
Tengah malam Devan terbangun sekujur tubuhnya menggigil walau sudah memeluk Dina.
Gadis itu pun ikut terbangun merasakan Devan yang gelisah mengganggu tidurnya.
"Dev... Kenapa Dev? Devan Bagun Dev, astaga dia kedinginan, kemana sih remot oh remot"
Dipeluknya tubuh Devan, didudukan bersandar dengan susah payah dengan bantal yang disusun belakang punggungnya.
Plak .remote terjatuh ke lantai.
"Nah itu dia " Dina lalu mengambilnya dan mematikan AC.
Diusapnya tubuh Devan , tidak Devan tidak mengigau hanya saja tubuhnya bergetar seperti hipotermia.
"Van bangunlah dulu, jangan buat aku takut"
"Dingin" lirihnya. Giginya gemeratak tangannya mengusap usap tubuhnya sendiri.
"Nih pakai bajumu !" Dina menyerahkan baju Devan yang dilempar tadi. Seketika tubuh Devan ambruk seakan tak sadarkan diri.
"DEVAN jangan bercanda ! Nggak lucu Dev" Dina panik.
Apa iya harus skin to skin sama orang ini. Dina melirik sebal. Dalam keadaan kedinginan penderita harus diberi pertolongan yakni salah satunya metode skin to skin tanpa pakaian jadi kulit langsung bersentuhan.
Selagi Devan pingsan ia lakukan saja toh lelaki ini tidak melihatnya.
"Ah telpon pihak hotel saja suruh panggilkan dokter" Dina mengulang panggilan beberapa kali namun tidak tersambung. Terpaksa ia buka bajunya demi menolong Devan.
Sebenernya dia sendiri merasa risih dan malu. Sudah seperti wanita murahan saja yang memberikan tubuhnya gratis pada Devan. Semoga saja Devan tersadar saat ia sudah memakai pakaian.
Dina memeluk tubuh Devan, memberikan kehangatan padanya. Perlahan Devan mulai membuka matanya. Menyadari pria itu mulai bangun, Dina secepat mungkin mengenakan pakaiannya kembali. "Ya ampun bajuku malah di duduki" dia baru memakai tanktopnya belum luarannya.
"Ayo pakai dulu bajunya, aku akan buatkan minuman hangat" Dina lalu beranjak, tiba- tiba tangannya dicekal oleh devan.
"Ahhh...."
__ADS_1
Didekap erat, semakin Dina coba bergerak pelukan itu semakin erat enggan dilepaskan.
"Jangan pergi ! Temani aku" lirih Devan mengiba.
"Aku disini menemanimu, aku akan ambil minum sebentar untukmu"
"Aku haus"
"Iya aku ambilkan , lepas dulu" kata Dina.
Tangan Devan bukan melepaskan tetapi malah bergerilya kemana mana. Memeluk dan menciumi leher Dina, meraba punggung wanita itu secara perlahan.
Desiran aneh Dina rasakan, pelukan itu serasa sentuhan lembut yang membuat Dina melenguh ingin lebih.
Tangan Devan semakin liar agresif, perlahan melewati tanktop yang Dina kenakan lalu jemari nakalnya bermain menyentuh kulit punggung Dina.
Hidungnya masih meresapi aroma ditengkuknya. Entah lupa atau terbuai suasana, Dina membalas sentuhan Devan. Memeluk dan meraba punggung Devan.
Baju dalaman tipis tak berlengan itu pun kini Devan lepaskan tanpa ada pemberontakan.
Rabaan Devan berpindah kedepan, kedua tangannya meremasi dua bagian kembarnya.
Keduanya lupa diri, hanyut dalam hasrat yang menuntut lebih. Mata Devan terpejam menikmati hal yang sudah biasa dia lakukan pada wanita- wanita lainnya itu.
Dipeluknya lagi tubuh Dina menuntunnya berbaring. Kini mereka dalam posisi miring. Devan mengusel ke dada Dina membuat wanita itu menggelinjang, meremasinya lalu mengecupnya.
Mendengar Dina mendesah Devan makin menyesap bagaikan bayi yang kehausan, permainan Devan sungguh lembut. Dina gelisah mendesah tak karuan, kecupaan Devan makin turun keperutnya sedang tangan nakalnya masih bermain di kembar bulat kencang miliknya.
Dina dibuat terlentang dengan Devan sudah mengungkungnya di atas. Tangan Devan turun memegang pinggang ramping Dina, mengecupi perut bagian bawah pusar membuat Dina kegelian.
Bibir Devan berpindah ******* bibir ranum Dina , Dina membalasnya, pagutan mereka beradu dengan lidah saling membelit. Tangan kanan menahan tengkuk Dina memperdalam ciuman, sedang tangan kirinya meraba kebawah sana. Dina menggelinjang, sungguh sentuhan yang membuatnya seakan terbang melayang. Devan lupa diri tak bisa menahan gejolak yang memaksa lebih dari sekedar foreplay, ia kemudian melepaskan celana miliknya tanpa melepas pagutan bibir Dina.
Sudah tak sabar rasanya, mungkin ini akan jadi pelepasan pertama untuk keduanya, karena Devan pun belum pernah seberani ini untuk sampai pada titik vitalnya.
Devan mencumbu turun keleher, turun di dada mengecup kuat memberi tanda merah pada salah satu aset kembarnya. Turun lagi pada perutnya menciumi mengusel disana, tangannya sudah bersiap akan melepaskan celana Dina.
__ADS_1
"Sunshine...."
Dina seketika tersadar mendengar Devan yang sedang menciumi dibawah sana menyebut panggilan seseorang.
Dia tau panggilan sayang untuk siapa itu, ditengah dirinya yang sedang menikmati sentuhan Devan , Dina menahan Devan untuk tidak melepaskan pakaian bawahnya itu.
"Kenapa baby ? Nanggung aku sudah tidak tahan" ucap Devan mengiba.
Dina menggeleng, ia sadar hanya pelampiasan Devan terhadap Sania. Ia kira Devan memang menginginkan dirinya, selembut mungkin dia dibuat terbuai ke awang awang. Nyatanya lelaki ini membayangkan seseorang dalam cumbuannya.
Dina menaikkan kembali celananya yang sudah turun sepaha. Ia lalu bangkit membuat Devan tersingkir dari atas tubuhnya.
Ia mengalihkan pandangannya dari tubuh polos Devan. Tak berminat melihat bahkan dia memang baru tersadar Devan sudah tidak memakai apapun.
Ia turun ranjang, mengambil dan memakai kembali tanktop serta bajunya.
"Ya Tuhan, ampuni dosaku yang hina ini" gumam Dina seraya melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Devan mengacak rambutnya frustasi, hasratnya yang sudah di ubun ubun seketika melemah mendapat penolakan dari gadisnya . "Ah shiiit... Kenapa aku begini" yang ada dalam bayangan Devan, ia sedang mencumbu Sania . Devan kemudian memakai semua pakaiannya kembali, duduk diatas kasurnya merenungkan apa yang telah ia perbuat terhadap Dina. ia memijat pelipisnya, dia sudah sering hanya bercumbu dengan banyak wanita tapi sebelumnya dia tidak pernah lepas kontrol seperti ini.
Sementara Dina didalam kamar mandi nampak terisak menangisi dirinya.
Dia tau siapa Devan dari dulu, sayangnya ibunya begitu ingin menjodohkan dirinya dengan anak itu. Perasaannya sudah terpupuk walau baru beberapa hari bersama pria itu merawat dirinya.
Bahkan pesona Devan sudah mengalahkan kekagumannya terhadap Rangga selama ini. Mungkin benar kata pepatah Jawa mengatakan, Witing tresno jalaran Seko kulino
yang artinya cinta tumbuh karena terbiasa.
Perasaan yang mulai suka pada Devan membuatnya tersakiti. Walau sudah ditinggal pergi nyatanya Devan masih mencintai Sania . Terlebih Devan belum mengutarakan apapun padanya, bisa bisanya dia dengan mudahnya terbujuk hawa nafsu berdua.
Ah memang ya kalau berduaan itu tidak baik, karena yang ketiganya pasti ada setan diantara mereka.
Jangan salahkan setan! manusialah yang akalnya melebihi setan. Walau mencintai tapi Devan mampu menyakiti Sania kala itu. Bahkan tadi Dina sadar sesadar sadarnya ia rela begitu saja dijamah oleh pujaan hatinya tanpa ikatan apapun. Ia merutuki dirinya sendiri, tapi beruntungnya masih punya harga diri tidak sampai hal itu terjadi.
__ADS_1