Bahagiaku Sederhana

Bahagiaku Sederhana
Makan Malam Romantis


__ADS_3

"Haha... Terus ,kalau memang dia anakku apa mas tidak mau lagi denganku ?"


"Siapa bilang ? Aku tak pernah memandang status sosial. Sekalipun kau janda memang apa salahnya, lagipula aku juga duda kan". Jawab Rangga enteng, karena kenyataannya memang seperti itu.


"Tapi kadang orang tua atau keluarga laki laki sering tidak terima, tidak menyetujui jika putra mereka memilih janda sebagai pasangannya".


"Tidak ada yang salah, mindset mereka saja yang terdoktrin. Selalu MenCap masalalu yang buruk, masa depan juga akan buruk, terlepas dari apa yang telah menimpa si wanita hingga dia menyandang status sebagai janda".


Sania mengangguk tanda setuju dengan penjabaran menurut sudut pandang seorang Rangga.


"I love you " cup . Pipi Sania dikecup lagi.


"Maaaaaasss"


Suster yang melihat kemesraan keduanya jadi tersipu sendiri dibuatnya. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Ya Tuhan.. sisakan satu saja untukku, yang seperti dokter muda ini" batin pengasuh Sera.


"Oh iya mas, katamu waktu itu kamu minta tolong Dina yang menjaga Sera"


Tanya Sania.


"Iya melalui dia. Dia yang mengurus semua keperluan ibu dan mencarikan orang-orang terpercaya untuk membantu ibu"


"Pantas saja.. kata ayah, ibu betah tinggal di rumah sakit"


"Ha ha ha.. ada ada saja, 2 minggu lagi ayah Hendra mungkin sudah bisa pulang sayang"


"Syukurlah... Aku tidak sanggup melihat ayah terbaring terus di sana, tak leluasa menengoknya". Keluh Sania.


"Sudah habiiiissss yeee" teriak Sera.


"Wah anak pintar.. jangan lupa gosok gigi ya nanti " ucap Sania.


Tak terasa hari sudah menjelang sore, Rangga dan Sania mengantar Sera dan pengasuhnya kembali kerumah sakit. Sedangkan mereka akan berpindah ke hotel yang Sania ingini.


Setibanya di Marina bay sands. Resepsionis menyambut dengan ramah. Namun sayang dia mengatakan jika semua kamar sudah penuh.


"Ya sudah mas kita pindah ke yang lain, tidak masalah ke lain tempat. Aku nggak apa apa" kata Sania.


Jangan salah kalau perempuan sudah bilang 'nggak apa-apa' karena sudah pasti dia memendam rasa kecewa.


"Coba tolong cek ulang, mana tau ada yang kosong terlewat " perintah Rangga masih berusaha.


"Memang ada tuan, 1 kamar lagi . Tapi masih dalam tahap di bersihkan. Sebab baru satu jam yang lalu penghuninya check out"


"Baiklah, jam berapa kami bisa masuk ? " Tanya Rangga lagi.


"Pukul 9 malam ini"


"Oke saya ambil" ucap Rangga mantap, tak ingin mengecewakan istrinya.


"Sebagai kompensasi atas ketidaknyamanannya kami akan memberikan jamuan candle light dinner di resto hotel ini".


"Benarkah ?" Rangga dan Sania senang, tak menyangka akan diberi jamuan romantis, seakan pihak hotel tau mereka adalah pasangan pengantin baru.


"Benar tuan, nanti berikan saja kartu ini pada pelayannya. Baiklah.. Selamat menikmati layanan kami tuan dan nyonya". Ucap gadis resepsionis itu dengan salam hormatnya.

__ADS_1


"Terima kasih" ucap keduanya.


"Wah... Pelayanannya bagus ya mas. Dapat kompensasi karena harus menunggu" Sania berjalan sambil menggandeng lengan suaminya.


"Iya sayang. Kan yang dipesan presidential suite mungkin kalau yang biasa beda lagi. Tapi disini memang terkenal bagus"


"Mas, kenapa nggak pesan yang biasa saja. Pasti itu mahal ya ?" Tanya Sania cemas. Jiwa emak emaknya mulai perhitungan.


"Yang penting kita bahagia. Apa kamu mau yang twin bed lagi lalu aku nggak bahagia ?"


Hhhpp .Sania menutup mulutnya menahan tawa.


Suaminya itu mengajaknya pindah kamar karena sebelumnya kasur mereka terpisah dan tidak bisa ditempati berdua.


"Atau mau yang di lantai dasar ? Percuma dong, merlionnya nggak terlihat nanti".lanjut Rangga lagi.


"Iya iya mas" Sania mengusel lengan suaminya, berharap Rangga berhenti menggerutu. Dia tak ingin dianggap istri yang banyak maunya dan tidak penurut.


Koper mereka masih berada di hotel lama, namun mereka tidak akan menyia-nyiakan menikmati jamuan yang pihak hotel baru berikan. Jadilah mereka akan langsung menginap di tempat baru setelah menikmati makan malam mereka ini.


Sunshine .lirih Devan


Pria itu paham benar siapa yang dia lihat di kejauhan sana.


Sania dan sepupunya berada di meja luar restauran, sepertinya akan menikmati candle light dinner. Sebab terlihat dari hiasan yang disiapkan berbeda dengan meja lainnya.


"Ada apa Dev ?" Dina mengerutkan keningnya, menatap pada Devan yang terus melihat keluar restauran itu.


Devan menggeleng melanjutkan makan malamnya.


"Sepertinya....sudah beres semua kok, termasuk belanjaanmu kemarin" ucap Dina sedikit tak yakin.


Devan diam tak merespon lagi.


"Van pernikahan temanku baru akan dilaksanakan besok malam" ucap Dina memberitahu.


"Lalu?"


"Pulanglah duluan.. aku akan disini sehari lagi"


"No.. aku melarang "


Apa hak kamu ngelarang . Dina melirik jengah.


Selalu saja kalah tidak mau berdebat dengan lelaki ini. Karena dia tau, ujung-ujungnya pasti dia juga yang harus menuruti apa kata Devan.


"Hhhhh... Ya sudah aku ikut pulg malam ini"


"Kecuali kalau kau mau bermalam denganku lagi" ucap Devan memberikan penawaran .


Dina tersentak, "aku sudah kenyang" lalu pergi meninggalkan Devan.


Pria itu menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal "Ah aku salah lagi... Padahal cuma bercanda"


"BABY...... Tunggu !!" Devan pun berlari mengejar Dina.

__ADS_1


Teriakan Devan sontak membuat pengunjung lain menoleh ke arahnya, tak terkecuali Rangga dan Sania.


"Itu kan Devan mas" kata Sania yang melihat Devan tertatih berlari- lari mengejar Dina.


"Iya... Biarkan saja" jawab singkat Rangga. Tak ingin rasanya siapapun mengganggu suasana keromantisan dia dan istrinya.



"Terima kasih ya mas untuk semuanya"


Ucap Sania.


Tangan Rangga terulur mengelus rambut panjang Sania. "Aku bahagia memilikimu"


"Aku juga mas, semoga kita selalu seperti ini" Sania memegang tangan Rangga yang sedang menyentuh kepalanya, diciumnya tangan sang suami.


Ya Tuhan.. aku tidak tega meninggalkannya.


Selesai menikmati makan malam romantis itu, mereka masih enggan untuk beranjak. Masih ingin menikmati pemandangan di langit luas, walau tubuh sebenarnya sudah lelah ingin segera merebahkan diri. Namun sepertinya tak dirasa oleh keduanya, mereka nampaknya sedang asik berbincang.


Ting..


Rangga meraih ponselnya di dalam saku celananya. "Jangan lupa untuk meminta izin dari istrimu ! Lusa kau berangkat nak". Isi pesan dari pak Wijaya.


Raut wajah Rangga seketika berubah, entah bagaimana harus di ungkapkan. Sedih, kesal, kecewa rasanya.


Dia mengemban tugas tangung jawab terhadap rumah sakit ayahnya. Ini juga cita- citanya dari dulu, menjadi dokter hebat berprestasi. Tapi dia tidak bisa membawa istrinya untuk ikut serta dia pergi. Rasanya momen ini tidak pas.


Hanya sebulan, ya.. memang hanya sebulan. Tapi dia baru saja menikah, bahkan belum berkesempatan untuk menikmati honeymoon. Di sisi lain, Sania baru saja merasa mendapatkan perlindungan dari sang suami terhadap mantan kekasihnya.


Tapi sekarang sang suami harus pergi meninggalkannya. Akan bagaimana nanti ketika mereka berpisah.


Pusing sendiri rasanya, ia sungguh tak rela meninggalkan Sania.


"Mas..." Panggil Sania yang sedang bersandar di bahu kiri suaminya.


"Hhmm" sahut Rangga , pandangannya menjelajah langit luas, serta hamparan air seperti sebuah danau dibawah sana.


"Mas"


"Hhmm.."


Hanya berdehem enggan menyahut lebih, tangan kirinya sibuk memainkan rambut Sania. Menggulungnya, mengelus, sesekali mencium rambut Sania.


"Mas... Sepertinya gerimis" kata Sania , merasa ada tetesan air mengenai pipinya.


"Cerah kok"


"Mas, mau hujan nih. Ayo masuk sekarang".


Sania bangkit dari sandarannya, menyentak tangan kanan Rangga yang sedari tadi di genggamnya.


"MAS... kamu nangis ?" Tanya Sania terkejut, mendapati ternyata tetesan air itu berasal dari mata suaminya.


Rangga tersenyum "ayo masuk sudah jam 9"

__ADS_1


Sania mengangguk, membiarkan suaminya untuk menenangkan hatinya dulu. Barulah nanti ia akan bertanya apa penyebab sang suami bersedih, disaat dirinya merasa suaminya itu selalu memberi kebahagiaan padanya.


__ADS_2