Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Penyelamatan


__ADS_3

"Jangan begini Dev, tolong lepasin ya " pinta Sania lirih.


"Beri aku kehangatan san ! aku cinta kamu San"


"ini bukan cinta tapi nafsu.. LEPASIN !" Bentak Sania.


Devan semakin mengencangkan tali pengikat pergelangan Sania agar tak berkutik.


Tangan Sania sudah terikat tapi bisa saja dia menendang kaki Devan yang sakit itu agar semakin patah. Tapi Sania tak mau ambil resiko, jika kaki Devan lumpuh dia malah akan terikat selamanya atas kesalahannya itu.


"Apa kamu yakin mau meneruskan hubunganmu sama si duda brengsek itu ?" Bisik Devan seraya menggesekkan pipi Sania dengan pipinya.


Sania diam tak bergeming, namun tangannya terus digerakkan agar segera terlepas.


Sejak kapan dia bawa tali, kenapa tadi aku nggak lihat. batin Sania.


"Kamu serius mau ninggalin aku sunshine ?" Devan memeluk Sania erat, sesekali ia menciumi leher Sania dengan lembut.


Air mata Sania tumpah, mengalir di pipi. Devan mengecup buliran air di pipi mulus Sania.


"Kenapa sayang ? Jangan sedih, aku nggak akan nyakitin kamu" panik Devan .


Devan layaknya psikopat saat ini. "Kamu serius mutusin aku demi dia ? Beraninya kamu selingkuh dari aku San?"


"KAMU YANG SELINGKUH" Teriak Sania .


Sania terisak, jika dia berontak dan berteriak minta tolong pasti Devan akan menyakitinya lebih.


"Dev... Tolong lepasin, maafin aku Dev" mohon Sania ditengah tangisnya.


"Aku akan lepasin, tapi kasih aku kenangan terindah untuk terakhir kalinya sayang"


"Kita bisa bicarain baik- baik Dev, tolong lepas dulu" mohon Sania.


"Kita mau lakuin dimana sayang? Disini, di sofa, atau di kamarmu yang nyaman?"


Tanya Devan sambil mencari posisi.


Sania mencoba lari dari dekapan Devan, tapi tangan Devan cukup sigap menahan Sania yang kabur.


"JANGAN BERONTAK !!.." bentak Devan.


"Apa harus kerumahku dulu sayang, aku sudah siapkan kamar malam pertama kita disana"


"Apa sebenarnya maumu ?" Tanya Sania, sepertinya Devan tidak bisa di ajak negosiasi.


"Jelas tubuhmu yang sintal ini"


"Nikahi aku kalau kamu mau " tantang Sania.


"Mamaku menentang hubungan kita"


"Itu sudah jelas, kita harus berpisah bukan atas kemauanku"


Tangan Devan mencengkeram rahang sania. "Lantas kau salahkan orang tuaku ?? Salahkan Rangga yang lancang merebutmu dariku" pekik Devan tak mau kalah.

__ADS_1


"Kembalilah pada gadismu di luaran sana!!"


"Kamu menyuruhku dengan para j@lan9 itu ? Hahhh???" Maki Devan tak terima.


"Lalu si duda itu dapat perawanmu, gitu ?"


"Masih banyak gadis baik di luaran sana, tolong lepaskan aku"


Devan menangkup kedua pipi Sania. menciumi leher lagi menghirup aroma segar sabun karena Devan datang tepat setelah Sania selesai mandi.


"Yang aku mau kamu "


Ia lalu memeluk Sania yang masih berdiri terhimpit tubuh nya di tembok, devan perlahan merosot menciumi tubuh bagian depan Sania.


Sania tak tahan dengan perlakuan Devan yang melecehkannya.


Buug..


Ketika tepat berjongkok di depan milik Sania, Didorong tubuh Devan dengan kakinya hingga Devan terjungkal kebelakang.


"Toollooooongg....!!!" Teriak Sania , kebetulan perumahannya sedang sepi tak ada siapapun yang bisa menolong Sania, duo security pun entah kemana.


Devan tertatih berlari menangkap Sania.


Brraakk...


Devan mendorong tubuh Sania terpelanting ke sofa.


"Jangan begini Dev , sadarlah! Aku sakit Dev "


"Yang harusnya dapat warisan banyak itu aku, bukan dibagi ke Rangga dan Reno. Yang harusnya dapat kamu itu aku, bukan duda sialan itu.. semua ini nggak adil buat aku" ceracau Devan lalu menindih tubuh Sania yang sudah terlentang di atas sofa.


"DIAAAM !!!..." Bentak Devan lalu membekap mulut Sania.


"Sekali lagi teriak, langsung aku masukan nih.. kau obral tubuhmu dengan Rangga, denganku sok jual mahal. Apa kau tau sunshine ? Demi menjaga harga dirimu yang tinggi itu aku membayar mahal citra."


"Lepas Dev...ku mohon"


"Ku peluk aja kamu nggak mau, tapi sama Rangga APA ???" Devan menarik sedikit rambut kepala sania.


"Devv....hmmmmmpt" Devan memagut bibir Sania, membelitnya dalam, menuntut Sania untuk membalasnya tapi pergerakan kepala sania membuat Devan tak bisa menikmatinya.


Brrruuuakkkk......


DOOOR...


Devan terperanjat bangun dari atas tubuh Sania.


Pintu di dobrak.


"BRENGSEK " Umpat Rangga .


BUUGG


"Awww.... Sakit sialan" maki Devan, tubuhnya di dorong oleh Rangga membentur meja sofa lalu kelantai.

__ADS_1


Rangga membantu Sania bangun ,lalu membuka ikatan tangan dibelakangnya.


Memeluk dan mendekapnya erat.


"Mau apa kalian ? Mengganggu kesenanganku" ucap Devan.


Rangga menatap tajam ke arah Devan. Ingin sekali menghajar lelaki itu, melihat keadaan Sania yang begitu kacau sudah pasti Devan melakukan percobaan pemerkosaan.


Menyakiti Devan secara fisik hanya akan melukai hati tantenya nanti. Sania terisak dalam pelukan Rangga tak mampu berkata apapun.


"Ren bawa dia pulang !" Perintah Rangga pada Reno yang berdiri di ambang pintu dengan senapan angin di tangannya.


"Van ayok !" Panggil Reno.


"Tembak aja aku dari pada harus mengalah !!" Ucap Devan.


"Aauww..." Devan melotot, kepalanya dipukul gagang senapan itu oleh Reno.


"AYOOOK !!! Mau cacat disini ???" Bentak Reno.


Devan berdiri menahan sakit di kakinya. Rangga memeluk dan mencium puncak kepala Sania seakan mengejek devan, bahwa gadis itu miliknya.


"Ciih murahan" umpat Devan.


Siaaal .kemana security sialan itu. Batin Devan


Reno memapah sepupunya, keluar dari rumah Sania. Lalu membawanya pulang dengan mobil yang dipakai Devan tadi.


Rangga menggendong tubuh lemah Sania ke klinik terdekat untuk memeriksakan keadaannya.


Tak ada satupun kata atau rintihan yang terucap dari bibir Sania. Dirinya masih syok dengan perlakuan Devan terhadapnya.


Kembali kerumah Sania tak mungkin. Rangga harus dapat izin menginap oleh rukun tetangga setempat terlebih dahulu, itu akan memakan waktu.


Akhirnya Rangga memutuskan membawa Sania menginap di apartemen milik Reno. Tanpa penolakan dari gadis itu.


Rangga meyuapi Sania makan dan memberinya teh hangat.


"Maaf aku terlambat, mobilku tadi mogok dijalan"


Pandangan Sania kosong kearah depan. Tak apa mungkin Sania masih trauma dengan kejadian tadi.


Setelah menghabiskan makannya Sania terbaring di ranjang empuk itu.


" Aku takut" lirihnya.


"Ada aku disini, aku akan menjagamu, tidurlah !" Ucap Rangga seraya menaikkan selimut Sania.


Mata indah itu mulai terpejam, Rangga memperhatikan dan harus terjaga untuk malam ini. Ia matikan lampu utama hanya menyisakan lampu tidur yang temaram. Berharap Sania terlelap karna sudah minum obat.


Sudah larut malam Rangga masih terjaga dari kantuknya. Ia sudah menduga hal apapun akan Devan lakukan demi mencapai tujuannya.


"Ini nggak bisa ditunda lagi" ucap Rangga sibuk dengan ponselnya. Dia menghubungi beberapa orang kepercayaannya untuk melaksanakan sesuatu yang ia mau.


"Jangaaan...jangan.. ku mohon jangan....."

__ADS_1


"San sayang... bangun bangun" Rangga cepat mematikan panggilannya ketika mendengar Sania mengigau.


"Ada aku disini ...tenanglah !" Ucap Rangga lalu menghidupkan lampu yang sempat ia matikan di kamar itu.


__ADS_2