
Berbanding terbalik dengan keadaan di rumah milik pak Wijaya yang penuh dengan canda tawa keluarga Sania, Rangga yang saat ini bagaikan tawanan di rumah megah milik keluarga Leon di Jerman sedang mempertaruhkan nyawanya dengan sang pemilik istana itu.
Rupanya Rangga berusaha kabur setelah Leona berhasil dibujuk oleh kakaknya untuk kembali ke kamarnya. Gadis itu menuruti dan terpaksa meninggalkan Rangga seorang diri di kamar itu.
Tidak ada yang menjaga Rangga sebab obat pereda nyeri yang diberikan oleh dokter kepercayaan Leon memiliki efek samping yang menyebabkan pasien mengalami kantuk yang cukup lama. Entah sengaja atau tidak, Leon menginginkan Rangga untuk tidur lebih lama lagi selagi dia mengurusi masalah kegiatan yang sedang berlangsung di lab.
Waktu tinggal 7 hari, dia tidak akan membiarkan Rangga pulang begitu saja dengan kelompoknya.
Apalagi dia juga sedang menjadikan seorang gadis dari kelompok Rangga sebagai tawanannya untuk perantara negosiasi antara dia dan Rangga nanti.
Bisa saja Leon tidak perlu menyusun strategi apalagi harus mempersiapkan ini itu untuk memaksa Rangga tetap tinggal bersama mereka. Tapi mengingat Leona membutuhkan sosok Rangga dalam hidupnya Leon mengurungkan niatnya untuk mencelakai Rangga. Walau ia tak bisa menahan amarah dendamnya.
Dug
Leon menendang kursi yang diduduki oleh temannya itu, Rangga tak bisa berkutik sebab ia terikat pada kursi yang ditendang oleh teman masa kecilnya ini.
__ADS_1
"Apa aku harus menyuruh Steve untuk menyuntikkan bius mematikan padamu haa? Beraninya kau kabur tuan addyson". Kakak beradik itu lebih mengenal nama kecil Rangga dengan sebutan nama tengahnya.
"Biarkan aku pulang"
"Sejujurnya aku muak untuk mengatakan yang sesungguhnya, karena terkesan aku mengiba padamu. Tapi asal kau tau, Leona sakit selama bertahun-tahun dan kau juga tau dia bercita-cita sama sepertimu. Menjadi dokter hebat dan bersanding denganmu".
Mendengar penuturan Leon ,Rangga mengernyitkan keningnya "sakit ? Sejak kapan? Sakit apa?".
Gurat khawatir tidak bisa ditutupi oleh Rangga, bagaimanapun Leona gadis kecil kesayangannya.
Semakin tidak mengerti Rangga mendengarnya, akhirnya setelah panjang lebar Leon menjelaskan Rangga menganggukkan kepalanya mengerti.
Ternyata tak perlu sibuk menyandera seorang gadis sebagai alat ancaman, Rangga masih memiliki hati pada Leona buktinya dia mau bernegosiasi dengan kepala dingin. Tanpa harus bersitegang dan mengancam. Pikir Leon.
Ada rasa tak suka dan takut Rangga menuruti kemauan Leon, pria berjas putih, berdarah amerika ini segera menyela pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Maaf tuan Leon, mungkin saat ini nona sedang mencari anda".
Leon mengangguk, bergegas pergi tanpa berniat melepas ikatan Rangga pada kursinya, takut kalau tadi Rangga hanya memanipulasi obrolan mereka dan Leon mempercayainya, tidak semudah itu menurutnya. Dia tak mau tertipu oleh Rangga.
Beberapa jam yang lalu, mendengar kabar dari pelayannya bahwa Rangga berhasil kabur membuat Leona syok dan jatuh pingsan. Dia menyesalkan menuruti kakaknya untuk kembali ke kamarnya padahal sudah benar aksinya, dia harus menjaga Rangga 24jam disamping lelaki itu sampai dia setuju menikahi Leona.
Pria bule berjas putih mendekati Rangga setelah ia menyuruh beberapa asistennya pergi meninggalkan mereka disana. Hanya ada dua pengawal jaga seperti biasa, berdiri didepan kamar yang ditempati oleh Rangga.
"Tuan, sejujurnya aku iba padamu. Jika kau ingin pergi aku bisa membantumu keluar dari sini" bisiknya mendekati Rangga. Tanpa ingin didengar oleh dua orang diluar sana.
"Benarkah?"
Pria itu mengangguk. Lebih baik kau pergi dari pada mengganggu permainanku.
Rangga tampak menimbang ucapan dokter yang berniat menolongnya itu. Entah bisa dipercaya atau tidak bagaimanapun lelaki ini adalah orang kepercayaan Leon, sekaligus dokter yang merawat Leona sejak dulu.
__ADS_1