
Keesokan harinya... Berbekal rasa penuh percaya diri dan semangat, Devan memulai untuk bekerja hari ini dengan diantar oleh supir pribadi Bu Sandra.
Selain memang belum dipercayai untuk kembali mengendarai mobilnya sendiri, Bu Sandra hanya ingin memastikan keadaan aman dan nyaman untuk putranya itu yang sudah mau kembali bekerja.
Lagi pula mobil Devan masih belum dikembalikan oleh Citra . Entah apa motifnya, orang pinjam kok tidak tau diri kalau belum di minta oleh yang punya, selalu tidak dikembalikan. Adakah yang begitu di dunia ini ? Banyak.
Sang mama mengantar putranya menuju mobil "Sayang, semangat ya ! Kalau memang Devan merasa tidak enak badan, cepatlah pulang nak !" Pesan Bu Sandra yang terdengar sangat memanjakan bocah yang masih sekolah dasar, padahal putranya ini sudah sedewasa itu.
"Iya mah, semua pasti baik baik aja" ucap Devan menenangkan sang mama.
Mobil pun berlalu, melaju membelah jalan raya yang padat dengan aktivitas masyarakatnya pagi ini.
Sesampainya di kantor benar dugaan Devan kemarin. Ada saja yang akan menanyakan perihal berita yang menghebohkan, menyangkut nama dirinya dengan seorang wanita yang pernah datang ke kantor itu dan sudah banyak pegawai disana yang kenal dengan sosok wanita itu.
"Hai bro... Apa kabar ? Sapa Doni yang sedang bersama salsa.
"Baik, gimana penjualan ? lancar ?" Tanya Devan.
"Lumayan, tapi lebih banyak saat ada kamu" jawab Doni. Devan tersenyum.
"Dev aku dengar kekasih kamu itu hamil ya ?" Tanya salsa.
__ADS_1
"Kekasih ? Yang mana, eh maksudku siapa ? Aku nggak ada kekasih" jawab Devan gugup.
Doni tergelak menutup mulutnya, takut keceplosan.
"Itu lho.. yang waktu itu kamu bawa ke cafe kan ?" Selidik salsa dia pun masih tak yakin dengan ucapannya.
Devan berkilah "Ah bukan... Itu masa lalu".
Seorang gadis datang menghampiri mereka "Pagi semua... Eh ada Devan" kini Dea yang menyapa.
"Pagi De.." balas mereka serentak.
Dea memegang lengan salsa "Temen kita udah sold out satu".
"SIAPA ?" Pekik salsa, bisa bisanya dia nggak tau sama sekali salah satu temannya sudah ada yang menikah.
"Sstt... Nggak usah kenceng kenceng teriaknya !" Dea berharap hanya mereka berempat yang mendengar.
"Cepet siapa !" Ucap Salsa tak sabar.
"Sania" sebut Dea setengah berbisik namun Devan dan Doni mendengarnya dengan jelas.
__ADS_1
"OH MY GOD SERIUS ?"
Dea mengangguk "Sepupu aku saksinya". Salsa menggeleng tak percaya.
"Dina.. dia datang di pernikahan Sania sama Rangga."
"Rangga ? Aku pernah denger nama itu disebut Sania."
Doni tersenyum samar, dia tau sahabatnya sedang tak nyaman mendengar obrolan para gadis ini. Yang tanpa mereka tau, bahwa Sania adalah mantan Devan.
"Eh iya Don, disalah satu foto yang aku liat. Kamu juga ada disana, apa bener itu kamu Don ?" Dea memicingkan matanya, meminta konfirmasi dari Doni langsung.
Doni tersentak, pertanyaan yang begitu mengejutkan. Kalau sudah begini mengelak pun sulit.
"E..... Anu.. e.." Doni bingung menimbang antara ingin jujur, atau pura pura tak tau.
Disaat kebingungan melanda Doni, ditariknya lengan tangan Doni oleh Devan menjauh dari para gadis.
"sudah sudah... ayo cepat kerja, sudah jam masuk kantor" kilah Devan membawa Doni pergi dari sana.
Suasana mereka berdiri sedari tadi memang semakin nampak ramai seiring jam kerja akan dimulai. Aktivitas lalu lalang orang berjalan melewati pintu masuk. Juga melewati tempat mereka untuk mengobrol tadi.
__ADS_1