Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
SAH


__ADS_3

SAH


sah


Sah...


Dengan satu tarikan nafas Rangga lancar mengucapkan ijab kabul . Ia kira tadi hanya latihan, ternyata sungguhan.


Di ruang rawat sang ayah Sania mengharu melihat pada layar itu, akhirnya dia menikah dengan lancar. Memang belum sepenuhnya mencintai Rangga yang belum lama dikenal, namun ia akan mengabdikan dirinya seumur hidup bersama suaminya. Pria yang selalu membuatnya nyaman. Sania memeluk ayahnya, juga sang ibu. Pernikahan sederhana karena dadakan tapi kebahagiaan luar biasa dirasakan. Si kecil Sera yang juga cantik bersama pengasuhnya ikut bahagia menyaksikan ini.


"Selamat kak" ucap Reno, walaupun ini yang kedua bagi Rangga namun spesial membuat ia merasa bahagia, menikahi seorang wanita yang ia cintai, bukan karena terpaksa.


"Terima kasih" Rangga memeluk sayang adiknya, tak disangka ternyata Reno datang bersama Doni, Bu Sandra dan dua pengawalnya.


Pak Wijaya pun turut mendekat, memberi ucapan selamat serta mendoakan untuk pernikahan putranya itu. Mereka yang menyaksikan bergiliran menyalami Rangga. Lalu ibu Sania pun datang sudah menggandeng Sania disampingnya berjalan perlahan mendekat pada mereka.


Untuk pertama kalinya Rangga mencium kening Sania meresapinya dalam, dihadapan semua orang dan halal.


"Mulai hari ini dan selamanya menurutlah pada suamimu nak" ucap ibu Sania yang di angguki putri tirinya itu lalu memeluknya.


"Aku akan bertanggung jawab atas hidup istriku , ayah Hendra, ibu, juga sera" sahut Rangga menimpali.


"Tidak nak, Sera punya mama. Dia tanggung jawab mamanya"


"Andai Lina ada disini ya Bu, aku kangen" kata Sania.


"Bulan depan mungkin baru bisa pulang, ibu kesana dulu ya" ucap ibu seraya menunjuk arah pak Wijaya.


Rangga lalu merangkul pinggang Sania, mengusap rambut sanggulnya lalu menciumnya, menjadi pengganti yang istrinya rindukan .


Semua tamu undangan menikmati jamuan yang telah disediakan.Semuanya kini nampak seperti berpasangan.


Reno dan Doni menikmati camilan di ujung meja, ibu Sania sedang bersama pak Wijaya, dua orang perias memilih menu di meja prasmanan, tak ketinggalan Adam dan Dina juga nampak menikmati suasana ini dengan obrolan mereka .


Tiba- tiba dua orang pengawal Bu Sandra berlari masuk mengikuti seorang pria yang nampak terburu buru.


Siapa lagi kalau bukan Devan. Berdiri mematung menyaksikan keramaian orang yang tengah asik berbincang dan menikmati sajian.


Bu Sandra menghampiri "sudah cukup sayang, ikhlaskan !"


Pandangan semua orang teralihkan, Devan menjadi pusat perhatian.


Wajah berbinar Sania seketika berubah, posisinya beralih di belakang Rangga. Tetap memeluk lengan suaminya.


"Belum aku sadari,


waktuku denganmu telah usai


Waktu yang dulu kita miliki


Waktu yang dulu tak ada arti


Aku sibuk dengan duniaku


Aku malu memperkenalkan dirimu sebagai kekasihku

__ADS_1


Aku sukar menemui


Aku hanya senang dihampiri


Hingga akhirnya kau tau


Apa yang aku lakukan dibelakangmu


Menyesal ? Entahlah.


Aku masih punya mereka yang mau denganku


Hanya saja aku tak suka kau dengan saudaraku


Saudara sepupu yang selalu lebih unggul dariku


Apa aku harus mengaku kalah ?


Apa tidak bisa sekali saja, dia yang melihatku bahagia


Rasanya ingin aku hancurkan semua ini."


"Van.. kita pulang saja !" ajak Bu Sandra


"Biarkan aku disini mah.."


Tatapan Devan menjurus pada sepasang pengantin, yang mempelai wanitanya bersembunyi di sebalik badan sang suami.


Sesuai kode mata dari Bu Sandra, dua pengawal menghampiri Devan hendak menariknya keluar.


Tangan kanan Devan terangkat "Sebentar ! " Mereka berhenti tak jadi menahan.


Langkah Devan terhenti tepat di depan Rangga "Sunshine..." sapanya.


Keduanya tidak ada yang menyahuti, semua orang bertanya-tanya apa yang sedang terjadi mengapa suasananya begitu menegangkan.


Devan beralih menatap Rangga "jika kau sudah bosan, aku siap menerimanya" ucapnya setelah itu berlalu melewati mereka.


"Ayo pulang ! pergimu terlalu lama"


Devan menarik tangan Dina yang sedang bersama Adam.


"Dev tunggu !" Panggil Adam.


Devan berbalik lagi, berbisik "Urusan kita belum selesai ! Penghianat "


Adam tersentak, mungkin Devan tidak terima dirinya membantu persiapan pernikahan Rangga atau mungkin Devan cemburu dirinya bersama Dina karena Devan langsung menarik Dina pergi darinya.


"Pulanglah duluan mah... Aku ingin berlibur dengan Dina" ucap Devan melirik Dina .


"Baiklah mama duluan, ingat Dev. Jangan buat masalah. Jaga Dina baik- baik" Bu Sandra menepuk pundak putranya lalu pergi bersama Doni dan dua pengawalnya .


Sementara itu, Sania akhirnya bernafas lega, ia kira akan ada adegan tarik menarik dirinya antara mantan dengan suaminya. Ternyata mantannya itu lebih memilih menarik gadis yang masih single.


Acara sudah selesai, keduanya juga sudah menjenguk ayah Sania walau terbatas waktu kunjungan. Saatnya mereka kembali ke hotel untuk mengistirahatkan diri.

__ADS_1


Taxi yang mereka tumpangi membelah jalan raya yang nampaknya cukup padat sore ini. "Sayang nanti kita pindah kamar ya "


"Kenapa mas?"


"Kasurnya terlalu kecil "


"Kan ada dua " jawab Sania, mengingat mereka semalam tidur di kasur masing masing.


"Sekarang kan kita menempati satu bed bersama" ucap Rangga menaikkan sebelah alisnya menggoda Sania.


"iih.. malu di dengar orang"


Sania tersipu, suaminya ini mesum juga ternyata, membuatnya berdebar saja.


"Lihat itu mas , bagus ya ? Terlihat jelas Merlion nya disana "


Menjelang senja lampu lampu indah mulai menyala di kawasan itu, membuat Sania kagum pasalnya baru pertama kali ini ia melihat pemandangan kota di luar negri.


" Apa kita pindah saja ke hotel Marina bay sands dari sana merlionnya lebih terlihat bagus, kita juga bisa jalan jalan ke jembatan helix bridge"


"Sekarang ?"


"Besok saja ya, sekarang kita istirahat dulu"


"Iya mas, terserah mas Rangga saja"


Seharian ini Sania nampak bahagia, wajahnya berseri membuat siapapun yang memandangnya ikut merasakan betapa bahagianya ia saat ini.


Disisi lain masih di negara yang sama.


Devan merebahkan dirinya di ranjang king size, ia hanya menyewa satu kamar untuk ia tempati bersama Dina.


Gadis itu diam setelah lelah berdebat dengan Devan. Laki- laki ini memang selalu berbuat semaunya. Setelah mereka meninggalkan acara Rangga dan Sania siang tadi, Devan mengajak Dina berbelanja. Entah apa maksudnya, Dina sendiri yang enggan shopping karena menurutnya hanya menghamburkan uang tapi terus saja di paksa membeli apapun yang mereka jumpai.


"Sudah Dev, kita sudah banyak membeli pakaian" ucap Dina melepaskan paper bag nya kasar di trotoar depan ruko.


"Beli lagi ! Beli yang banyak. Kita akan lama disini" mengambil alih barang bawaan Dina lalu kembali menyeret gadis itu untuk masuk ke toko lainnya.


" baju tidur itu bagus " Devan menunjuk lingerie berbahan satin , membuat Dina terperangah.


Bagus kalau di pakai Sania, pengantin baru. batin Dina geram.


"Buat siapa ?" Tanya Dina melihat Devan tetap membayar pilihannya.


"Kamu lah siapa lagi"


Selesai membayar Devan mengajak Dina berpindah toko lagi. "STOP DEV!!!" Lihat kakiku ! Lecet"


Devan mengeluarkan sandal jepit yang sempat ia beli tadi, sebenarnya untuk dirinya karena dari kemarin dia gerah memakai sepatu.


"Eehh apa-apaan ini" Dina tersentak kakinya dipegang Devan. Sepatu hak tinggi yang dipakai Dina diganti dengan sandal jepit oleh Devan.


"Jangan ada alasan lagi, menurutlah ! Kita cari makan"


Anak ini kenapa sih ?dia sakit hati ditinggal nikah, tapi larinya ke belanja. batin Dina.

__ADS_1


Dina terpaksa menuruti semua keinginan Devan seharian ini. Hingga saat tau bahwa Devan hanya memesan satu kamar dengan satu ranjang saja, dia tak terima itu.


Dina diam- diam akan membooking kamar lain, tapi kata resepsionis disana semua sudah full . Devan menyeringai lebar, mengejek Dina. Akhirnya disini lah mereka sekarang. Berdua dalam satu kamar dengan Dina yang diam membisu, kesal dengan Devan.


__ADS_2