
Keadaan Devan masih terbaring lemah diruang perawatan. Dirinya seakan rapuh tak memiliki sandaran lagi. Begitu mencemaskan mamanya hingga dia mengabaikan kesehatannya sendiri.
Keberadaan Dina yang biasanya mampu membuat harinya lebih ceria kini tak ada artinya lagi. Setelah semangatnya membara ingin fokus mengambil alih perusahaannya kembali dan membahagiakan mama Sandra, nyatanya kini Devan malah terpuruk.
Waktu seakan berhenti untuk Devan, menurutnya untuk apalagi mengejar sukses dunia kalau ia hanya akan melihat mamanya terdiam tidak bisa menikmati suksesnya Devan nanti, hanya memeluk dirinya pun Bu Sandra tak akan mampu karena beliau sedang terlelap dalam tidurnya dan entah kapan akan bangun lagi.
Membayangkannya saja sudah runtuh jiwa Devan, tidak ada lagi Devan arogan dan keras kepala. Yang ada saat ini, Devan dengan hati yang patah dan frustasi kehilangan arah.
Dina keluar dari kamar rawat Devan. Gadis itu merasakan dirinya juga tidak berguna saat ini, sepenuh hati dia merawat Devan nyatanya hati Devan tak sedikit pun luluh untuk merespon dukungan yang gadis itu berikan padanya. Tak berpengaruh apapun untuk membuat Devan kembali bangkit dan menyelesaikan semua masalahnya.
"Nak Dina" sapa Bu Riska.
Walau Dina saat ini memakai baju dinas rumah sakit, ibu tetap mengenalinya. Mereka beberapa kali bertemu, Dina juga menghadiri pernikahan Sania waktu itu.
"Ibu.. Reno ". Sapanya.
Reno tersenyum "hai kak".
"Ibu sudah menjenguk pak Hendra ?" Tanya Dina, sebab ruang rawat pak Hendra bukan di lantai ini. Tapi ibu dan Reno ada di lantai tempat perawatan Bu Sandra yang berdekatan dengan Devan.
"Belum... Ibu bahkan belum kesana".
"Mau saya antar Bu ?". Tawar Dina pada ibu.
Reno menyela "Boleh kak, tolong antar ya kak".
"Sania gimana ?" Tanya ibu, cemas kalau Sania nanti mencarinya.
"Biar sama Reno, nanti Sera dan Santi menyusul ibu kesana".
"Baiklah nak kalau begitu, ibu titip Sania ya"
"Iya Bu" Reno mengangguk.
__ADS_1
Dina menggandeng tangan ibu, membawa Bu Riska ke ruang perawatan pak Hendra.
Ada dia juga rupanya. Batin Dina sambil berlalu meninggalkan Reno yang masih sendirian disana.
Langkah kaki Sera terdengar mendekat saat sikecil itu berlari kearah Reno.
"Om mana Oma ?" Tanya Sera menarik baju reno.
"Diatas, Sera naik ya sama bibi Santi ke kamar kakek Hendra." Perintah Reno sambil mengelus rambut Sera.
Anak itu mengangguk lalu digandeng Santi berjalan ke arah yang sama dengan yang dilewati oleh Bu Riska dan Dina.
Sampai di ujung koridor sana, Sera melambai pada Sania sebelum akhirnya berbelok dan tak terlihat lagi.
Reno melihat pada Sania yang hanya diam tak bergeming menatap kepergian keponakannya itu. "Kak--".
Belum selesai Reno mengucap, pak Wijaya datang menghampiri mereka dengan diikuti oleh dua orang perawat "Ren.. kalian sudah disini rupanya, ayo masuk !".
"Sudah bangun Van.." sapa pak Wijaya.
Devan menoleh baru akan menjawab, tapi sesaat kemudian matanya terbelalak melihat pada siapa yang ada dibelakang pak Wijaya.
Dia tersentak, lalu segera bangkit memposisikan dirinya untuk duduk bersandar. Walau kepalanya masih sedikit pusing akibat kebanyakan tidur dan menangisi kondisi mamanya.
Senyum tersungging di bibir pak Wijaya ketika melihat respon Devan yang memang sudah ia duga akan dilakukan oleh keponakannya itu.
Tatapan datar tergambar jelas di raut wajah Sania saat memandangi Devan. Terakhir mereka bertemu ketika Devan mencoba menarik tangan Sania, lalu Reno menyerangnya membuat dia terjatuh terkena pecahan gelas di lantai rumah pak Wijaya.
Berbeda dengan cara Sania memandang dirinya, Devan menatap heran pada wajah pucat Sania dengan banyak pertanyaan di kepalanya.
"Sunshine".. panggilan itu akhirnya terucap oleh bibir Devan disaat semua orang sedang menatap mereka berdua.
Sania mengerjap mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, seakan akan ia baru tersadar dari hipnotis yang menguasai pikirannya. Pandangan yang terlempar datar untuk Devan tadi kini berubah sendu, seolah banyak sekali cerita yang ingin ia utarakan pada siapa saja yang mau mendengarkannya.
__ADS_1
"Dev..." Lirih Sania.
"Sunshine..."
Dua pasang mata itu kini beradu pandang dengan genangan air yang siap tumpah pada tempatnya masing masing.
Ingin sekali rasanya merengkuh tubuh itu dan mencurahkan segala penat di hatinya. Namun ia sadar yang sedang berdiri disana menatap dirinya adalah bukan miliknya lagi.
Hal itu membuat denyutan kepalanya semakin menjadi, Devan menggeleng beberapa kali.
Kedua tangannya memegangi kepala, dan kini kakinya pun menekuk untuk menyembunyikan wajahnya disana.
Mereka tercengang melihat Devan seperti orang frustasi.
Sania sontak melangkah mendekati Devan.
"Kak" pekik Reno, yang kemudian diberi tanda oleh pak Wijaya dengan gelengan kepala. Mengisyaratkan Reno untuk tidak melarang kakak iparnya mendekati Devan.
"Tapi yah...." Protes Reno, lalu mendecakkan lidahnya sebab sang ayah malah memberikan senyum padanya.
.
.
.
.
.
.
semoga semuanya sehat selalu 🤗😘
__ADS_1