Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
23. Cemas


__ADS_3

"Aw toloong tolong.. panas mas panaaaas hiks hiks"


Rangga berlari menggendong tubuh Sania menuju Unit Gawat Darurat.


Sania merintih sakit kepanasan, kulit tubuhnya serasa melepuh setelah tersiram kuah bakso.


Bukan hanya tangan dan bahunya, tapi kuah panas itu berhasil mengalir di buah dada Sania sehingga Sania merintih kesakitan.


"Tahan san ..tahan !" Perintah Rangga melihat Sania meringis kesakitan dalam gendongannya.


Setibanya di ruangan itu, perawat segera memberikan pertolongan pertama pada Sania.


Ketika perawat sedang akan membuka baju yang Sania pakai, Rangga tak kunjung keluar.


Sania yang melihat Rangga terus memperhatikan dirinya yang menahan rasa sakit, Segera Sania meminta Rangga menunggu di luar.


"Mas.. tolong keluarlah, aku malu !!" Ucapnya pada Rangga.


Rangga mengangguk lalu menuju pintu hendak keluar.


"Atetttetett.. pelan pelan sus, sakit "


Rangga yang sudah akan melangkah keluar, mendengar Sania mengeluhkan sakit, dia berbalik badan lagi.


Bahunya merah batin Rangga.


"Aaaw " baju yang sudah dilepas setengah oleh perawat itu ditarik lagi oleh Sania karna tiba tiba dia lihat Rangga memandangnya lagi.


Rangga berlari kearah Sania, "Pelan pelan sus, sini biar aku yang bantu"


Seakan tak rela meninggalkan Sania yang merintih kesakitan mungkin akibat perawat itu terlalu kasar melepas baju Sania, Pikir Rangga.


"Ja jangan ..biar suster ini saja yang membantuku, kamu di luar ya" Sania malu jika Rangga melihatnya tak berbaju.


"Aku bisa kok ngobatin lukanya" yakinkan Rangga pada Sania, dalam pikiran Rangga tidak ada pikiran kotor atau niat untuk melecehkan Sania. Semua itu murni kepanikan dia yang tak ingin melihat Sania terus kesakitan.

__ADS_1


"Jangan ya jangan" pekik Sania.


"Sudah ya.. tuan Rangga silahkan keluar dulu, saya akan merawatnya dengan hati- hati" Akhirnya Suster melerai perdebatan itu.


Rangga belum juga keluar.


"TUAN.. kasian non Sania kalo sambelnya nggak cepat di lap" pekik sang perawat sedikit meninggi.


"Baiklah din tolong jangan menyakitinya !" Perintah Rangga. Lalu pergi meninggalkan Sania dengan terpaksa, dia sebenarnya ingin merawat dan mengobati luka Sania sendiri. Tapi Sania pun juga tak ingin Rangga melihat luka panas dibahu dan dadanya itu.


Dina adalah perawat yang waktu itu juga merawat Sania saat kecelakaan.


Dia pasti melakukan yang terbaik untuk Sania yakinkan Rangga pada dirinya sendiri.


Sebagai mahasiswa kedokteran baru kali ini dia merasa tidak berguna sama sekali.


Di luar ruangan Rangga gelisah menunggui Sania yang sedang di obati oleh Dina.


Sesekali dia mengintip melalui kaca yang ada di pintu, tak nampak apapun tapi diulangi lagi dan lagi.


"Aaaw sus pelan pelan !!" Pekik Sania.


"Iya ..sedikit lagi ya "Dina dengan telaten mengompres kulit putih yang sekarang kemerahan bekas tersiram kuah bakso itu.


Sementara itu di ruang rawat Devan.


"Aku nggak terima mas, perempuan tadi harus bertanggung jawab atas nyawa Devan !" Umpat Bu Sandra dengan tatapan penuh amarah.


"Sudahlah.. tenangkan dirimu dulu !" Pak Wijaya mengelus pelan bahu wanita paruh baya itu.


"Kita harus fokus pada kesembuhan devan dulu, tunggu dia sampai siuman" lanjutnya penuh wibawa. Bagaimana pun Sania bukan tersangka atas kecelakaan yang terjadi pada Devan.


"Tapi perempuan itu harus tanggung jawab mas!!"


"Iya ..iya nanti kita bicarakan lagi ya, sekarang aku tinggal keluar sebentar" pamit pak Wijaya.

__ADS_1


Melihat Bu Sandra mengangguk dan tak menjawab lagi lantas ayah Rangga itu pun berlalu pergi.


.........


"Astaga lama sekali.. apa luka bakarnya terlalu parah" gumam Rangga yang masih berdiri di depan pintu.


"Apa bahu mulusnya mengelupas?" Membayangkannya saja Rangga bergidik ngeri.


Belum selesai Rangga membayangkan hal itu ,pak Wijaya menepuk bahunya.


"Apa yang mengelupas ?"


"Aa..yah" Rangga terkejut oleh kedatangan ayahnya yang tiba-tiba.


"Apa yang mengelupas ?" Ulangnya lagi melihat putranya hanya terpaku menatapnya.


"ii tu.. di dalam sana Sania"


"Ooh gadis itu.. kau terlalu berlebihan, di kasih obat oles ini pasti nanti cepat mengering lukanya" ucap pak Wijaya seraya menyerahkan salep luka pada Rangga.


"Baik yah terima kasih" ucap Rangga lalu ingin segera masuk agar cepat diberikan pada Sania, tapi tiba- tiba Reno datang dengan membawa sebuah paper bag.


"Kak ini pesanannya! Dijamin pas kata yang jual"


.


.


.


.


.


jangan lupa tinggalkan jejak ya 🙏🙏 komen dan like !

__ADS_1


__ADS_2