
"Apa kau pergi hanya untuk menjemput selingkuhanmu mas ?"
"Maafkan aku Sania"
"Aku nggak mau dimadu mas, sampai mati pun aku nggak mau. Bawa dia pergi mas !!"
"Suka nggak suka kamu harus terima, kami saling melengkapi. Dia memberikan apa yang aku mau"
"Nggak mas... Nggak... Jangaaaaannn ".
Mendengar teriakan Sania, seketika ibu, Santi dan Neneng berlarian masuk ke kamar Sania.
"Non bangun"
"Sayang bangun"
"Bangun non bangun"
Seru ketiganya pada Sania...
"Bu.." Sania bangun dari tidurnya, duduk lalu memeluk Bu Riska.
"Aku takut Bu" Sania tersedu dalam pelukan ibunya.
"Hanya mimpi, bunga tidur. Apa yang kamu takutkan ?" Ibu mengelus rambut Sania.
"Dia bersama wanita lain Bu, disana"
Neneng dan Santi saling pandang, mungkin isi pikiran mereka sama. Sama sama menduga ini adalah firasat seorang istri.
Tapi mungkin benar kata ibu, ini hanya sekedar mimpi.
__ADS_1
Karena Sania tertidur dengan perasaan yang tidak baik.
Bagaimana tidak, mulai dari desas desus ketika ibu berbelanja ditukang sayur, lalu nenek Loren yang membandingkan Sania dengan anaknya yang sedang hamil, terakhir mandor gempal yang siap menunggu Sania menjanda.
Perkataan mereka sungguh mengoyak hati Sania. Membuat tidur Sania tak tenang sampai kini ia bermimpi suaminya bersama wanita lain.
Dia memang belum menjalankan perannya sebagai istri yang sesungguhnya. Makanya, itu semua sungguh menyakitkan bagi dirinya. Terlebih sudah memasuki dua pekan tidak ada kabar sama sekali mengenai keadaan sang suami.
"Non minum dulu " Neneng memberikan segelas air putih pada Sania.
Pyaaaaar..
Bug..Sania pingsan.
Belum sempat Sania menggenggam gelas pemberian Neneng, gelas itu terjatuh lalu pecah, karna seketika Sania pingsan begitu saja.
"Hati hati ..hati hati, baringkan lagi!"
Hiks hiks.. omaaa...
Tangis Sera terdengar, mendekat menghampiri mereka. Rupanya kegaduhan tadi mengganggu tidur bocah kecil yang saat ini terbangun lalu menangis. Santi cepat cepat membawa Sera kembali ke kamarnya dan menidurkan kembali anak kecil itu.
.........
Di Rumah sakit...
"Dok.. tensinya rendah, ini kesekian kalinya dia mengigau menyebut nama sunshine" ucap suster jaga, yang menunggui Devan di sebuah ruang perawatan.
Pak Wijaya menoleh pada Dina, pasalnya akhir- akhir ini Dina dekat dengan Devan, ketika Devan tiba-tiba harus dilarikan ke UGD Dina lah orang pertama yang pak Wijaya cari.
"Din, siapa sunshine ?" tanya pak Wijaya pada Dina.
__ADS_1
Dina menggaruk pelipisnya, antara ragu dan takut. "mungkin Sania pak". ucapnya kemudian.
Dahi pak Wijaya berkerut, "Sania ? menantuku?".
Anggukan Dina cukup meyakinkan pak Wijaya.
"Apa mereka masih berhubungan?"
Dina menggeleng, antara tidak tau atau tidak Mau memberitahu perihal Devan yang masih memendam perasaan pada menantu beliau itu.
"Tenangkan dia ! sebagai dokter aku akan memberikan yang terbaik".
"Baik Dok"
Setelah berpamitan pada Dina, dan menitipkan keponakannya pada gadis itu. Pak Wijaya kembali keruangannya, duduk di kursi kebesarannya, lalu memejamkan matanya.
Banyak sekali kejadian yang seolah bertubi-tubi datang dalam kehidupannya.
Semua bermula ketika ia membantu Sania kecelakaan. Tak disangka putranya mencintai gadis itu dan ternyata gadis itu adalah kekasih keponakannya.
Lebih mengejutkan lagi, dia bertemu sahabatnya secara tidak sengaja di rumah sakit miliknya. Dan gadis yang sama adalah putri sahabatnya dimasa lalu.
Pak Wijaya memijat pelipisnya.
Beberapa jam lalu, Devan dikejutkan dengan kabar bahwa Bu Sandra mengalami koma setelah sebelumnya dikabarkan stroke.
Lalu datang kabar dari orang suruhannya, sang paman membawa kabur tersangka penyebab musibah yang dialami Bu Sandra, yang tak lain adalah Citra.
Kondisi perkembangan perusahaan pun mengalami guncangan, sebab para investor sebagian menarik sahamnya atas berita skandal CEO dan korupsi yang dilakukannya.
Emosi Devan membuncah tak terkontrol, hingga akhirnya dia ditemukan tak sadarkan diri di toilet rumah sakit tempat dimana Bu Sandra dan pak Hendra kini dirawat.
__ADS_1