
Di Rumah Sakit Janendra,
Baik Devan maupun Sania sudah menjalani hari biasa yang normal. Sania sudah tidak lagi merenung dalam lamunannya merindukan Rangga.
Devan pun begitu, tidak lagi berputus asa sebab sang mama yang masih belum bangun dari komanya. Malah ia sekarang semangat untuk menyelesaikan semua urusannya sehingga ketika mamanya sadar nanti itu semua akan ia hadiahkan sebagai rasa syukurnya.
Bertemu dengan Sania seakan mengaliri energi semangat untuk menata hidup kembali. Itu yang Devan rasakan. Walau ia tidak bisa memeluknya untuk menciptakan kenyamanan pada dirinya secara langsung tapi dengan mengobrol dan melihat senyum Sania saja Devan merasakan atmosfir luar biasa pada otaknya, sehingga tubuhnya yang tadinya lemah tak bergairah kini sehat bugar tanpa dosis vitamin tambahan.
My sunshine . Gumam Devan tiap kali mendengar bibir ranum yang pernah ia kecup paksa itu berbicara pada siapa saja.
Senyum senyum sendiri Devan melihatnya. Entah apa yang ia dengar, padahal Sania hanya menyapa atau Sania hanya menyahut, menjawab pertanyaan bahkan Sania hanya mengangguk pada lawan bicaranya pun itu bisa membuat Devan tersenyum bahagia.
Tingkah Devan yang aneh menurut siapa saja yang melihatnya itu termasuk juga Reno, sudah pasti tidak akan percaya kalau bukan karna cinta namanya. Ya, Cinta. Devan memang masih mencintai Sania. Dan itu juga disadari oleh Reno yang terus mengawasi setiap gerakan Devan saat bersama kakak iparnya.
Bukan pak Wijaya membiarkan menantunya ini sebagai umpan kesembuhan Devan, tapi nyatanya kedua orang ini seperti memiliki ikatan untuk saling memberi suport terbaik diantara diri mereka.
Kesehatan Pak Hendra sudah membaik, kini Sania dan keluarga tengah bercengkrama di ruang perawatan yang lebih mirip seperti kamar pribadi ayah Sania sendiri.
__ADS_1
Setelah berpamitan pada semua orang disana Devan akan pulang ke Jakarta hari ini juga. Berat hatinya melangkah meninggalkan tempat ini, terlebih sedang ada yang membuat nyaman dirinya, walau hanya berada ditempat dan menghirup udara yang sama. Siapa lagi kalau bukan kehadiran Sania, dan Reno membenci itu.
Mata elangnya terus sibuk mengawasi pergerakan sepupunya itu setiap detik setiap waktu. Tak ingin lengah, hanya seperti ini saja Devan baper bukan main apalagi kalau sampai Sania beramah tamah padanya lebih lama. Bisa bisa tekanan darah Reno melonjak tinggi sebab selalu tegang melototi pada tingkah Devan yang seakan meledek dirinya itu.
Contohnya saat ini, Devan akan berpamitan pada orang terakhir yaitu Sania, tapi seolah waktu Devan buat berhenti ketika berhadapan dengan Sania. Tentu saja, Reno sudah mengepal geram dibuatnya.
"Sunshine... Jaga dirimu baik-baik, aku pulang dulu ya".
Sania hanya mengangguk dan tersenyum.
Devan belum beranjak pergi, mungkin menunggu Sania menanggapinya.
Sania mengangguk lagi.
Devan tersenyum lalu melangkah, "Aku merindukan kita yang dulu" bisik Devan melewati Sania.
Sania terkesiap, nampak dari pupil matanya yang melebar dan Reno paham itu.
__ADS_1
"Heh Dev.. bicara apa kau pada kakakku ?". Seru Reno. Namun saat itu Devan sudah berbelok setelah keluar dari pintu yang kini mulai tertutup secara otomatis setelah dilalui.
"Sudah sudah..." Ibu mencoba menenangkan Reno, semua orang disana nampak biasa saja dengan ulah Devan, ibu pun yakin dan percaya pada Sania. Bahwa Sania tak akan mungkin menghianati suaminya, Sania cukup dewasa untuk menyikapi apa yang menjadi keputusannya. Devan hanya masa lalu yang memang tingkahnya seperti itu pada setiap wanita, Sania tidak terlalu serius menanggapi semua omongan Devan makanya dia hanya membalas dengan senyuman saja.
Beberapa menit setelah kepergian Devan, Sania mendekat pada ayah mertuanya untuk sekedar bertanya mengenai suaminya, bagaimana pun dia masih belum tenang kalau belum ada kabar apapun tentang Rangga.
"Ayah.. bagaimana kabar mas Rangga ?".
Pak Wijaya menelan salivanya, dia pikir Sania sudah lupa karena terlampau nyaman berada ditengah-tengah keluarganya yang hangat.
Ternyata gadis itu tetap memikirkan Rangga.
Pembawaan pak Wijaya yang tenang membuat Sania tidak curiga akan kabar buruk yang menimpa suaminya itu.
"Nak sabarlah, dua pekan lagi suamimu pasti pulang" ucap pak Wijaya dengan senyuman, padahal Reno sudah terlihat berkeringat takut terjadi sesuatu pada Sania.
Reno tau betul, ayahnya sendiri tidak mendapat informasi apapun tentang kabar Rangga.
__ADS_1
Tapi pak Wijaya memilih jawaban aman untuk menenangkan hati Sania.
Bahkan hati pak Wijaya saja sebenarnya tidak sekuat saat ia mengatakannya. Otaknya seakan bekerja keras harus melakukan apalagi untuk mencari kabar tentang putranya itu.