
Di luar sana suasana masih gelap, para pelayan yang terbiasa bangun pagi untuk memulai aktivitasnya pun belum bangun.
Sania sudah lebih dulu bangun dan bersiap untuk melaksanakan ibadah paginya.
Sesemangat itu Sania akan memulai harinya.
4 hari lagi suaminya pulang, mungkin kemarin dia terbiasa bangun kesiangan karena apapun sudah dikerjakan oleh pelayan. Dirinya agak malas setelah menikah dengan Rangga.
Pria itu memanjakan istrinya yang profesinya sekarang hanya makan, tidur, dan harus bahagia.
Tapi lain hari ini, dia harus mulai membiasakan diri menjadi istri yang baik untuk suaminya. Menjadi istri yang melakukan semua kewajibannya. Melayani segala sesuatu kebutuhan sang suami mulai pakaian yang disandang, urusan makan bahkan sampai urusan ranjang. iissh... Mengingat kata ranjang Sania jadi tersipu malu.
Ketika suaminya pulang nanti, mulai saat itu juga dia harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri yang sesungguhnya.
Sudah pasti Rangga merindukannya, begitu juga dirinya. Hampir sebulan tidak berjumpa membuat Sania kesepian, sudah terbiasa dia dengan hadirnya Rangga yang penuh perhatian. Beda dengan Devan dulu, bahkan saat bertemu disatu tempat yang sama, Devan hanya menatapnya tanpa respon tidak ada kehangatan dari keduanya layaknya sepasang kekasih.
"Selamat pagi non" sapa Santi saat bertemu di dapur rumah pak Wijaya.
"Pagi Mbak Santi"
"Apa non Sania mau belanja hari ini ?? Neneng hari ini ada jadwal belanja bulanan tuh non". Kata Santi menginfokan.
"Pagi kak" sapa Reno yang baru datang, sepagi ini sudah nampak rapi dengan outfit casualnya.
"Pagi Ren.. mau kemana kok udah rapi ?".
"Iya kak, aku mau Jogja ada masalah yang harus di urus".
Selama suaminya tidak ada, apapun yang dilakukan Sania selalu minta ijin pada Reno "Oh ya Ren... Kakak mau ikut Neneng belanja ya. Bosen di rumah terus".
"Pergilah kak, hati-hati, jaga diri baik baik ! Reno berangkat dulu". Pamitnya, lalu manyalimi tangan kakak ipar, juga Santi. Walau hanya pelayan Reno menghormati posisinya sebagai orang yang lebih tua.
...........
Siang harinya...
__ADS_1
"Kenapa berhenti pak ?" Tanya Devan yang duduk dibelakang jok sang sopir.
Setelah berhenti sesaat, sopir melajukan mobilnya lagi "ada kucing lewat tuan, saya parkir depan loby saja ya tuan Devan, biar lebih dekat".
"Iya, saya ada pertemuan disana". Tunjuk Devan sebuah restoran cepat saji yang berada dekat loby dengan dinding kaca seluruhnya, pengunjung yang makan di dalam terlihat dari luar. Begitu pun sebaliknya, segala aktifitas lalu lalang di luar terlihat jelas dari dalam.
Setelah sopir memarkirkan kendaraannya dengan rapi, Devan turun lalu memasuki tempat dimana mereka mengadakan janjian.
Kurang lebih dua minggu sudah Devan menjabat sebagai pemimpin yang baru di perusahaan milik mendiang papanya. Sesuai janjinya saat awal berpamitan untuk bekerja sungguh-sungguh pada mamanya.
Bu Sandra sudah pasti akan bangga dengan pencapaian Devan. Dengan dibantu para sahabatnya dalam beberapa hari saja Devan mampu membuktikan kecakapannya dalam mengelola perusahaan.
Buktinya saat ini saja dia akan bertemu dengan seorang kontraktor asal Surabaya di restoran yang saat ini Devan tuju, untuk melakukan kerjasama dalam hal pembangunan kantor cabang yang baru.
Sudah di agendakan, seharusnya yang datang menemui Kelvin adalah Doni. Sahabat yang selama ini berjasa padanya, semasa ia sakit kemarin . Seiring Devan diangkat sebagai CEO , Doni kini menjabat sebagai sekertaris pribadi pria itu.
Tapi hari ini Doni ijin, dia akan terbang ke Singapura untuk suatu keperluan mendesak, ujarnya.
"Lakukan ton ! Jangan sampai gagal !" Ucap seorang pria yang duduk menghadap luaran sana, membelakangi arah Devan datang.
Dari belakang Devan coba menyapa.
Ia pegang pundak pria yang ia yakin adalah partner kerjasama dari perusahaan kontraktor yang akan menangani pembangunan gedung kantor cabang baru miliknya ini nanti.
Kelvin menoleh "Tu-tuan Devan... " Menyengir terkejut "mari mari silahkan duduk". Mematikan telpon genggamnya lalu menarik sebuah kursi untuk diduduki Devan.
Reflek penyambutan yang baik, Devan tersenyum. "Terima kasih tuan crazy rich".
"Hahahaha..." Kelvin tergelak. Seakrab itu mereka dulu, Devan memanggilnya crazy rich Surabaya. Setiap peluncuran mobil terbaru besutan perusahaan otomotif miliknya, Kelvin selalu ada didaftar pertama pemesanan. Itu makanya dulu Devan selalu berhasil memenuhi target penjualan dan membuatnya tak diragukan ketika menjabat sebagai manager pemasaran.
Di dalam mall yang sama, di tempat lainnya.
Sania antusias sekali mengikuti kemana pun Neneng mengitari rak rak yang berjejer rapi dengan berbagai macam produk kebutuhan rumah tangga.
Sewaktu dirinya masih sendiri, dia tidak pernah berbelanja hingga bertroli troli jumlahnya.
__ADS_1
Paling hanya satu troly, itu pun tidak penuh.
Tapi kali ini, dirinya, Neneng dan dua pelayan lainnya mendorong masing-masing satu troly dengan tumpukan belanjaan yang sama, tapi kecuali Santi.
Di dalam troly yang didorong Santi, kosong belanjaan, hanya ada seorang bocah kecil duduk manis sambil menyuap es krim kedalam mulutnya, siapa lagi kalau bukan Sera.
Ya, kalau belanja di supermarket begini lebih aman anak kecilnya masukkan saja ke dalam troly, biar tidak berlarian kemana-mana.
"Apa masih ada lagi neng?" Tanya Sania, Neneng bilang semua belanjaan ini kadang hanya cukup untuk dua minggu saja, nanti kalau kurang dia pergi belanja lagi. Apalagi sekarang di dalam rumah pak Wijaya ada banyak masyarakatnya yang tinggal.
"Sudah Non.. yang buat acara syukuran kepulangan den Rangga juga udah masuk list tadi".
Sania berbinar, senang rasanya dia akan menyambut kepulangan suaminya dengan acara syukuran dan mengundang banyak orang.
Sementara dua pelayan dan Neneng membawa belanjaan mereka ke mobil, Sania, Santi dan Sera menunggu di depan pintu luar loby. Anak kecil itu sawan kalau di ajak ke parkiran di basement yang temaram cahaya.
Beberapa menit berdiri menunggu, Sera jenuh. Ia lepas gandengan tangan Sania. Beralih pada Santi, disaat kedua orang dewasa itu sibuk memperhatikan mobil yang lalu lalang bergantian. Anak itu malah memperhatikan seekor kucing yang bersembunyi dibalik ban mobil yang terparkir VIP depan lobby tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Tingkah laku kucing itu membuat Sera gemas menghampirinya. Sania menoleh, pada Sera yang tadi dia lihat menggandeng Santi.
Namun seketika matanya melebar tatkala sebuah mobil mendekati Sera yang berlari menghampiri kucing itu.
Spontan Sania pun berlari ke arah Sera.
Duug
Aaaahh....
"Noooonn......." Santi berlari menghampiri, sementara Sania sudah jatuh tersungkur di aspal parkiran itu.
Semua orang yang didekat sudah merapat ke tempat kejadian, Sera berteriak menangisi tantenya.
Lalu seorang pria berjas rapi keluar dari sebuah tempat makan. Ikut berlari bersama yang lain akan menolong gadis malang itu.
Diterobosnya semua orang yang ada disana, dia harus digarda terdepan memastikan gadis itu mendapat pertolongan.
__ADS_1
"Biar saya saja" ucapnya, pada dua orang pria yang akan mengangkat tubuh Sania yang sudah tak sadarkan diri.