Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Berhasil Kabur ?


__ADS_3

"hei tunggu... Mau kemana kalian". Tanya Mona saat dua orang pengawal berjalan beriringan membawa gadis yang membuatnya cemburu pada Leon.


"Kami akan membawanya ke Lab" jawab salah satu pria berbaju hitam hitam itu.


Mona mengernyit, terlintas niat jahat di otaknya untuk sedikit bermain-main dengan gadis mungil ini. Sebagai tanda perkenalan, karena sudah beberapa hari ini menempati kamar miliknya.


"Mmm... Biar pergi denganku saja, aku yang antar". Ucap Mona menawarkan.


Kedua pengawal itu pun mengangguk percaya saja pada Mona, karena memang wanita itu sering bolak balik mendatangi lab untuk bertemu dengan Steve yang kadang bertugas disana.


Setelah para pria itu pergi, Mona lalu membawa gadis itu keluar berkeliling rumah besar "Siapa namamu?".


"Clara".


...........


Sementara di kamar, Steve masih mencoba memprovokasi Rangga. Dia mengatakan Leon hanya akan memanfaatkan dirinya untuk di pekerjakan di laboraturium uji coba perusahaan farmasi milik Leon yang kini tengah berada dipuncak kejayaannya.


"Selama masih bisa pergi dari sini, pergilah sejauh mungkin jangan sampai nasibmu sama seperti aku yang tertahan disini". Ucap Steve dibuat seolah-olah dia terpaksa berada dan bekerja untuk keluarga Leon.


Tali yang mengikat diri Rangga dengan kursi kini telah terlepas. Siapa lagi kalau bukan Steve yang melepasnya, demi melancarkan sandiwaranya agar nampak baik di mata Rangga.


Rangga berjalan mendekati jendela, memandang ke arah luar , ada dua orang gadis yang sedang berjalan-jalan disana. Bukan pelayan, karena semua orang di mansion mewah ini memakai baju seragam sesuai pekerjaannya masing-masing.


Oh astaga, wanita agresif itu ? Rangga mengerutkan keningnya tatkala melihat sosok Mona, wanita yang menggoda dirinya malam lalu.


Tapi siapa gadis Asia yang bersamanya ? Dari cara gadis itu menengok kanan dan kiri menikmati pemandangan membuat Rangga sejenak mengingat istrinya.


"Sania" lirihnya.

__ADS_1


"Tuan ?" Steve mendekat "apa anda merindukan keluarga anda ".


Bukan Rangga tak mau lekas pergi dari tempat yang memenjara dirinya saat ini. Akan tetapi dia lebih waspada, menurutnya seorang steve ,orang kepercayaan yang sudah mengabdi bertahun tahun pada keluarga Leon mau membantu Rangga yang berstatus tawanan bosnya lepas begitu saja. Pasti ada sesuatu yang dia rencanakan, setidaknya Rangga berpikir demikian.


"Tuan kereta senja malam ini jalan pukul delapan jika anda mau, untuk keluar dari lingkungan mansion ini anda bisa menumpang pada kereta kuda pembawa sayuran pukul empat sore ini".


Rangga mengernyit, "Benarkah ?" Saat ini jam menunjukkan pukul tiga sore hari. Itu artinya kereta kuda milik pelayan pembawa sayuran yang di maksud steve akan datang satu jam lagi, dia bisa menumpang untuk bisa keluar dari rumah besar ini. Letak rumah yang sangat jauh dari jalan raya jika ditempuh dengan berjalan kaki, ya walau hanya lima hektar ditengah tengah perkebunan ini. Setidaknya jika naik kereta kuda itu akan lebih cepat dan menghemat tenaga dari pada berjalan kaki.


"Cepatlah tuan sebelum nona Leona kembali menjenguk anda disini".


Ucap Steve menyemangati agar Rangga bergegas pergi.


Suami dari Sania ini tanpa pikir panjang lagi lalu bergegas mengemasi baju ke dalam tas ranselnya. Persetan dengan apapun yang akan terjadi nanti, kali ini dia ada kesempatan lagi untuk kabur dari rumah ini maka harus dia manfaatkan sebaik mungkin.


Rangga akhirnya termakan bujukan Steve untuk melarikan diri. Ia kenakan topi, mantel, dan sepatu ala perkebunan juga tas ransel yang tidak terlalu mencolok agar tak dicurigai, ternyata Steve telah menyiapkan semua perlengkapan itu. Sungguh penolong terniat, menurut Rangga.


Dengan berbekal arloji penunjuk waktu juga arah mata angin dan sedikit bekal makanan dari steve, Rangga mengendap-endap keluar melalui dapur dan pintu belakang, menunggu datangnya kereta kuda yang sebentar lagi tiba dari perkebunan untuk mensuply kebutuhan pangan bagi semua pekerja Leon di mansion tersebut.


Rangga tersenyum, kalau kemarin dia hanya berputar-putar di dalam mansion lalu dicurigai akan kabur dan ditangkap. Kini dia berhasil keluar dari bangunan besar nan megah itu, walau masih dilingkungannya setidaknya ini sudah memberikan sedikit harapan dia akan segera pulang setelah melalui ini semua.


Dilihatnya secara seksama cara kusir itu mengendalikan dan memberhentikan kudanya, Rangga memperhatikannya dengan serius.


Setelah barang terakhir diturunkan oleh si kusir, lekas ia mengendap-endap kesana akan menaiki kereta kuda tersebut.


Bruug..


"Arrgh...mati aku" ucap Rangga dalam hati, seketika jantungnya berdebar kencang sudah pasti dia akan tertangkap lagi kalau sudah begini.


"Tu- tuan ...tuan tolong saya tuan, saya mau disekap". Ucap gadis yang menabrak Rangga, saat ini keduanya sama-sama terduduk di tanah, dengan jerami yang sedikit berantakan terbang dari tempatnya.

__ADS_1


Rangga terkejut, ternyata bahkan ada orang lain selain dirinya yang menjadi tawanan di rumah besar ini.


Tanpa pikir panjang, ia tarik tangan gadis itu untuk kabur bersamanya.


Gadis itu tersentak, lalu seketika turut mengimbangi langkah cepat Rangga setelah itu naik ke atas kereta kuda bersama, sebelum pelayan atau bahkan si kusir memergoki mereka, lantas Rangga segera memacu kudanya berlari menjauh dari rumah itu.


Suasana didalam...


"Kak ....kakak" Leona panggil Rangga dengan sebutan kakak, mana tau Rangga akan luluh dengan panggilannya.


Ia buka pintunya, tidak terkunci. Lantas ia pun sedikit curiga, ditambah lagi keberadaan dua pengawal yang biasanya berdiri didepan sana kini entah kemana.


"Kaaaak.." ia buka pintu kamar mandi. Tidak ada.


Nafas Leona memburu, dadanya sudah naik turun. Hilang ! Satu kata itu yang saat ini mendominasi pikirannya. Sudah ia pastikan Rangga kabur lagi.


Ia tepis kecurigaannya, ia masuki ruang ganti tempat dimana lemari pakaian berjajar disana, kosong ?.


Leona lari kearah jendela tempat ia dulu biasa melihat pemandangan jauh diluar sana.


Saat itu juga, seketika bola matanya membulat sempurna, netranya membelalak mendapati apa yang dia lihat melewati arah pandangannya.


Ada seorang pria bersama gadis Asia tawanan kakaknya sedang berkendara dengan kereta kuda di luar sana.


Leona spontan berlari, mencari tombol yang ada didekat saklar lampu, samping pintu kamar itu.


Ditekannya tombol itu dengan emosi beberapa kali, suara alarm pun seketika menggema di seluruh penjuru rumahnya.


Suaranya hampir mirip alarm kebakaran pada umumnya, namun bagi para pengawal dan tim keamanan mansion Leon, bunyi dari alarm itu menandakan telah terjadi sesuatu yang membuat mereka harus segera bertindak menutup semua akses untuk bisa keluar dari lingkungan ini, entah itu penyusup atau tawanan yang melarikan diri, mereka akan segera meringkusnya.

__ADS_1


"Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku my addyson". Lirihnya.


__ADS_2