
Cepat cepat Rangga lepaskan ikatan tali itu. "Maaf maaf aku tidak sengaja ya".
Clara terkesima dengan ucapan Rangga yang begitu perhatian padanya.
Rangga tau Clara memperhatikan dirinya dari tadi, setelah melepas talinya ia turunkan dengan hati-hati kaki gadis itu.
Tiik...
Jentikan jari rangga membuyarkan lamunan Clara, saat dia lihat roti yang ditangan Clara tak kunjung di santap.
"Mmmmhh.. hehe, makasih dok". Ucapnya malu ketauan terpesona.
"Kau kenal aku kan ? Panggil saja namaku !" Rangga tersenyum kemudian mengambil makanan lainnya yang masih ada didalam tas, untuk ia makan sendiri.
"Apa masih jauh dok ? Eh ga, eeeh kak ?". Clara salah tingkah .
Rangga tersenyum masih menikmati kunyahan roti dalam mulutnya. Gadis muda didepannya ini imut sekali menurutnya, tapi dia hanya menganggap seperti adik kecil yang harus dilindungi saat ini.
Rangga selalu setia pada Sania, bahkan saat Leona menawarkan sentuhan padanya ia tak berminat sedikitpun.
Selesai makan Rangga membereskan bungkusan bekas makan mereka. Ia lihat arloji pemberian Steve. Untuk keluar dari daerah ini, setidaknya masih satu kilometer lagi. Namun ada beberapa jalan cabang didepan sana, Steve berpesan agar ia selalu jalan ke arah barat untuk mencari kitab suci, eh salah.. Untuk mencari jalan menuju stasiun maksudnya.
Bulu kuduk Clara meremang, jauh didepan sana sudah terlihat seperti perkotaan dengan lampu banyak yang menyorot terang.
Namun posisi mereka saat ini seperti masih ditengah perkebunan.
"Kenapa ?" Tanya Rangga, pria ini peka sekali terhadap rekan seperjuangan kaburnya, yang sepertinya duduk gelisah saat menyadari sekeliling mereka hanya ada pepohonan.
Clara tersentak, beberapa detik kemudian dia memutuskan untuk merubah panggilannya pada Rangga. "Kak.."
Alis Rangga terangkat "Hhm, ada apa ? Jangan takut, sebentar lagi kita sampai".
Kalau saja gadis didepannya ini Sania, sudah pasti ia dekap dengan erat Clara.
Tingkah Clara selalu mengingatkan ia pada Sania, yang takut gelap. Sungguh ia merindukan istrinya.
Di tengah lamunan Rangga juga Clara dengan kegundahan hati dan pikiran masing masing, dari kejauhan datang sorot lampu mobil menyilaukan mata mereka.
Dari arah lampu yang tidak sejurus dengan jalan dan bergerak ke kanan kiri, sudah dipastikan sang pengemudi dalam keadaan tidak baik baik saja.
Secepat kilat Rangga turun dari delmannya yang ia parkir dipinggir jalan. Mobil sedan semakin dekat, namun jalannya melambat dan mengarah ke tempat mereka berada.
Tanpa pikir panjang Rangga menggendong Clara turun dari atas delman.
"Aaaarrhh.." pekik Clara saat tiba-tiba lengan kekar Rangga mengangkatnya, seketika gadis itu memeluk, melingkarkan kedua tangannya pada pundak Rangga.
__ADS_1
Sekitar tiga meter Rangga melangkah dengan menggendong Clara. Lalu....
Brrrruuuuakkkk
Hhhiiiiiiiyyyyaa.... Suara kuda memekik kencang setelah gerobaknya ditabrak mobil.
"Kudaaaaaaa" teriak Clara dalam gendongan rangga, tangannya terulur menggapai kuda padahal jauh dari jangkauan dia.
Badan hewan tangguh itu tersungkur ke aspal namun sedetik kemudian, dia bangkit lalu berlari menerobos gelapnya malam.
Clara turun dari gendongan rangga, "kak kudanya lepas".
"Huuuuh, biarin lah. Mau dicari kemana gelap begini" ucap Rangga pasrah. "Kamu disini dulu, aku mau lihat dia" imbuhnya seraya menunjuk ke arah mobil.
Tok tok tok....
Rangga mundur selangkah saat pengemudi mobil yang ia hampiri merespon dari dalam hendak keluar.
Samar - samar mereka saling pandang memastikan bahwa mereka mengenal satu sama lain.
"RANGGA ?" Sebut pria itu, Rangga pun mengenalinya.
"Richard".
Mereka kemudian berpelukan rasanya sudah lama sekali mereka tidak jumpa, terakhir saat Rangga masih menjadi security rumah sakit ayahnya yang dijakarta, Richard sesekali menyapa karena dia juga tidak stay disana.
Clara yang heran dengan kelakuan mereka yang nampak kenal satu sama lain, lalu berjalan mendekat.
Mereka melerai pelukannya, saat Clara tiba.
"Hei kawan.. Rupanya kau sedang berkencan disini ?". Belum sempat Rangga menjawab, Richard bertanya lagi. "Tunggu,.. bukankah seharusnya kau di asrama sekarang ? Kenapa bisa keluar?"
Rangga menggeleng, "Panjang ceritanya, sekarang bawa kami pergi dari sini. Lihat ! Kudaku lepas karna kau tabrak". Keluhnya.
"Hahaaha..maaf aku ngantuk.. Ayo ayo masuk lah!. Nanti kita cerita panjang lebar di apartemenku".
Setelah Richard mempersilahkan keduanya, Rangga dan Clara pun masuk ke dalam mobil Richard tanpa sungkan.
"Ah aku aja yang nyetir, matamu meragukan" kata Rangga lalu membuka pintunya lagi,keluar dan berpindah duduk di jok kemudi lalu Richard disampingnya, sedangkan Clara duduk di bangku belakang.
Tak ada sedikitpun rasa takut Clara bersama kedua pria asing yang baru dikenalnya ini, dia ikut saja sebab tujuan mereka sama,yakni akan pulang ke Indonesia.
....
Ciiiiitt...
__ADS_1
Dug
"Aaargh...."memegangi kepalanya lalu mengumpat, "Heeeeh bodoh... Ada apa?" Tanya Leon dari bangku penumpang di belakang sopir.
"Maaf tuan, ada seekor kuda liar yang tiba-tiba nyebrang".
"Kau menabraknya ?"
"Tidak tuan".
"Ya sudah ,cepat jalan lagi ! Ada yang nggak beres di mansion ku".
Sang sopir pun menuruti perintah tuannya, jalan yang mereka lalui ini adalah jalan tembusan dari pusat kota menuju hunian mewah milik Leon. Memang sedikit gelap, dan letaknya diantara hektaran perkebunan milik Leon, sebab keluarga mereka memang senang tinggal, jauh dari hiruk pikuk pusat kota di negara bagian ini.
Beberapa waktu lalu, di mansion...
Leona spontan berlari, mencari tombol yang ada didekat saklar lampu, samping pintu kamar itu.
Ditekannya tombol itu dengan emosi beberapa kali, suara alarm pun seketika menggema di seluruh penjuru rumahnya.
"Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku my addyson". Ucap Leona, namun sedetik kemudian dia tak sadarkan diri lalu jatuh kedalam pelukan Steve.
Steve dengan cepat menekan kembali tombol alarm yang sudah sempat berbunyi agar segera diam.
Ia yang masih berada dalam kamar Rangga, lalu mendapati Leona mencari- cari pria itu dengan sengaja Steve membekap Leona dari belakang.
Biarkan Rangga pergi dari sini tanpa harus kembali lagi, biarlah Leona dia yang mengurusi.
Mona masuk ke dalam mansion dengan tergesa-gesa. Panik yang ia rasa, setelah tadi mengejar Clara lalu hilang, sekarang ada bunyi alarm yang membuat panik semua orang lalu seketika diam.
Masuk melalui pintu depan, yang ia tuju pertama kamar Rangga. Dia ingat, sebelum dia bertemu gadis kecil yang membuatnya cemburu pada Leon. Leona keluar dari kamar ingin menjenguk Rangga katanya.
"Leon... Leona....." Seru Mona ditengah kekhawatirannya.
Beberapa perawat datang bersamaan dengan sampainya Mona di depan pintu kamar yang sebelumnya ditempati Rangga.
"Ada apa sus ? kenapa ini ?"
Tidak ada yang menjawab, mereka segera masuk ke kamar itu lalu disusul Mona yang bingung.
"Astaga Leona..." Pekiknya.
Darah segar keluar dari hidungnya, sedang tubuhnya terbaring lemah tak sadarkan diri.
"KENAPA INI STEVE ?" Berang Mona kalap, sudah lama Leona tidak mimisan. Melihat itu lagi membuatnya ketakutan, sebab Leon akan menyalahkan dirinya jika sampai terjadi sesuatu pada adik kesayangannya ini.
__ADS_1
"Tenanglah... Semua akan baik-baik saja".ucap Steve menenangkan.