
Adam yang baru saja tiba di loby itu pun melihat Sania Ketika Sania masuk ke mobil Rangga.
"Bukannya itu Sania ya, tapi itu mobil Rangga" gumamnya.
Di dalam mobil.
"Yah.. berapa lama lagi Devan akan dirawat ?" Tanya Rangga pada ayahnya.
"Mungkin 2hari lagi dia boleh pulang tinggal terapi beberapa kali pasti bisa sembuh "jawab pak Wijaya .
"Kita mampir makan sebentar disana ya! "Perintah pak Wijaya, agar Rangga membelokkan mobilnya ke arah restoran seafood pinggir jalan.
"Sania tidak keberatan kan?" Imbuhnya.
"ii iya pak.. saya ikut saja terimakasih"jawab Sania malu malu.
Sesampainya di rumah makan itu, pak Wijaya menerima panggilan darurat dari rumah sakit.
"Ga, Nak Sania ,ayah mohon maaf kalian lanjutkan saja berdua ayah harus kembali kerumah sakit, urgent" kata ayah Rangga padahal mereka baru saja duduk dan memesan makanan,bahkan makanannya pun belum datang.
"Rangga antar saja yah" sahut Rangga cepat.
"Tidak usah, temanilah nak Sania.. sopir RS sedang menuju kemari. Ayah tinggal dulu ya, kalian nikmati saja makannya" lalu pak Wijaya melangkah pergi.
.........
Ruang rawat Devan.
"Dev lu tau ?" Adam yang baru saja datang tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang membuat Devan bingung.
__ADS_1
"Heh.. masuk ketok pintu, ucap salam bawa buah tangan gitu. Ini mah bawa diri doang dateng-dateng nanya nggak jelas " maki Devan pada Adam.
"Alah itu nggak penting, berita yang gue bawa jauh lebih penting" sahut Adam antusias, sambil mendudukkan dirinya di kursi yang tadi juga di duduki oleh Doni .
"Apa" jawab Devan malas.
"Sania sama Rangga , apa tadi dari sini ?"
Selidik Adam.
"Rangga ? Iya Sania kesini tapi sama anak divisi kita, sama Doni juga, kenapa jadi sama Rangga ?"
"Nah loo... " Adam menjentikkan jarinya seolah memecahkan suatu kasus yang belum terungkap.
Devan mengepal geram, bisanya Rangga memanfaatkan situasi. Mencoba mendekati Sania disetiap kesempatan pertemuan mereka.
Jam segini adalah waktunya Rangga dan ayahnya pulang kerja. Pasti Rangga bertemu dengan Sania lalu memberinya tumpangan. Begitu lah asumsi Devan.
Devan bersumpah tak akan memberikan celah Rangga untuk mendekati Sania setelah dirinya sembuh nanti.
"Lo cemburu Dev ? " Tanya Adam, melihat Devan yang diam saja tapi seperti menahan marah.
"Nggak" jawab singkat Devan.
"Yaudah lagian udah ada citra ini. Nggak usah dipikirin lah dia " lanjut Adam yang lalu sibuk dengan ponselnya main game online.
Kenapa perasaan aku lebih nyaman Deket Sania , dia gadis lembut yang kalem.
Dia nggak pernah minta apapun
__ADS_1
Liburan, hadiah, bahkan uang cash pun nggak pernah.
Dia mencintai aku tulus
Tapi apa mama mau merestui ? Secara.. penampilan Sania biasa aja
Nggak modis nggak fashionable
Keluarga Sania juga sederhana
Gimana kalo mamah tetep kekeh mau jodohin aku sama anak temen sosialitanya
Mama bilang juga kurang suka sama citra, dia bilang citra matre.
Devan mengacak rambutnya frustasi.
"Heh kenapa Lo? " Adam menyadari sepertinya Devan sedang banyak pikiran.
.........
Sementara itu di restauran Sania dan Rangga sedang menikmati makanan mereka.
Tiba- tiba seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Bu sandra, mama Devan. Nampak baru masuk kedalam restauran tersebut bersama dengan temannya.
Dari jauh dia melihat keponakannya sedang makan dengan gadis yang waktu itu pernah dia maki di ruang rawat putranya.
"Rangga. Eh Gadis sialan itu.. dia tau aku tak akan merestuinya dengan Devan lalu sekarang dia coba deketin ponakanku. Dasar matre !" Gerutu mama Devan.
"Mari jeng sebelah sana! Apa yang jeng Sandra lihat dari tadi?" Tanya teman sosialita mama Devan itu.
__ADS_1
"Eh iya ayo bukan apa-apa kok" jawab mama Devan, lalu mengikuti langkah temannya menuju kursi yang telah mereka reservasi sebelumnya.