak rambut Dina. Gadis ini membuat harinya ramai.
.........
Sesuai permintaan Devan, Dina yang menyetir mobilnya. Laki laki itu duduk tenang disebelahnya tanpa memainkan gawainya.
Sesampainya di mall...
Dina berjalan menggandeng lengan Devan. Rasanya seperti sepasang kekasih yang saling mencintai dan nampak bahagia menikmati waktu kebersamaan mereka.
selesai menonton dan berbelanja, Devan terlihat tertawa bersama Dina di sebuah tempat makan, pelayan baru saja selesai menata hidangan yang mereka pesan di atas meja.
Di dalam tempat yang sama, di sisi lain ruangan itu, Citra nampak tak suka memandang kebersamaan Devan dengan Dina.
"Ada apa ?" Tanya Erik.
"Sebentar, aku mau ke toilet" kata Citra beralasan.
"Jangan lama lama, kau harus makan yang banyak untuk baby kita"
"Bawel" Citra mencebikkan bibirnya, lalu melenggang ke arah meja yang ditempati Devan dan Dina.
Byyyyuuur..
Ahhhss... "Sialan kau ini" pekik Dina.
Semua mata pengunjung tertuju pada mereka disana.
Air mineral dalam gelas Devan disiramkan ke badan Dina oleh Citra.
"Apa apaan kamu Cit ?" Teriak Devan.
"Dia merebutmu dariku, pantas untuk disiram" ucap Citra tanpa rasa berdosa.
"Dasar Playboy kamu Dev, semua perempuan kamu kencani" ucapnya lagi.
"Lancang sekali bicaramu"
"Dev, kamu harus tanggung jawab Dev. Jangan kamu seneng seneng sama dia trus aku dilupain"
"Apa maksud kamu?"
"Setelah kamu ngelakuin itu sekarang kamu pura- pura lupa" Citra bersedekap dada.
Devan bingung, "jangan ngaco ya !"
"Heh cewek gatel... Asal Lo tau, sampai kapan pun Devan nggak akan cinta sama lo" ucap Citra pada Dina.
Dina mencelos, tanpa Citra ucapkan pun dia juga tau itu, kenapa harus diperjelas.
"Devan masih cinta sama gue, dia bakal ngejar-ngejar gue lagi" ucap Citra dengan tak tau malu dan tingkat percaya diri yang tinggi.
Baik Devan maupun Dina tercengang, statement apa yang Citra ucapkan ini.
"Haha.. udah sombongnya ?" Kata Dina. "Ibu hamil jangan teriak- teriak ntar janinnya kaget lho" imbuhnya.
Devan terkesiap "siapa yang hamil ?".
"Aku Dev... Aku hamil anak kamu" ucap Citra yakin.
Mata semua orang masih tertuju pada mereka, kasak kusuk mulai terdengar dari beberapa orang yang mendengar percakapan mereka.
"Halu ya, sakit kamu Cit ? Nggak sadar kamu ngomong ngaco"
__ADS_1
"Aku serius Dev"
"Stop Cit, jangan permalukan dirimu sendiri. Ini tempat umum" pekik Devan.
"Biarin.. biarin aja, biar semua orang tau"
"Ayo Din kita pergi" tarik Devan tangan Dina.
"Kita belum makan Dev"
"Nggak mood, ada orang nggak waras disini"
"CITRA" Panggil Erik.
Seketika membuat Devan dan Dina pun menoleh. "Om Erik" lirih Devan.
Tangan wanita itu ditarik oleh Erik kembali ke meja mereka, membuat Citra menggerutu.
"Ayo ah makan.. lapar." Dina duduk kembali di kursinya bersiap untuk menyantap makanannya. Devan terpaksa menuruti.
Dina makan dengan lahapnya seakan lupa kejadian barusan, sedangkan Devan masih memikirkan ucapan Citra bahwa wanita itu mengandung anaknya.
Nggak.. nggak mungkin. Aku nggak pernah ngelakuinnya. Aku yakin.
Selesai makan mereka keluar dari gedung mall itu, hari sudah gelap rupanya mereka benar- benar menghabiskan waktu seharian disana.
"Kenapa baby, dari tadi cemberut. Apa masih lapar?"
"Kesel aja, kenapa harus ketemu dia"
"Tapi kamu nggak percaya kan sama dia ? Sumpah deh aku nggak pernah ngelakuinnya" Devan coba meyakinkan Dina.
Dina tersenyum, ternyata benar rumor yang beredar yang jadi topik hangat diantara teman- temannya. Yang dina dengar Citra menjadi sugar baby dari CEO perusahaan terkenal.
"Aku percaya atau nggak, memangnya penting?"
"Penting... Kamu harus percaya sama aku. Aku anak baik- baik."
"Entahlah. Bukannya kamu memang cassanova ?.." Ucap Dina, seraya masuk ke dalam mobilnya.
"Aku nggak begitu..Baby" lirih Devan.
Dina memainkan ponselnya, asik berbalas pesan singkat dengan grup chatnya, sementara Devan tertunduk sedih. Masih mengingat kejadian dia selama berhubungan bersama Citra, dia masih yakin tidak pernah melakukannya.
"Haahaha... Ada ada aja" tawa Dina menggema.
Devan melirik kesal, dia merasa diabaikan.
"Baby ayo jalan !" Perintah Devan.
"Din antar aku pulang !" Ucapnya lagi.
Dina Masi sibuk tak menghiraukan Devan. Ditariknya lengan baju Dina oleh Devan, gadis itu masih diam menatap ponselnya.
"Heh... Kembalikan!" Pekik Dina saat ponselnya berhasil di ambil Devan.
"Mau sampai kapan kita disini, ayo cepat nyalakan mobilnya, kita pulang !"
Perlahan Dina melajukan mobilnya, sementara Devan mengambil gambar dirinya menggunakan ponsel Dina.
.
.
.
.
.
__ADS_1
next ya...