
"Terserah apa maumu, tapi apa kamu ingat ayah dan ibumu?" Ucap Rangga menaikkan sebelah alisnya.
Rupanya Sania keras kepala tak bisa luluh hanya dengan janji yang Rangga ucapkan semalam. Janji akan melindungi Sania juga keluarganya.
Sementara Sania akan menghindar dari masalah yang belum tentu hilang atau selesai dengan sendirinya. Masalah itu harus dihadapi dan diselesaikan ! bukan malah menghindar.
Sania terduduk dengan airmata mengalir membanjiri pipinya. Dia lupa dengan kondisi ayahnya. Lelaki paruh baya yang sedang terbaring lemah di rumah sakit dan membutuhkan banyak biaya. Sania tak bisa egois dan lepas tangan begitu saja.
"Aku akan jual rumah ini untuk bayar semua pengobatan ayahku"
"Nggak akan cukup, apalagi masih kredit" ucap Rangga masih dengan duduk mengangkat sebelah kaki dan melipat kedua tangan didadanya.
"Aku bisa cari kerja lain lagi setelah resign " kekeh Sania.
"Nggak akan semudah itu"
"Aku harus apa ?"
"Menikah denganku"
"Menjual diriku pada mu untuk semua itu ?"
"Menikah, menjadi istriku, mendampingi seumur hidupku, menghadapi semua bersamaku. Apa maksudmu menjual diri? Gertak Rangga.
"Devan sudah melecehkanku, aku merasa nggak baik buat kamu"
"Dokter bilang kondisimu baik- baik saja. Masih utuh, hanya lebam di luar. Apa lagi masalahnya ?"
Sania diam menunduk tak mampu berkata- kata, dia hanya kehilangan rasa percaya diri dan malu pada Rangga atas perbuatan Devan terhadapnya.
"Aku akan membawamu pindah dari sini " ucap Rangga kemudian.
"Kemana ?"
"Tadi rencanamu mau kemana?" Rangga balik bertanya, mengingat tadi Sania menggebu-gebu sudah akan pindah dengan koper yang sudah siap.
"Nggak tau" ucapnya sedih. Konyol sekali batin Rangga. Mau tertawa takut si cengeng nangis lagi.
"Ke apartemen Reno yang semalam kita tempati, mau ??"
"Aku nggak mau sendiri"
Membawanya kerumah juga tak mungkin, rumah Rangga dan Devan bersebelahan. Sania dalam bahaya jika dekat dengan Devan.
"Kita ke apartemen sekarang, istirahat ! nanti malam kita terbang ke Singapura"
"Nanti malam ?"
"Iya... Ada masalah lagi ?"
"Aku belum mengajukan cuti"
"Katamu tadi mau resign ?"
"Ya kan belum di ajukan surat pengunduran dirinya" sahut Sania memanyunkan bibirnya.
"Ya sudah sekarang kita kesana... Antar surat pengunduran dirimu" Rangga bangun dari duduknya, sudah membawa koper Sania.
__ADS_1
"Kenapa diam ? Masih mau kerja ? Aku aja udah resign " Ucap Rangga melihat Sania diam tak bergeming.
"Ah ..Biaya pengobatan ayahku gimana?"
"Hahaha... Nggak usah dipikirkan, itu rumah sakit milik ayahmu dan ayahku".
Nanti saja menjelaskannya yang terpenting mereka pergi dulu dari rumah ini.
Mendengar Rangga resign dari pekerjaannya, Sania semakin khawatir saja. Bagaimana untuk biaya keluarganya, ditambah Sania akan resign juga dari tempatnya bekerja demi menghindari Devan. Walaupun Sania tau orang tua Rangga kaya, tapi tak mungkin setelah menikah mereka akan menumpang hidup begitu saja.
Sesampainya di kamar yang semalam ia tempati. Sania langsung merebahkan dirinya, tidur senyaman mungkin di kasur itu. Rasanya semalam tak puas karena tidurnya tak tenang.
Rangga memperingatkan Sania agar jangan berbuat nekat, kabur kaburan lagi. Sudah cukup lelah dirinya akhir- akhir ini. Setelah menjelaskan panjang lebar seperti apa kehidupan mereka setelah menikah nanti barulah gadis itu menuruti semua yang di ucapkan oleh Rangga.
Cukup percaya pada Rangga dan semua akan baik- baik saja, seperti yang lelaki itu selalu ucapkan. Ia pria yang cukup bertanggung jawab, apalagi hanya sekedar menafkahi istrinya nanti.
"Iya, besok pagi dilaksanakan. Terimakasih atas bantuannya, sampai jumpa" Rangga lalu menutup panggilannya.
"Dari siapa? Apakah kabar dari rumah sakit ?"
"Sudah bangun ya, tidurmu sangat lelap sesore ini baru siuman"
"ish...aku bukan pingsan, cuma nyaman"
"Lapar ?" Tanya Rangga melihat pada perut Sania yang sedang dipegangi.
"Lapar lah, dari pagi belum dikasih makan "
"Mandi sana ! Kita makan sekalian berangkat"
"Oke siap.. Aku kangen mereka"
Sebenarnya tidak semendadak ini, tapi karena ulah Devan yang ternyata kelewat batas akhirnya Rangga memutuskan untuk cepat menikahi Sania.
Sebelumnya Rangga sudah memberitahu kabar tentang Sania pada ibu dan pak Wijaya, karena bagaimana pun semua harus dibicarakan, agar semua berjalan lancar dan ternyata semua menyetujuinya.
Untung saja Sania hanya pulang kerumahnya dan malah langsung berkemas bukan diculik Devan seperti yang dibayangkan Rangga. Karena kalau sampai Sania menghilang akan lain lagi ceritanya.
Matahari tampak orange di ufuk barat, ini makan siang yang terlambat, keduanya tetap lahap menyantap hidangan yang sudah tersaji.
"Mas adikmu libur kan, kenapa nggak kita ajak ? " Tanya Sania disela kunyahannya.
"Dia banyak urusan "
Melanjutkan lagi makannya namun Rangga nampak berfikir. Dihari sakral yang harusnya menjadi momen bahagia seluruh keluarga mereka malah kucing kucingan seperti ini.
Dia sebenarnya ingin sang adik turut menyaksikan pernikahannya dengan Sania, tapi ya sudahlah demi keamanan bersama biarlah Reno menjaga Devan saja. Lagipula hanya Reno yang bisa dipercaya saat ini oleh Rangga ,anak itu jujur dan tak mempan di suap oleh Devan.
.........
"Ren... Nggak bosen seharian numpang di kamar orang ?" Sindir Devan.
"Kenapa emang ?"
"Lo mau liburan kan ? udah hampir 24 jam disini, rumah kepleset nyampe juga. Kok nggak pulang sih? "
Reno tak menjawab. Biarlah Devan mengoceh sesuka hatinya nanti juga diam sendiri.
__ADS_1
Bukan Devan tak paham adanya Reno di rumahnya. Bahkan Reno seharian di kamar Devan dan kunci pun ada di saku Reno. Bocah itu sedang menjalankan tugas dari Rangga dan mama Devan pun mengizinkan putranya itu di kurung.
Yang Devan lakukan sekarang bukan kenakalan anak kecil seperti yang pernah ia lakukan dulu. Ia terlalu gelap mata hingga bertindak layaknya seorang penjahat.
Devan hanya butuh teman disampingnya, tidak bisa dia ditinggalkan dalam keadaan sedih seorang diri. Maka dari itu Reno ada di dalam kamar bersamanya.
"Ren.. "
"Ren..ke cafe yok !" Ajak Devan bosan.
"Hmm"
"Ren ..percuma Lo disini nggak guna, bikin sumpek kamar gue" kesal Devan.
"Ren..."
"Lagi Mabar" jawab Reno cuek.
"Sini kuncinya, nggak di kasih gue lompat nih"
"Lompat aja !" Reno tau Devan hanya mengancam.
"Arrrgghhh... " Devan mondar mandir, susah meluluhkan Reno.
"Ren.. Lo emg rela punya kakak ipar bekas gue ?"
"Terserah yang ngejalanin"
"Ren dia lagi hamil anak gue " Devan terus memprovokasi pikiran Reno agar mau menolak Sania menjadi kakak iparnya.
"Yakin ?"
Devan menyeringai "sumpah "
"Berapa bulan ?" Tanya Reno serius.
"Dua bulan.. ya dua bulan"
"Ya udah kalian joinan aja!" Jawab Reno enteng.
Buug
"aaargh..."
Bantal melayang tepat dikepala Reno.
Reno mengumpat "Yah kalah kan jadinya haaaahh"
"Pinjam ponsel ,jangan game terus. Suruh Adam kesini !!" Devan menjangkau ponsel Reno .
Tak diberikan oleh Reno, tetap fokus dengan gamenya "Dia pergi"
"Kemana?"
"Singapura"
Seketika mata Devan membulat sempurna. Sudah pasti Rangga merencanakan sesuatu bersama Adam.
__ADS_1
Bocah itu baru menyadari ada yang salah dengan ucapan lalu beralih menatap Devan yang sudah mengepalkan tangannya.