
Tidak lama Reno pun keluar dari dalam toilet.
Sania menggeliat diatas ranjangnya akibat usapan Devan pada lengannya tadi.
"Kak" sapa Reno.
Sementara Devan diam, seolah tidak terjadi sesuatu. Dia malah merapikan bunga yang dia bawa juga menyiapkan sarapan untuk Sania.
Sania membuka matanya, lalu kemudian terkesiap dengan kehadiran Devan disebelah kanannya.
"Pagi sunshine" ucapnya. Hanya sebuah panggilan, tidak berarti apapun untuk didengar Reno.
Sania hanya tersenyum, namun senyuman itu sudah lebih dari cukup untuk membuat getaran hati Devan berbunga.
Dia senang sekali kehadirannya yang tidak ditolak oleh gadis ini.
"Ren, kamu nggak tidur ya semalaman ? Matamu merah" ucap Sania, melihat lesu wajah Reno dengan kantung mata pandanya.
"Iya kak" jawabnya, sambil duduk lagi di sofa lalu mematikan laptop yang semalaman menemaninya begadang.
..........
Sementara di kediaman pak Wijaya, pak Hendra dan Bu Riska sudah bersiap akan menunggui Sania di rumah sakit. Bertukar shift dengan Reno yang sudah menjaga dan menemani putri mereka semalaman.
Mereka bersyukur banyak yang menerima dan menyayangi Sania dimanapun berada.
"Bu" seru Neneng saat melihat kedua orang tua Sania sudah akan masuk kedalam mobil milik Rangga.
Keduanya menoleh "Kenapa neng?". Tanya Bu Riska.
__ADS_1
"Itu... Anu.. den Adam bilang, katanya yang nabrak sudah ditangkap. Sekarang den Adam mau ajak Mbak Santi buat jadi saksi di kantor polisi". Kata Neneng seraya mendekat pada keduanya.
Ibu Sania menoleh pada suaminya. "Pak... udah ketangkep".
"Ya udah, kita ikut kesana dulu. Setelah itu baru ke rumah sakit.". kata pak Hendra.
Pada akhirnya Adam pergi bersama kedua orang tua Sania juga Santi sebagai saksi ke kantor polisi, dia urung pergi kantor untuk bekerja karena bos nya pun dia yakin tidak berangkat hari ini. Adam paham, semalam gagal sudah pasti hari ini Devan pergi sendiri menghindari Adam mengikutinya.
..........
Kruuuuukkk.....
Perut Sania bunyi, malu-malu dia menahan tapi tetap saja terdengar ditengah suasana yang sunyi senyap tanpa obrolan.
Disaat Sania malu dengan suara perutnya yang tidak sopan itu, Devan dengan sigap mengambilkan sarapan yang ia bawa tadi.
"Lapar ya ?" tanyanya.
Mau diterima dengan tangan kiri tidak sopan, tapi saat ini tangan kanannya mati rasa untuk digerakkan.
Gadis itu terdiam sebelum akhirnya Reno melihat, lalu bangkit secara cepat dari duduknya.
Menyambar piring yang belum diterima oleh tangan Sania.
"Sini kak, Reno yang suapin !". Reno lalu menarik kursi duduk sebelah kiri ranjang Sania. Tanpa sungkan dia akan mulai menyuapi kakak iparnya ini. Dari pada harus Devan, lebih baik dirinya saja yang melakukannya. Toh kalau orang lain melihat, statusnya adalah adik ipar. Bukan mantan kekasih.
Sebenarnya ragu, tak enak hati dengan keadaan ini. Tapi Reno adik yang tulus merawatnya.
Baru Sania akan membuka mulutnya, ponsel Reno berdering.
__ADS_1
Membuat anak itu seketika meletakkan sendoknya lagi.
"Bentar kak".
Reno beranjak menjauh menerima panggilan itu. Rupanya telpon dari ibu yang mengabarkan mereka saat ini dalam perjalanan menuju kantor polisi. Ibu bilang neneng lah yang akan menggantikannya nanti, dan saat ini sudah berangkat ke rumah sakit.
Baik Devan maupun Sania, hanya diam menyimak setiap kata yang di ucapkan Reno pada ponselnya.
Selesai berbincang, Reno mematikan sambungan panggilan ponselnya. Lalu meletakkan benda itu di atas meja.
Segera Reno duduk kembali, mengambil posisi akan menyuapi Sania.
"Neneng mau kesini ya ?" Pada akhirnya Sania bertanya.
"Iya kak"
"Tunggu Neneng aja deh makannya"
"Emang masih bisa nahan laparnya ?" Tanya Reno memastikan, dia rasa saat ini pun perutnya sendiri sedang bermasalah.
Sania mengangguk "iya... Taruh di meja dulu aja".
Tak bisa menahan perutnya yang mules, Reno mengiyakan saja permintaan kakak iparnya. "Ya udah deh... aku mau ke toilet lagi nih". Sambil berlari masuk kesana.
Devan mengambil piring yang diletakkan Reno barusan.
Lalu duduk lagi di kursinya, "Boleh nggak aku aja yang nyuapin ?".
Sania mengernyit, "Jangan Dev" gelengan kepala Sania menunjukkan dia menolak itu. "Sebentar lagi Neneng pasti datang--".
__ADS_1
ceklek..
Belum selesai Sania bicara, keduanya menoleh bersamaan ke arah pintu kamar yang saat ini terbuka.